Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Netralisir Aura Negatif, Arek-Arek Yangbatu Kauh Ngelawang

02 November 2017, 11: 20: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Netralisir Aura Negatif, Arek-Arek Yangbatu Kauh Ngelawang

HIBUR WARGA: Aksi sekaa ngelawang dari Komunitas Krikil Art Eka Dharma Swara, Banjar Yangbatu Kauh saat menyusuri rumah warga saat Galungan kemarin (1/11). (AGUS YULIAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Perayaan Hari Raya Galungan tak hanya dikemas dengan pelaksanaan persembahyangan saja. Beberapa masyarakat di Bali juga identik melaksanakan tradisi ngelawang di masing-masing wilayah desa. Salah satunya seperti yang dilaksanakan oleh arek-arek yang tergabung dalam Komunitas Krikil Art Eka Dharma Swara, Banjar Yangbatu Kauh, Denpasar, saat perayaan Galungan, Rabu (1/11) kemarin di lingkungan Banjar Yangbatu Kauh.

Kordinator Sekaa, I Ketut Rai Yusantara yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) disela pelaksanaan ngelawang menjelaskan, bahwa ngelawang merupakan salah satu tredisi yang telah mengakar rumput di masyarakat Bali. Pelaksanaan kegiatan ini dikemas dengan menarikan Barong Bangkung dan berkeliling desa dengan iringan gambelan bebatelan yang khas.

Lebih lanjut Rai mengatakan, bahwa jika dilihat dari namanyaa, ngelawang berasal dari kata lawang yang artinya pintu. Pengertian pintu disini dapat diartikan sebagai gerbang atau dari rumah yang satu ke rumah yang lainya dalam satu wilayah. “Adapun maksud dan tujuanya adalah untuk menetralisir aura negatif yang ada di dalam pekarangan atau perumahan masyarakat tersebut,” kata Rai.

Pihaknya menambahkan, dalam kemasannya tersebut, nantinya penari barong akan masuk ke dalam rumah-rumah warga. Dan warga yang didatangi akan memberikan canang serta sesari seikhlasnya sebagai ucapan terimakasih atas upaya menetralisir aura negatif yang berada di rumahnya. “Intinya adalah menetralisir aura negatif yang ada di desa dan perumahan warga,” jelasnya.

Selain itu, dengan pelaksanaan ngelawang, pihaknya mengaku dapat mempersatukan anak-anak yang sebelumnya disibukkan dengan rutinitas masing-masing. “Ya dengan adanya ngelawang rutin ini, mereka bisa berkumpul, saling bercerita. Karena kalau individualis sangat sulit, utamanya di Bali,” tandasnya,

Sementara, salah seorang penari barong, AA Dwik Alexander mengaku sangat senang dapat melestarikan tradisi leluhur. Selain dapat belajar tentang kebudayaan Bali, juga dapat berinteraksi dengan teman-teman. “Kamis senang bisa gradag-grudug yang positif, apalagi sekarang banyak yang hari raya justru minum-minum di jalanan, intinya kami bangga,” katanya sembari melanjutkan peranya sebagai penari. 

(bx/gus /wid/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia