Minggu, 26 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Cerita Pemangku Pemangku Ponjok Batu

Lihat Binatang Misterius, Mimpi Jadi Kenyataan

08 November 2017, 10: 39: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Lihat Binatang Misterius, Mimpi Jadi Kenyataan

BATU: Pemangku Pura Ponjok Batu, Jero Mangku Bagus Merpati menunjukkan areal palinggih yang ada di Pura Ponjok Batu, Desa Adat Bangkah, Tejakula, Singaraja. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TEJAKULA - Jero Mangku Bagus Merpati, salah satu pemangku yang menjadi pangayah di Pura Ponjok Batu, Desa Adat Bangkah, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Selain sering  muput suatu upacara, ia kerap mendapat pawisik lewat mimpi.

Jero Mangku Merpati mengaku kerap mimpi untuk malukat di sebuah panglukatan yang berada di jaba sisi Pura Ponjok Batu.  Ketika tempat itu didatangi, persis gambarannya seperti  yang ada di mimpinya. "Ini memang antara percaya atau tidak, karena dalam mimpi saya mulai dari akan malukat di pantai. Kemudian malukat di tirta yang bersumber dari air tawar, dan ketika akan melaksananak kegiatan di pura, juga sama persis," terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di jeroan Pura Ponjok Batu, Desa Adat Bangkah, Tejakula, Singaraja, pekan kemarin.

Hal itu diyakininya sebagai tuntunan, dari sasuhunan yang ada di sana. Karena tidak mau mengambil risiko,  ia pun langsung malukat. “Mungkin sudah dianggap kurang bersih. Makanya saya dapat mimpi seperti itu, yang menjadi kenyataan,”jelas  Mangku Merpati.

Disebut Tirta Campuhan, lanjutnya, dikarenakan pertemuan  antara dua sumber mata air, yaitu air laut dan air tawar. "Ini  berfungsi untuk membersihkan segala macam penyakit secara niskala, atau kekotoran yang ada dalam diri manusia," ujarnya.

Lantaran keyakinan fungsi secara niskala itu,  banyak umat datang pada saat rahinan tilem dan purnama. "Prosesi pertama dilaksanakan menghaturkan sebuah canang atau pajati dari pamedek di palinggih yang ada .  Kemudian malukat di pantai dengan cara berenang atau mandi. Setelah itu, baru malukat dari tirta air tawar yang ada di pinggir pantai tersebut," terang pria 65 tahun tersebut.

Soal penampakan gaib, diakuinya pernah dilihatnya. Tepat  ketika berada di sekitar tempat panglukatan terlihat rencang Ida Sasuhunan yang bersthana di Pura Ponjok Batu berupa seekor naga yang sangat besar. Bahkan ia juga mengaku sempat melihat seekor macan. Semua sosok misterius itu, diyakininya penjaga yang bertugas menjaga pura secara niskala.  "Biasanya rencangan tersebut muncul dikarenakan ada salah tindakan atau salah upakara yang dihaturkan  saat pujawali," terangnya.

Ia juga menjelaskan sempat pernah terjadi karauhan yang  dialami beberapa warga setempat saat pujawali. Dikarenakan ada kekeliruan dalam pemilihan salah satu tokoh adat  yang tidak menunggu petunjuk yang berasal dari Pura Ponjok Batu, berupa pawisik lewat mimpi, atau karauhan sesuai dresta setempat. Awalnya berjalan lancar, hingga  bejalan dua bulan kepengurusan.  Setelah itu, Mangku Merpati mendapati  ada warga karauhan dan ngerebeda bahwa ada kekeliruan. Maka saat itu, juga langsung diganti. “Tidak berani   melanggar hal itu, di masyarakat juga sepakat untuk memilih ulang,” paparnya.

Karena yang dipilih memang kasudi (ditunjuk) dari sasuhunan  yang ada di Pura Ponjok Batu. Ia pun mengaku tidak mau mengambil risiko. "  Karena pemilihan tokoh adat di sana berdasarkan petunjuk dari Pura Ponjok Batu," ungkapnya.

Pemangku lainnya,  Jero Mangku Budiada menambahkan, setiap masing-masing banjar  ada perwakilan yang ditunjuk untuk ngayah sebagai pemangku. "Jadi,   terdapat 30 pemangku sebagai pangayah di Pura Ponjok Batu,sehingga di pura ada pemangku 24 jam," urainya.

Setiap hari ada enam jero mangku yang mendapat giliran ngayah. "Tiga orang ngayah siang hari dan tiga lainnya sore hari," terang pria 70 tahun tersebut. 

(bx/ade/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia