Rabu, 19 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Sangeh Tawarkan Rumah Berusia 250 Tahun, Gurami Nyat-nyat hingga Tuak

Jumat, 20 Oct 2017 08:46 | editor : I Putu Suyatra

Sangeh Tawarkan Rumah Berusia 250 Tahun, Gurami Nyat-nyat hingga Tuak

DUA SETENGAH ABAD: Inilah rumah berusia 250 tahun yang menjadi salah satu destinasi wisata baru di Badung utara. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SANGEH - Seiring menggeliatnya pariwisata di 'Gumi Keris', belakangan banyak bermunculan destinasi wisata baru. Baik yang terbentuk secara alami, maupun buatan manusia. Salah satunya adalah destinasi yang terdapat di Desa Sangeh, Abiansemal, Badung yang diberi nama Pondok Jaka.

Destinasi yang bertema rumah Bali kuno berusia 250 tahun tersebut baru dikelola sekitar satu tahun oleh komunitas desa setempat, khususnya pemuda dan pemudi yang kreatif.

Lokasi Pondok Jaka terletak di sebelah selatan Objek Wisata Sangeh. Destinasi ini bisa diakses dengan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Lokasinya sekitar 1 km ke arah barat dari Jalan Raya Abiansemal. Sementara di lokasi akan bisa ditemui rumah tradisional dengan konsep bale dangin, bale daja, bale dauh, dan paon (dapur). Terpajang pula alat-alat tradisional seperti lesung untuk menumbuk padi, alat-alat pertanian, hingga sepeda ontel.

Ida Bagus Alit Saskara yang tergabung dalam komunitas tersebut, Kamis (19/10) kemarin mengatakan, destinasi tersebut baru dikelola setahun belakangan. Namun rumah kuno yang ada di sana diperkirakan sudah berusia 250 tahun.

"Rumahnya sudah sekitar 250 tahun, tapi direnovasi baru setahun," ungkapnya.

Dikatakannya, rumah tersebut sebenarnya milik Nyoman Merta, salah satu warga setempat, tapi dikelola oleh muda-mudi yang tergabung dalam komunitas untuk memajukan desa. Rumah tersebut merupakan warisan turun temurun dari leluhur Nyoman Merta. Dindingnya masih berupa tanah dengan atap alang-alang.

"Ada beberapa bagian yang direnovasi karena sudah rusak, seperti atap dan beberapa bagian dinding dapur," jelas pria yang akrab disapa Gus Alit tersebut.

Mengapa disebut Pondok Jaka? Karena dikelilingi pohon aren yang dalam bahasa Bali disebut jaka.

Suasana desa yang masih asri dan jauh dari bisingnya suara kendaraan menambah kesan santai dan damai. Oleh karena itu, cocok dikunjungi untuk merefresh pikiran yang jenuh.

Di samping wisata edukasi terhadap rumah kuno, yang merupakan salah satu bagian budaya masyarakat Bali, terdapat pula wisata kuliner. Di samping itu, Pondok Jaka tersebut juga menjadi salah satu spot tracking, cickling, camping dan outbond, termasuk building team yang masih dirintisnya.

Mengenai pembiayaan, lanjut dia berasal dari komunitas, termasuk untung yang sudah masuk dari wisata kuliner yang menyajikan beberapa masakan khas Bali maupun nasional, seperti gurami nyat-nyat, ayam nyat-nyat, ayam bakar, ayam goreng, dan sebagainya. Tersedia pula minuman tradisional tuak manis yang menggugah selera untuk melepas dahaga.

Meski baru berjalan satu tahun, dikatakannya, wisatawan yang berkunjung, baik lokal, domestik, maupun mancanegara sudah cukup ramai. Gus Alit berharap, keberadaan destinasi tersebut dapat menunjang destinasi wisata Sangeh. "Jadi untuk lebih mengenal Sangeh bukan sebagai wisata religi dan kera atau monyet saja, tapi ada rumah tua, Taman Mumbul, ada kuliner juga," jelasnya.

Selain itu, Pondok Jaka yang buka tiap hari pukul 08.00 sampai pukul 17.00 tersebut juga bisa digunakan sebagai tempat foto preweding dengan biaya kisaran Rp 200 ribu, sudah termasuk properti. "Tapi intinya adalah wisata edukasi. Ada rumah kuno, dapur kuno, serta alat-alat rumah tangga yang juga tradisional. Jadi pengunjung bisa tahu rumah tradisional masyarakat Bali zaman dulu," tandasnya. 

(bx/adi/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia