Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Di Sini Pura yang Ada Palinggih untuk Sunda, Kristen, Hindu dan Islam

01 Oktober 2017, 10: 41: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Di Sini Pura yang Ada Palinggih untuk Sunda, Kristen, Hindu dan Islam

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pura Negara Gambur Anglayang, di Kubutambahan memiliki beberapa palinggih yang melambangkan akulturasi. Makanya, banyak yang menyebutnya sebagai Pura Pancasila.

 

Bukan tanpa alasan jika keberadan Pura Negara Gambur Anglayang disebut
pura multikultur. Sebab, di sana terdapat beberapa palinggih dengna latar belakang etnik dan agamanya berbeda.

Mulai dari palinggih Ratu Bagus Sundawan dari unsur Suku Sunda, pelinggih Ratu Bagus Melayu dari unsur ras Melayu, Ratu Ayu Syahbandar dan Ratu Manik Mas yang menunjukkan unsur Cina atau Buddha. Kemudian ada palinggih Ratu Pasek, Dewi Sri dan Ratu Gede Siwa yang mencerminkan unsur Hindu. Yang paling unik
palinggih Ratu Gede Dalem Mekah yang memperlihatkan unsur Islam.

Nyarikan Pura Negara Gambur Anglayang, Nyoman Laken, 67, mengungkapkan palinggih Ratu Bagus Sundawan adalah untuk umat  Kristen.

“Palinggih Ratu Bagus Sundawan ini sering mepaica wastra geringsing. Setelah wastra dipergunakan biasanya ditaruh di sokasi, namun ajaibnya wastra tersebut hilang secara misterius. Namun saat mau piodalan dan dipergunakan, tiba-tiba saja wastra ada. Padahal itu disimpan di tempat yang tertutup di gedong penyimpenan,” katanya.

Anehnya, jika Beliau menghendaki, wastra-nya baru, tiba-tiba saja ada wastra baru, dan wastra lama wajib digantikan dengan yang baru untuk Palinggih Ratu
Bagus Sundawan. “Inilah uniknya,” beber Laken.

Sedangkan, lanjut Laken, kalau Palinggih Ratu Ayu Syahbandar adalah palinggih untuk umat melayu atau Cina. Menurutnya jika terjadi kerauhan atau nglingsenin, orang yang kerauhan akan berbicara bahasa Cina atau Melayu dan harus dicarikan penerjemah yang bisa bahasa Cina tersebut untuk mengartikan tatakrama penghulu kata-kata dari orang yang kerauhan tersebut. Ratu Agung Syahbandar merupakan penguasa pelabuhan atau perekonomian yang merupakan simbol atau atributnya adalah dalam wujud orang tinggi mengunakan topi dengan menjinjing tas (saudagar).

Namun yang paling menyita perhatian adalah yang malinggih di Palinggih Ratu Gede Dalem Mekah adalah Ratu Gede Dalem Mekah. “Palinggih Ratu Gede Dalem Mekah ditunjukan untuk umat yang beragama Islam,” katanya.

Banyak Umat Islam tangkil atau datang ke Pura Negara Gambur Anglayang dan palinggih Ratu Agung Dalem Mekah adalah tempat umat Islam untuk sembahyang. Bahkan dari Jawa langsung datang ke sini setelah mengaku
mendapatkan pawisik.

Keanehan lain yang terjadi di Pura Gambur Anglayang adalah keberadaan
bendera merah putih yang ada secara tiba-tiba. Bendera yang konon berukuran 100 x 120 cm itu menunjukkan keunikan bila dibandingkan dengan bendera pada umumnya. Yaitu sama sekali tidak Nampak jahitan yang menyambungkan warna hitam dan putih.

“Biasanya kan kalau bendera merah putih itu kedua kainnya dijarit, namun yang ini (bendera) tidak. Sama sekali tidak nampak jahitan. Seolah-olah disablon. Padahal tahun 1993 itu belum ada sablon,” ujar Laken.

Pura yang memiliki Tri Mandala dengan luas areal sekitar 24 are ini, pujawalinya diperingati setiap Wuku Buda Wage Kelawu dan nyejernya hingga 3 hari. Pamedek yang nangkil pun berasal dari berbagai agama, wilayah yang ada di Bali bahkan di luar pulau.

Nyoman Laken menegaskan jika Pura Negara Gambur Anglayang ini menyimbolkan kerukunan antar umat agama karena keberadaan palinggih yang beragam dari berbagai etnis dan agama. Dirinya berharap keberadaan pura ini dapat memberikan  teladan untuk generasi penerus bangsa dan tetap menjaga serta mengembangkan pura ini supaya generasi mendatang mengetahui peninggalan sejarah bentuk kerukunan antar umat beragama di Bali, khususnya di Kubutambahan. 

(bx/yes/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia