Rabu, 20 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features

Cacing Bisa Dijadikan Kapsul untuk Obat Tifus dan Maag

14 September 2017, 09: 05: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

CACING: I Made Sukarda saat penunjukkan cacing di tempat budidayanya.

CACING: I Made Sukarda saat penunjukkan cacing di tempat budidayanya. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Bagi sebagian besar orang, cacing merupakan binatang yang menjijikkan dan membuat geli. Namun di tangan seorang pria di Tabanan ini, cacing dibudidayakan menjadi suatu hal yang sangat bermanfaat, terutama bagi kesehatan. Dan tentunya menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Sudah puluhan tahun cacing menjadi teman setia keluarga yang satu ini. Mungkin, cacing merupakan salah satu binatang yang luput dari perhatian, lantaran banyak  orang yang tidak suka dengan cacing karena dianggap membuat geli atau jijik. Namun ditangan pria asal Banjar Biaung Kaja, Desa Biaung, Kecamatan Penebel, Tabanan ini, cacing menjadi binatang dengan harga jual tinggi dan banyak dicari oleh orang dengan cara dibudidayakan.

Dengan senang hati I Made Sukarda, 55, mengajak wartawan Koran ini menuju bangunan semi permanen yang ada dibelakang rumahnya. Dibangunan berukuran 8 x 20 meter ini lah pria pensiunan TNI tersebut  membudidayakan cacing jenis Lumbricus rubillus.

Ia menceritakan, budidaya cacing sudah ditekuni sejak tahun 2000, dimana saat itu Sukarda masih bertugas di Ajendam Udayana. Ketika itu ia bersama seorang temannya iseng mencoba budidaya cacing dalam bentuk koperasi. Namun sayang setelah lima tahun berjalan, koperasi terpaksa ditutup karena mengalami kerugian. “Meskipun koperasi kami tutup, kami tetap membudidayakan cacing dan bekerjasama dengan salah satu perusahaan di Jawa Timur. Disana cacing yang kami kirim dijadikan bahan baku pakan Benur (udang kecil,Red),” paparnya.

Hanya saja kerjasama itu tidak berjalan lancar, sehingga membuat ia memutuskan kerjasama tersebut dan memilikir mendirikan pabrik pakan Benur di Yeh Embang, Jembrana. Sialnya, bisnis itu kembali gagal, namun Sukarda tidak patah semangat dan memutuskan untuk membudidayakan cacing secara mandiri. “Akhirnya saya memutuskan budidaya cacing mandiri di rumah dengan memanfaatkan lahan yang ada,” imbuhnya.

Sejak saat itu, ayah dua anak ini kemudian menekuni budidaya cacing dirumahnya yang dibantu oleh sang istri. Bermodalkan tanah subur, jerami, batang pisang, serbuk kayu dan pupuk kandang, Sukarda kemudian mulai membuat media sebagai tempat perkembangbiakan cacing. Media tersebut kemudian ia tempatkan pada petak-petak kayu berukuran 50 x 60 sentimeter yang ia buat swadaya. Kemudian baru lah indukan cacing ia taburkan pada media tersebut untuk berkembang biak. “Dalam satu petak kayu berukuran 50 x 60 sentimeter itu saya tabur setengah kilogram bibit atau indukan lalu kita biarkan dia bertelur,” jelas Sukarda.

Setelah bertelur, pria yang terakhir berpangkat Peltu tersebut yang dibantu istri, Ni Nyoman Sutarmi, 54, dan anak keduanya I Kadek Budi Karmawan, 31, kemudian memindahkan telur cacing ke media untuk pemeliharaan hingga telur menetas dan cacing tumbuh. Panen pun bisa dilakukan tiga bulan dari sejak indukan di tebar pada media. Apalbila cuaca mendukung, dalam sekali panen Sukarda bisa mendapatkan 3 sampai 4 kilogram cacing per satu kilogram bibit, namun jika cuaca buruk dirinya hanya bisa mendapat 2 sampai 3 kilogram cacing per satu kilogram bibit. “Kalau cuaca dingin hasilnya tidak akan maksimal, kalau cuaca panas baru hasilnya maksimal,” tegasnya.

Menurutnya dipilihnya cacing jenis Lumbricus rubillus untuk dibudidayakan adalah karena cacing jenis tersebut lebih cepat berkembangbiak dibandingkan dengan cacing jenis biasa yang banyak ditemukan di tanah-tanah. “Kalau jenis Lumbricus rubillus empat hari sekali induknya sudah bertelur kalau musim subur. Sedangkan kalau cacing jenis biasa lebih lambat bertelurnya walaupun kandungan proteinnya sama,” sambungnya lagi.

Cacing sendiri merupakan binatang yang memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Salah satu pelanggan rutin Sukarda bahkan membuat kapsul dengan berbahan baku cacing yang berkasiat untuk menyembuhkan penyakit tifus dan maag. Meskipun belum dipasarkan secara luas, namun sudah banyak yang membuktikan jika obat yang diberi nama Kapsul Cacing tersebut ampuh untuk menyembuhkan tifus dan maag. I Made Sukarda, 54, menerangkan jika untuk pembuatan Kapsul Cacing tersebut tidak ia produksi sendiri, melainkan dibantu oleh temannya. “Jadi teman saya yang membuat jamunya kemudian dikemas dalam kapsul, dan dia mengambil cacing dari saya,” terangnya.

Adapun cara pembuatan kapsul cacing tersebut dimulai dari memblender cacing yang sudah bersih, kemudian menjemur cacing yang sudah halus hingga kering kemudian barulah dimasukkan ke dalam kapsul. Sukarda sendiri bersama keluarganya sudah biasa mengkonsumsi kapsul cacing tersebut dan terbukti ampuh. Seringkali juga ia merekomendasikan kapsul cacing tersebut kepada tetangga dan teman-temannya, namun sayang belum dipasarkan secara luas. “Sejauh ini hanya dari mulut ke mulut saja karena masih akan mengurus izin di BPOM dan memang agak sulit,” pungkasnya. 

(bx/ras/yes/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia