Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Pelayanan Santunan Penunggu Pasien di Badung Harus Cepat

07 Oktober 2017, 08: 02: 03 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pelayanan Santunan Penunggu Pasien di Badung Harus Cepat

ILUSTRASI (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Program bantuan sosial berupa santunan bagi penunggu pasien di Kabupaten Badung diapresiasi kalangan DPRD. Pasalnya, program santunan yang nilainya Rp 200 per hari dan maksimal Rp 5 juta tersebut dinilai meringankan beban masyarakat yang tertimpa musibah. Namun demikian, dewan menilai prosesnya perlu dipermudah. Bahkan bila perlu, dewan mengusulkan ada loket khusus pelayanan santunan tersebut.

Apresiasi disampaikan oleh Ketua Komisi I DPRD Badung, I Wayan Suyasa, Jumat (6/10). "Program santunan pasien yang digulirkan Bapak Bupati Badung ini patut diapresiasi. Karena santunan ini betul-betul sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang tidak bisa mencari nafkah selama menunggu anggota keluarganya yang sakit," katanya.

Namun demikian, Suyasa meminta agar teknis pengurusan dan pencairan santunan ini dipermudah. Bila perlu, ia bahkan berharap ada petugas atau loket khusus di RSUD Mangusada yang mengurusi masalah santunan penunggu pasien ini. "Kami berharap teknis pemberiannya dipermudah. Karena kan kasian mereka sudah mengurus anggota keluarganya sakit, kini harus disibukkan lagi ngurus santunan ke Pemkab. Bahkan kalau bisa buatkan loket khusus di rumah sakit. Begitu pasien dibolehkan pulang (dari opname), santunan bagi penunggu sudah bisa langsung cair," pintanya.

Di samping itu, politisi Partai Golkar asal Penarungan tersebut itu juga berharap kedepan besaran santunan penunggu pasien ini ditingkatkan seiring bertambahnya APBD Badung. Dengan demikian, masyarakat benar-banra merasakan manfaatnya.

Seperti diketahui, program santunan bagi penunggu pasien resmi diberlakukan di Kabupaten Badung per 18 Agustus 2017 berdasarkan Peraturan Bupati (Perbup) Badung Nomor 45 tahun 2017. Kabag Humas Setda Badung, Putu Ngurah Thomas Yuniarta belum lama ini menjelaskan, santunan penunggu pasien ini sifatnya tidak terus-menerus dan selektif. “Penunggu yang dimaksud adalah pihak keluarga dan lainnya yang menunggu rawat inap pasien. Ia adalah warga Badung yang ditunjuk oleh pasien yang dirawat di kamar kelas 3 di pusat pelayanan kesehatan masyarakat, dalam hal ini Puskesmas, RSUD Mangusda, RSUP Sanglah, termasuk rumah sakit rujukan. Jadi diutamakan suami pasien, istrinya, anak, orang tua atau bisa juga pihak lain yg dikuasakan,” terangnya.

Mengenai jumlah bansos, kata dia besarannya paling banyak Rp 5 juta dan hanya diberikan sekali selama setahun. Rinciannya berupa uang makan Rp 50 ribu per hari, uang transport Rp 50 per hari, dan uang saku Rp 100 per hari. “Jumlah per harinya Rp 200 ribu,” jelasnya.

Adapun yang perlu dilampirkan adalah E-KTP, Kartu Keluarga (KK) Badung, Kartu Badung Sehat (KBS), dan Surat Keterangan Rawat Inap. Jika penunggu tidak masuk dalam KK pasien, maka dilampirkan surat kuasa yang ditandatangani pasien. Sedangkan jika penunggu masih di bawah umur dan belum memiliki KTP, bisa digantikan dengan surat keterangan domisili dari perbekel setempat.

Setelah diajukan, berkas tersebut akan diverifikasi Bupati dan pejabat ditunjuk dalam hal ini Dinas Sosial. Jangka waktu pengajuannya adalah maksimal 30 hari setelah keluar dari rumah sakit. Program yang digulirkan Bupati Badung tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat Badung yang tertimpa musibah sakit. 

(bx/adi/aim/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia