Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Sadra: Kupu Kupu Kuning Gaib Isyaratkan Tak Ada Bencana Dahysat

09 Oktober 2017, 08: 30: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sadra: Kupu Kupu Kuning Gaib Isyaratkan Tak Ada Bencana Dahysat

TEROPONG: I Wayan Sadra, tokoh spiritual muda asal Lombok meneropong Gunung Agung Tak Akan membuat bencana dahsyat. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kisah mistis ribuan  kupu kupu kuning gaib berkaitan dengan Gunung Agung, Karangasem dengan Lombok, tak bisa dipisahkan. Sejarah ini diakui dan diyakini tokoh muda dari  Dusun Tambang Eleh, Jagaraga, Kuripan, Lombok Barat, I Wayan Sadra.

Baca juga: Semburan 1,5 Km dari Kawah Gunung Agung adalah Uap Air akibat Hujan

Pria yang mendalami ilmu kanuragan Geni Murti ini, sangat meyakini bahwa Gunung Agung tidak akan menimbulkan bencana dahsyat, sesuai dengan alur gerak armada gaib Kupu Kupu Kuning.

"Kalaupun Gunung Agung meletus, tidak akan timbulkan bencana karena arahnya akan lebih banyak menuju ke Timur, arah lautan," paparnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group)  dari kampungnya di Dusun Tambang Eleh, Jagaraga, Kuripan, Lombok Barat,  Minggu (8/10) .

Dikatakan pria yang membongkar akal-akalan tokoh Leak palsu ini , Kupu Kupu Kuning ada dalam babad Arya Kepakisan. Diceritakan, anaknya bernama Ayu Winiadi  diambil oleh Bhatara Gunung Agung dan punya anak Bhatara Alit Sakti.

"Bhatara Alit Sakti lah yang menguasai alam gaib di Gunung Agung ," beber pria kelahiran 22 Desember 1983.

Dan,  pada abad ke-16  dinasti Arya Kepakisan memperluas kekuasaan Sasak (Lombok ), diikuti jutaan Kupu Kupu Kuning gaib dari Gunung Agung untuk mengikuti anglurah Gede  Karang dinasti Arya Kepakisan  menyerang Lombok . "Sampai sekarang di Lombok berdiri  dan berkembang agama Tirta, dekat dan eret hubungannya dengan penguasa gaib Gunung Agung," katanya.

Berdasar  fenomena gaib ini,  I Wayan Sadra berkeyakinan Gunung Agung  tidak akan meletus separah yang diperkirakan. " Walaupun meletus, itu pun akan ke arah Timur,  dan di Timur Gunung Agung adalah laut Lombok , jadi yang akan kena  hanyalah laut, semoga lintasan sejarah ini benar adanya," ulasnya.

Selain itu, Wayan Sadra yakin akan keadilan Hyang Widi yang didukung ikatan leluhur yang erat berhubungan dengan gaib, yang juga erat hubungannya dengan sejarah yang sudah tersirat dan tersurat.

Apakah Kupu Kupu Kuning itu sudah terlihat atau hanya orang orang tertentu yang bisa melihatnya? " Fenomena itu adalah gaib, orang yang  bisa melihat itu pasti orang tertentu. Ada banyak oknum yang karauhan menyatakan Bhatara Gunung Agung akan medal dengan letusan dahsyat.  Itu terlalu dini kebenarannya, warga Bali tetap waspada adalah jalan terbaik," sarannya.

Wayan Sadra menduga, babad inilah yang akan diikuti tetkait peristiwa Gunung Agung. "Saya kira ini adalah cara Beliau mengembangkan umat beragama Tirta agar merata. Dengan peristiwa Gunung Agung  akan ada banyak warga yang ke Lombok mencari saudaranya yang sudah ada di Lombok pada zaman kerajaan atau pada tahun 1963, saat Gunung Agung erupsi.

Bagi Wayan Sadra, peristiwa  ini pertanda  kejayaan umat sedarma karena akan mulai berkembang saudara Karangasem ke seluruh pelosok Nusantara. "Saya tetap pada pendirian  bahwa semuanya akan aman," ujarnya.

Soal Kupu Kupu Kuning yang berusia ratusan tahun ini telah dituangkan dalam tarian di Desa Pakraman Dukuh Penaban, Kabupten Karangasem. Tarian  ini sarat  makna sejarah dan nilai spiritual. Konon setiap tarian ini dipentaskan di Pura Puseh, maka akan muncul kupu-kupu berwarna kuning dari langit timur pertanda Ida Betara Alit Sakti datang ke Pura Puseh.

Tarian Kupu-Kupu Kuning berkisah tentang sekelompok kupu-kupu berwarna kuning yang mengawal perjalanan prajurit raja Karangasem, ketika menyerang Kerajaan Selaparang, Lombok yang dipimpin I Gusti Anglurah Ketut Karangasem.

Bertepatan Anggara Umanis Perangbakat Saka 1614, pagi hari, prajurit raja Karangasem yang dipimpin I Gusti Anglurah Ketut Karangasem bersama Arya Kertawaksa beserta 40 prajurit kebal dari Desa Seraya, berangkat menggunakan empat buah perahu layar dari pesisir pantai Jasri. Dalam perjalanannya di tengah samudra selat Lombok, muncul ribuan Kupu-Kupu Kuning terbang bergelombang dari angkasa dan ikut menyebrangi lautan seolah olah menjadi penunjuk arah di tengah ganasnya gelombang Selat Lombok.

Kupu-Kupu Kuning tersebut merupakan anugerah dari Ida Bhatara Alit Sakti di Pura Bukit untuk mengiringi keberangkatan laskar Karangasem ke medan pertempuran.

Di mana setelah perahu-perahu tersebut berangkat, seketika daun-daun kayu Kepel yang berada di Pura Bukit berguguran dan menjelma menjadi Kupu-Kupu Kuning untuk mengiringi keberangkatan perahu tersebut. Konon kayu Kepel yang berdiri kokoh ini, merupakan tongkat milik Ibunda Bhatara Alit Sakti yang diceritakan juga dalam perjalanannya dari Puri Amlaraja menuju ke arah timur hingga sampailah di sebuah dataran tinggi yang kini disebut Pura Bukit.

Di Pura Bukit inilah tongkat tersebut ditancapkan dan dipercaya kayu tersebut adalah perwujudan dari tongkat beliau.

Tarian sakral yang ditarikan oleh 12 orang laki-laki dengan memakai pakaian serba kuning dan menggunakan senjata berupa keris ini, hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu , seperti saat piodalan di Pura Puseh setempat yang dilaksanakan setahun sekali pada saat Purnama Kapat. Pementasan tari Kupu-kupu Kuning tersebut diiringi dengan sebuah tabuh sejenis lelambatan yang saat ini nama tabuhnya belum diketahui pasti namanya.

Bila tarian ini tidak dipentaskan saat piodalan, maka akan ada warga yang secara otomatis menangis yang memohon agar tarian tersebut dipentaskan.

Berdasarkan lintasan sejarah dan power warisan leluhur tersebut, Wayan Sadra punya  keyakinan dalam diri pribadi bahwa bencana besar tak akan menimpa warga Karangasem akibat Gunung Agung. "Semoga diberkati ," pungkasnya.

(bx/rin/gus /yes/JPR)

 TOP