Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Meburuh Ngupas Kulit Kacang, Tak Sabar Pulang Jelang Galungan

30 Oktober 2017, 08: 39: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Meburuh Ngupas Kulit Kacang, Tak Sabar Pulang Jelang Galungan

ISI KEGIATAN: Para pengungsi di GOR Swecapura, Klungkung melakukan aktivitas meburuh ngupas kacang saat difoto beberapa waktu lalu. (AGUS YULIAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Lebih dari satu bulan telah berlalu sejak ditetapkannya status Gunung Agung menjadi Level IV (Awas) pada (22/10) lalu dan kemarin (29/10) akhirnya diturunkan ke Level III (Siaga), maka sebulan lebih pula warga KRB di Karangasem tinggal sementara di Posko GOR Swecapura, Klungkung. Ragam cerita mereka sampaikan, termasuk aktivitas yang mereka lakukan untuk mengisi waktu luang di pengungsian. Mulai dari mengupas kacang, hingga membuat canang untuk kebutuhan sehari-hari. Dan kini yang ada di benak mereka, kapan bisa pulang ke kampung halaman, terlebih sudah menjelang hari raya Galungan.

Pantauan di GOR Swecapura beberapa waktu lalu menunjukkan, atap-atap tenda yang masih berdiri tegak telah terlihat beberapa puluh meter dari GOR milik Pemkab Gianyar itu. Tak hanya deretan tenda, berbagai pakaian yang dijemur turut menghiasi setiap pengunjung yang hadir. Wajar saja, itu adalah hunian sementara bagi mereka para warga yang rumahnya tinggak di areal KRB Gunung Agung. Tak jarang mereka harus bersahabat dengan terik matahari dan hawa yang gerah di dalam tenda. Kalau keluar panas, kalau diam di dalam tenda justru lebih gerah, ya serba salah. Namun, semuanya terlihat menikmati keseharian mereka di Posko Pengungsian.

Beberapa warga ada yang sibuk dengan aktivitas mengupas kacang. Ni Nyoman Muliani misalnya, wanita asal Desa Muncan ini telah meburuh atau bekerja sebagai tanaga pengupas kacang sejak masih dirumahnya. Kebiasaan ini justru terbawa hingga di Pengungsian. Hal ini lantaran salah satu pengepul kacang yang telah dikupas turut melakukan pengungsian dilokasi yang sama. “Daripada tidak ada kegiatan, setiap hari bengong saja, lebih baik ini dikerjakan. Sehingga dengan beraktivitas, waktu terasa menjadi bisa lebih cepat berjalan,” ungkapnya.

Lebih lanjut kata Muliani mengatakan, untuk satu karung kacang yang mampu dikupas, upah yang dia terima pun sebesar Rp 25 ribu. Namun bukan upah yang utama, melainkan kebersamaan dalam menikmati apa yang ada sekarang. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa satu karung kacang yang hendak dikupas itu dikerjakan dengan banyak orang. “Ya hitung-hitung sambil cerita-cerita, dan melepas penat, juga bisa sambil bekerja,” tambahnya.

Lain halnya dengan Ketut Mande, pria yang juga berasal dari Desa Muncan ini memilih asik membuat kerajinan anyaman dari bambu dan dan pandan. Bahan baku tersebut ada yang digunakan sebagai besek, keben, dan beberapa jenis anyaman bambu lainya.

Selain itu, tak jarang juga pengungsi yang membuka usaha sebagai penjual canang dan sampian. Kegiatan ini dilakukan memanfaatkan momen hari raya Galungan yang sudah dekat, sehingga masyarakat sekitar membutuhkan sampian. Kegiatan ini seperti yang dilakukan Ni Made Rustini, yang mengaku akhir-akhir ini sering didatangi warga untuk diminta membuatkan sampian dan canang. “Karena keseharian juga membuat canang dan sampian dirumah, jadi disini ya tidak begitu sulit,” ungkapnya.

Terkait dengan bahan baku seperti halnya janur, Rustini mengaku langsung mendatangkanya dari ladang miliknya di Desa Muncan. “Aktivitas ini hanya dapat dilaksanakan pagi hari, karena sore menjelang malam sudah dilarang memasuki zona rawan bencana,” jelasnya. 

Hal lain justru diungkapkan, Ketut Sregep yang mengatakan bahwa keinginan untuk pulang saat hari raya masih didambakan. Namun, hingga kini pihaknya memasrahkan saja dengan arahan pemerintah. Kalau dikasi pulang ya pulang, kalau tidak ya kanggoang di sini aja sembahyang,” ungkapnya.

Namun, pihaknya masih berharap dapat melaksanakan Galungan dan Kuningan di kampung halamannya. Walaupun selama tinggal pengungsian, Pemkab Klungkung sebagai tuan rumah dia sebutkan telah memberikan pelayanan secara maksimal kepada mereka. “Namun, kalau hari raya rasanya sedikit berbeda,” ujarnya.

Dilain pihak, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali sebelumnya juga telah mengeluarkan menghimbau masyarakat yang sedang berada di pengungsian untuk tetap melaksanakan hari raya Galungan dengan sarana semampunya. Hal ini guna memberikan jaminan keamanan akibat adanya aktivitas dan kondisi tanggap bencana saat ini. Untuk pemujaan leluhur juga dihimbau untuk melaksanakanya di Pura Tri Khayangan terdekat. 

(bx/gus /yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia