Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ngereh, Ritual Magis Mohon Restu dari Tempat Pembakaran Mayat

13 November 2017, 09: 21: 43 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ngereh, Ritual Magis Mohon Restu dari Tempat Pembakaran Mayat

NGEREH : Prosesi Ngereh dilaksanakan untuk menghidupkan secara niskala sebuah Sasuhunan yang akan dilinggihkan di suatu pura. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Sasuhunan yang dimiliki  krama masing-masing desa di Bali ada berupa Barong, Rangda, dan tapakan lainnya. Namun, sebelum dilinggihkan pada suatu pura, harus ada beberapa prosesi yang harus dilewati, seperti Ngerehang.

Ngerehang merupakan upacara  wajib dilaksanakan jika akan membuat ulang atau memperbaiki sasuhunan. Seperti yang diungkapkan  Ida Ratu Peranda Gede Diksa Manuaba, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Griya Babakan, Desa Cau Belayu, Marga, Tabanan, pekan lalu. Ia menerangkan Ngereh sering dilakukan  di setra (kuburan) agar mendapat restu dari Dewa Banaspati Raja. Tetapi sebelum ngereh adalah nunas taru (mencari kayu tapakan), jika membuat ulang Sasuhunan.

"Yang pertama dilakukan, harus nunas taru di sebuah pura atau setra menggunakan sarana berupa pejati dan banten lainnya," urai pria asli Babakan, Marga ini. Nunas taru, lanjutnya, sering disebut dengan ngepel (mencari kayu tanpa memotong), yang diiringi oleh krama desa setempat. " Yang  mengerjakannya harus seorang undagi. Jika bisa harus seorang peranda. Namun jika tidak ada, cukup sang walaka (sebelum menjadi pedanda). Sedangkan saat nuasen (pengerjaan pertama kali) diwajibkan dari Ida Peranda," terangnya.

Sampai di pura,  ada namanya upacara nuasen yang bertujuan untuk memilih hari baik dan dilanjutkan mengawali pengerjaan prarai (tapakan)  berupa barong atau rangda. Jika sudah selesai, maka selanjutnya upacara ngodak, yakni renovasi Sasuhunan agar menjadi baru lagi penampilannya. Ketika sudah pas, dan sesuai ukuran prarai dengan badan suatau barong atau rangda, lantas dilakukan  ngaratep (memasang). Yaitu penyatuan prarai (wajah) dengan badan sasuhunan tersebut. "Jika semua itu sudah dilaksanakan, maka selanjutnya adalah prosesi ngereh yang  pelaksanaannya mengambil tempat di atas tanah pamuunan (tempat membakar mayat). Dikarenakan rambut Sasuhunan yang akan diupacarai harus terkena tanah pamuunan," ungkap Pedanda Diksa.

Banten yang digunakan dua soroh pragembal bebangkit. Bebangkit berwarna hitam satu, tebasan nawa sanga,  pangideran sebagai lambang Cakra Geni Dharma Wiku, dan tebasan sung-sung baru. Semuanya ditaruh pada sebuah tempat disebut dengan pepaga (tempat banten).

Ditegaskannya, dalam proses Ngerehang harus dilaksanakan pada malam hari. Tepat pada pukul 12 malam, agar mendapat panugerahan (kesaktian) dari Sang Hyang Baerawi dan Siwa Tangkara yang ada di setra. Di mana prarai yang merupakan lambang dari Siwa Tangkara, dan setra dikuasai oleh Sang Hyang Baerawi. "Ngereh yang dianggap berhasil, jika ada sebuah tanda-tanda muncul saat itu. Seperti sebuah api datang dari langit menuju Sasuhunan, yang menuju ubun-ubun dari prarai yang dihidupkan secara niskala di atas tanah pamuunan," terangnya.

Pedanda Diksa  mengaku, selama diminta untuk Ngerehan sasuhunan semuanya berjalan lancar. Dilaksanakan saat tengah malam,  lanjutnya, agar dalam keadaan sepi karena tujuannya supaya bisa menyatu. "Bawa gong juga tidak boleh. Ibaratkan menyatukan seorang suami istri  atau lanang wadon saat tengah malam," terang pria yang sudah 25 tahun menjadi pedanda tersebut.

Ia juga mengaku, sering ditinggal saat Ngerehang yang dilaksanakan di kuburan. Karena ada api yang beterbangan menuju tanah pamuunan. Sehingga membuat krama desa yang ikut Ngerehang berlari saking takutnya. "Krama saja yang lari, sedangkan saya sehabis muput di pamiosan tinggal," ungkap pria yang juga mantan undagi bade tersebut.

Setelah rampung, Sasuhunan berupa barong tersebut, di ambil cepat-cepat karena ketakutan. Dan, langsung dilinggihkan pada pura setempat, agar bisa diupacarai selanjutnya.

Dijelaskannya, tujuan dari Ngerehang  untuk memberikan urip (nyawa), kepada Sasuhunan, yakni sebuah benda yang akan disembah oleh warga. Baik sebagai penjaga dari desa setempat maupun untuk sebagai tapakan atau manifestasi dari Tuhan. Agar dapat dilhat dengan mata, dan disungsung bersama.  Soal ada gangguan yang berniat buruk, diakuinya.kerap ada, tapi semuanya teratasi. "Biasanya ada api datang, tapi bukan api yang sebagai Ngerehang tersebut," terang pria

yang dalam satu bulan bisa dua sampai tiga kali lunga (pergi), muput Ngerehang  tengah malam. 

(bx/ade/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia