Senin, 28 Sep 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Cuntaka, Bukan Berarti Dilarang Sembahyang

09 September 2017, 20: 06: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

NYAMBUTIN: Upacara tiga bulanan atau nyambutin adalah upakara membuat si bayi tak lagi cuntaka.

NYAMBUTIN: Upacara tiga bulanan atau nyambutin adalah upakara membuat si bayi tak lagi cuntaka. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR -  Cuntaka adalah keadaan kotor secara jasmani maupun rohani yang dialami oleh seseorang akibat suatu peristiwa, seperti kematian anggota keluarga, kelahiran anak, menstruasi, dan sebagainya. Pada saat cuntaka, biasanya umat Hindu dilarang untuk memasuki pura atau tempat suci. Lalu bagaimana dengan pengucapan mantra atau sembahyang secara pribadi? 

Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata mengatakan, berdasarkan Catur Weda sesungguhnya tidak ada pantangan mengucapkan mantra, termasuk cuntaka. Contohnya perempuan sedang menstruasi adalah hal yang alamiah. Perempuan yang tidak menstruasi justru bisa mengalami penyakit. “Justru saat ia sedang menstruasi, sehabis mandi sebaiknya mengucapkan Omkara. Dengan pengucapan Omkara Tuhan akan menyucikan dirinya itu dan juga memberi kesembuhan bagi yang sakit,” jelasnya. 
Lebih lanjut dikatakannya, cuntaka berdasarkan pada kepercayaan tradisional Bali. Bagi yang melihat orang menstruasi, kematian, anak kecil, seolah-olah mereka tidak diperbolehkan untuk sembahyang. “Karena tidak mendapat penjelasan yang benar, mereka akhirnya mengikuti. Tapi, bagi orang-orang yang mengerti tidak ada pantangan untuk sembahyang,” ujarnya. Justru mantra itu, lanjutnya, yang akan menyucikan orang yang dikatakan cuntaka. 
Yang penting menurutnya adalah yang bersangkutan bisa fokus dan tidak merasa terganggu oleh hal yang dialami. Misalnya yang menstruasi tidak merasa terganggu dengan keadaan dirinya dan dengan ketulusan bersujud serta mengucapkan mantra Omkara atau mantra lainnya. “Karena kita meyakini Tuhan ada di dalam diri. Jadi kemana pemikiran kita? Apakah kita memuja Tuhan di luar diri atau di dalam diri kita?” ungkapnya. 
Sira Mpu menjelaskan bahwa seperti yang dikatakan Bhagawan Shri Satya Sai Baba, di zaman Kali ini kecenderungan manusia mencari Tuhan sangat jauh di luar dirinya, padahal Tuhan ada di dalam dirinya. “Makanya lebih baik perbanyak penyucian diri karena Tuhan berada dalam diri dalam wujud Atman. Inilah konteks Brahman Atman Aikyam. Sesungguhnya Brahman adalah Atman itu sendiri,” tandasnya. 

(bx/rin/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news