Kamis, 22 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Balian Keturunan Tionghoa Jero Ling (2-Habis)

Sembuhkan Pasien, Kerap Ada Api Beterbangan di Atas Rumahnya

26 Oktober 2017, 08: 15: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sembuhkan Pasien, Kerap Ada Api Beterbangan di Atas Rumahnya

GILA: Sebelum jadi balian, Ni Wayan Wahyuni Arianti alias Jero Ling sempat mengalami gila sebagai tanda awal ia akan ngiring di Desa Penarungan, Mengwi, Badung Selasa (24/10). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, PENARUNGAN - Berbagai kejadian pernah dialami seorang sebelum menjadi balian. Itu terjadi dikarenakan tidak sengaja, atau bisa jadi datang secara tiba-tiba. Seorang sering mengabaikan hal itu, karena belum tahu akan mendapatkan tugas tersebut. Seperti yang dialami Ni Wayan Wahyuni Ariati, salah satu balian yang asli Desa Penarungan, Mengwi, Badung yang sering dipanggil Jero Ling.

Jero Ling mengaku sempat gila karena belum tahu ia akan ngiring. Sehingga ia mengabaikan pawisik yang didapatnya lewat mimpi. Yanti, nama panggilannya sebelum ngiring. Kini setelah ngiring dia dikenal dengan nama Jero Ling. Berawal dari salah satu orang yang mencari dirinya, hanya melalui faelling saja. Maka semenjak itu diberikan nama ia sebagai Jero Ling.

Sebelum ngiring menjadi balian, ia sendiri mengaku hanya menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak.

"Sekitar tahun 2004 lalu saya sudah punya 3 anak. Entah dari mana datangnya, saya mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Padahal sudah dibawa berobat kesana-kemari.  Selain sakit, saya juga sering kesurupan seperti orang gila. Itu pun suami dan keluarga yang membilangnya, karena pada kejadian tersebut saya tidak ingat apa-apa," ungkap Ling saat ditemui Selasa (24/10).

Jero Ling mengaku, dirinya langsung dibawa berobat ke setiap balian agar sembuh. Di samping itu, supaya tahu apa dari penyebab sakit yang dideritanya. Lama - kelamaan sekitar satu tahun lama prosesnya. Setelah berobat di banyak tempat, ada pernyataan balian yang mengatakan bahwa ia kasudi (ditunjuk) leluhurnya. Yang disarankan untuk ngiring menjadi balian. Tentu dari leluhurnya yang keturunan Tionghoa juga. Sejak itu ia menjalankan petunjuk dari alam niskala tersebut sampai sekarang.

Di rumahnya ia menyediakan sebuah gedong suci, persis bernuansa dari bangunan Tionghoa. Karena Jero Ling hanya menjalankan tugas dari leluhur untuk membantu semua umat. Selama ngiring, maka ia dianggap pingit (sakral). Dan ia lebih banyak menghabiskan watktunya di rumah saja, untuk mengobati pasien yang datang setiap waktu.

Disinggung terkait pengalaman, Ling mengaku sering dicari oleh makhluk yang perwujudan sangat besar saat malam tiba. Karena ia sebagai balian yang dianggap bias menyembuhkan penyakit dari dipeteng (alam kegelapan). "Tidak jarang juga saya ketika malam tiba, dicari sama orang yang sangat besar sekali. Bahkan api yang beterbangan di dekat rumah. Mungkin mereka menganggap saya sebagai penghalang dari ilmu yang disalahgunakan tersebut. Karena untuk menyakiti pasien yang  bisa sembuh setelah ke sini," terangnya.

Maka ketika dicari dengan makhluk yang gaib tersebut, Ling menjelaskan hanya berserah diri kepada leluhur yang menunjuk ia ngiring tersebut. Dengan cara berdoa di palinggih yang ada di rumahnya itu. Agar mereka yang mempunyai ilmu disalanggunakan tersebut, kembali sadar akan dirinya. Sehingga berhenti menyakiti orang lain.

 

Untuk menemukan rumah Jero Ling, hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit dari pusat Kota Denpasar. Menuju Lapangan Lumintang lurus ke utara sampai bertemu dengan Pasar Mambal. Di sana belok ke kiri menuju Desa Penarungan. Tepat pada lampu merah yang ada di perempatan Penarungan, lurus ke barat lagi sekitar 50 meter. Maka akan menemukan sebuah jalan aspal di kiri jalan menuju arah selatan, kemudian masuk ke jalan tersebut. Tepat  di kanan jalan, rumah nomor satu adalah rumah Jero Ling. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia