Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Setra Sapat Kerap Menebar Bau Tak Sedap

30 September 2017, 10: 02: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Setra Sapat Kerap Menebar Bau Tak Sedap

BERINGIN : Setra atau tempat yang diyakini angker, identik dengan pohon beringin besar, seperti juga ada di Setra Sapat. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Sepintas memang seperti kuburan pada umunya, yang juga identik dengan pohon beringin dan pule. Namun, kuburan yang terletak di Desa Sapat, Tegallalang, Gianyar ini, terbilang beda dengan kuburan kebanyakan.
Kuburan atau Setra Sapat , Gianyar, dibilang beda karena  adanya dua kuburan yang terdapat di pinggir jalan raya yang biasa dilewati pengendara menuju pusat Kecamatan Tegallalang dan Kintamani . Jadi, di satu desa pakraman terdapat tiga kuburan.
Salah satu tokoh Desa Sapat, I Made Dharma menyebutnya Setra Gandamayu. "Disebut Setra Gandamayu, karena kuburan terus berbau mayat," terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin di Gianyar. Dikatakannya,  sebelumnya kuburan tersebut, ada di dekat Pura Dalem. Seperti kuburan yang terdapat di desa lainnya, yakni tidak jauh dengan Pura Dalem dan Pura Mrajapati.  Lantaran dianggap ngeluanin pura ( di utara pura), lanjutnya, maka digeserlah setra ke daerah delod kauh (barat daya) Desa Sapat.  Dikarenakan tempat yang sempit dan di atas jurang, maka warga setempat menggunakan lahan tersebut dengan sebaik-baiknya. 
"Panglingsir kami  dahulu menjalin hubungan yang harmonis dengan saudara Tionghoa di lingkungan Tegallalang. Sehingga terdapat pula kuburan China di sebelah timur kuburan tersebut," imbuhnya. 
Di kawasan Setra Gandamayu memang terdapat tiga kuburan. Di Barat jalan merupakan kuburan yang khsus untuk kalangan sudra, di sebelah Timur untuk golongan  ksatria dan waisia. Sementara  di Timurnya adalah kuburan China, yang sampai saat ini masih digunakan. 
Dengan lahan kuburan yang termasuk kecil, masyarakat Desa Sapat menggelar upacara ngaben setiap tiga tahun sekali. Di mana dilakukan prosesi ngagah atau menggali tulang mayat yang dikubur untuk diupacarai kembali. Sedangkan kuburan China saat hari suci, sering ada kunjungan dari keluarganya untuk berziarah. Tentu hal itu dilakukan dengan berkordinasi terlebih dahulu dengan tokoh desa setempat. 
Di kawasan setra ini, tak ditampik kerap terjadi kejadian neh. "Selain sering mengeluarkan bau tak sedap, ada pula masyarakat yang tak berani lagi melewati setra karena adanya penampakan binatang yang muncul di jalan depan setra," jelas pria yang menjadi jero mangku tersebut. 
Dikatakan Jro Mangku Made Dharma,  bau yang muncul itu kadang kadang, tidak setiap hari.
Untuk kejadian aneh,  lanjutnya, sempat warga yang akan melintas  tidak berani karena adanya penampakan banyak ular di tengah jalan di antara kedua setra.  
Ia mengaku, semua cerita tersebut didapatkan langsung dari orang yang mengalaminya. Sehingga masyarakat yang akan melintas, pasti mohon izin lewat. Entah itu menghaturkan canang atau sekadar membunyikan klason kendaraan.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, lingkungan setra kini semakin ramai, menyusul dibangunnya art shop di dekat setra. "Dulu jangankan membangun, lewat pun berpikir jika melintas di sana," imbuh pria berusia 61 tersebut. Walaupun demikian, ketika membangun diberi jarak beberpa meter dari panyengker setra.
"Mereka yang tinggal dekat sana, sering mencium bau yang tak sedap," ujarnya. Sehingga setiap harinya mereka mengahaturkan canang, agar tidak diganggu oleh penunggu di sana. 
Ditanya terkait arti Gandamayu, Jro Mangku Made Dharma menjelaskan bahwa setra adalah tempat, ganda yang berarti mayat, dan mayu merupakan mayat. Sehingga, Setra Gandamayu yang terdapat di Desa Sapat, Tegallalang, Gianyar dapat diartikan sebagai tempat yang terus berbau mayat. 
Sementara itu,  Mangku Pura Mrajapati Setra Dapat yang enggan namanya dikorankan, 
mengatakan keberadaan setra negen jalan raya tersebut sudah ada sejak dia kecil. Sampai saat ini dirinya ngayah menjadi pemangku sebagai pengganti ayahnya yang tidak bisa melanjutkan ngayah, dikarenakan faktor usia. "Setra yang ada kuburan China tersebut, sudah ada sejak saya lahir," terangnya. Lantaran kini  ada krematorium, lanjutnya,  kuburan warga China tersebut hanya digunakan sebagai berziarah bagi umat Tionghoa. 
Di temui di tempat berbeda, pemeran penokohan Walu Nateng Dirah di setiap pementasan Calonarang, Ketut Budiarsana mengatakan Setra Gandamayu secara niskala wadah mati dan hidup. Dikarenakan bersthana Dewi Durga sebagai pelebur (mralina).   Ketut Budiarsana menambahkan, sebelum pentas Calonarang harus mohon izin dari Bhatari Durga agar diberi keselamatan dalam pentas. 
Terkait tempat belajar Desti,
lanjut pria  yang juga  guru sekolah dasar tersebut,  bahwa Setra Gandamayu merupakan pusat mencari anugerah. Sebab, segala jenis Ilmu Pangeliakan (Desti Angrwang Jana), harus dapat perjanjian dan anugerah dari Bhatari Durga. "Itu pun melalui perjanjian tertentu, dengan menghaturkan persembahan yang disepakati (masesangi)," imbuh pria yang juga pemangku tersebut. 
Sebab,  lanjutnya, dipercayai Bhatari Durga yang menentukan mana yang akan meninggal dan hidup. Hal ini, juga dikuatkan dengan adanya upacara nebusin di Pura Dalem dilanjutkan ke Pura Mrajapati. (putu agus adegrantika)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia