Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ngerebong, Tradisi Khas Denpasar Sejak 1937

20 November 2017, 08: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ngerebong, Tradisi Khas Denpasar Sejak 1937

KASURUPAN: Para pengusung dan pepatih setelah upacara Nyanjan dan Nuwur biasanya trance (karauhan) dengan menusukkan keris ke tubuhnya atau menari tanpa sadar, seperti terlihat saat Pangerebongan, kemarin. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Suasana meriah Galungan dan Kuningan memang telah usai bagi sebagian besar masyarakat Hindu Bali. Namun, berbeda halnya dengan Desa Pakraman Kesiman. Karena semarak palaksanaan kemenangan Dharma melawan Adharma, ini masih terasa dengan adanya tradisi Ngerebong yang dilaksanakan seminggu, setelah Hari Raya Kuningan yakni bertepatan dengan Redite Paing Medangsia.

Walaupun hujan mengguyur kawasan kesiman sejak Minggu siang, tradisi Ngerebong tetap dilaksanakan. Hanya saja Ngider Bhuwana hanya dilaksanakan sekali untuk menghindari kerusakan pada Petapakan Ida Bhatara.

“Ngerebong adalah sebuah pangilen yang dilaksanakan di Pura Agung Petilan untuk menciptakan keseimbangan dunia,” ujar salah satu tokoh sekaligus budayawan Desa Kesiman, I Gede Anom Ranuara yang di wawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) saat ritual  Ngerebong di Pura Agung Petilan, Mingu (20/11) kemarin. 

Lebih lanjut dijelaskannya, tradisi ini sudah dipatenkan sejak tahun 1937, namun telah dilaksanakan dengan kapasitas yang lebih kecil di area Kerajaan atau Puri Kesiman. Ada beberapa rangkaian yang wajib dilaksanakan sehubungan dengan Ngerebong. Uakni Ngerebek yang dilaksanakan pada Umanis Galungan, dilanjutkan dengan Pamendakan Agung pada Paing Kuningan, dan terakhir adalah Ngerebong.

Tradisi ini melibatkan semua Mangku Pepatih yang merupakan wilayah Desa Kesiman terdahulu. Dahulu diyakini Puri Kesiman memiliki wilayah yang sangat luas, hingga ke Desa Sanur dan Pemogan. “Jadi, yang tangkil ke Pura Agung Petilan saat pelaksanaan pangerebongan adalah Sesuhunan yang merupakan warih Puri Kesiman,” tutur Anom Ranuara.

Pihaknya sendiri tidak dapat memprediksi berapa jumlah pepatih yang mengikuti prosesi ini. Jika ditafsir lebih dari seratus orang yang bergerak mengelilingi wantilan. Sedangkan di waktu yang sama dilaksanakan Tabuh Rah di Wantilan Pura, yang disaksikan langsung oleh Jro Mangku Pura Dalem, Jro Mangku Pura Desa, dan Patih Cakra Ninggrat yang berdiri di Pamedalan Agung.

Sejak Minggu pagi, para pamedek terlihat datang silih berganti untuk melaksanakan persembahyangan. Warga Desa Kesiman sangat antusias menyambut datangnya tradisi ini, bahkan tak jarang banyak yang mengatakan ini adalah Galungan ala Kesiman, karena Galungan pada umumnya tidak semeriah saat pelaksanaan Ngerebong.

Dalam pelaksanaan Ngerebong, yang unik adalah Keris, Ngurek dan Penjor yang megah. Dalam tradisi ini, sejumlah pamedek trance (kasurupan) dengan menusukkan keris ke tubuhnya. Bahkan ada yang menusukkan di bagian matanya.

Berdasarkan buku hasil penelitian Sejarah Pura yang dilakukan IHD (kini Unhi) Denpasar tahun 1979, upacara Pangerebongan tergolong upacara bhuta yadnya atau pacaruan. Sehingga, upacara Pangerebongan itu bertujuan untuk mengingatkan umat Hindu melalui media ritual sakral untuk memelihara keharmonisan hubungan antarmanusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan sesama umat manusia  dan dengan alam lingkungannya.

Prosesi upacara Pangerebongan dilakukan Redite Pon Medangsia sejak pagi, dan  dilakukan upacara tabuh rah. Tujuannya untuk membangkitkan guna rajah untuk di-somia atau diharmoniskan agar patuh dengan arahan guna sattwam. Dengan demikian guna rajah menjadi bersifat positif, memberi semangat untuk kuat menghadapi berbagai gejolak kehidupan. 

Selanjutnya para manca dan prasanak pengerob Pura Petilan di Kesiman dengan pelawatan berupa Barong dan Rangda semuanya diusung ke Pura Petilan untuk mengikuti upacara Pangerebongan. Sebelum ke Pura Petilan didahului dengan upacara panyucian di Pura Musen di sebelah timur Pura Petilan di pinggir barat Sungai Ayung. Selanjutnya, setelah kembali ke pura barulah upacara Pangerebongan dimulai. 

Diawali dengan upacara Nyanjan dan Nuwur. Tujuan upacara ini untuk memohon kekuatan suci Bhatara-Bhatari agar turun melalui pradasar-nya dari para umat dari para manca dan prasanak pangerob. Umumnya para pengusung rangda dan pepatihnya setelah dilakukan upacara Nyanjan dan Nuwur itu dalam keadaan trance (karauhan).  Selanjutnya semua pelawatan Barong dan Rangda serta para pepatih yang trance itu keluar dari Kori Agung, terus mengelilingi wantilan dengan cara prasawia tiga kali.

Mengelilingi dengan cara prasawia itu adalah para pelawatan Barong Rangda dan pepatihnya bergerak dari timur ke utara, ke barat, ke selatan dan kembali ke timur. Terus demikian sampai tiga putaran. 

Saat melakukan prasawia itu, para pepatih melakukan ngunying atau yang dipakai ngurek itu keris tajam yang sungguhan, dada para pepatih itu tak sedikit pun terluka. Kalau sudah acara prasawia ini selesai semuanya kembali ke Gedong Agung dengan upacara Pengeluwuran. Mereka yang trance kembali seperti semula.

Setelah upacara Pangeluwuran itu, maka dilanjutkan dengan upacara Maider Bhuwana Bhatara-Bhatari para Manca dan Prasanak Pangerob dengan semua pengiringnya kembali mengelilingi wantilan tiga kali dengan cara Pradaksina. Mengelilingi dengan cara Pradaksina berlawanan dengan cara Prasawia tadi. Selanjutnya upacara mengelilingi wantilan dengan cara Pradaksina atau mengikuti arah jarum jam.

Pradaksina ini dilakukan tiga kali sebagai simbol pendakian hidup dari Bhur Loka menuju Bhuwah Loka dan yang tertinggi menuju Swah Loka, yaitu alam kedewatan. Karena itulah upacara ini disebut upacara Maider Bhuwana mengelilingi alam semesta. Setelah selesai mengelilingi wantilan dengan Pradaksina semuanya kembali ke Jeroan Pura. Adanya prosesi Prasawia dan Pradaksina dalam upacara Pengerebongan di Pura Petilan Kesiman ini sangat menarik untuk dipahami makna filosofinya. Prosesi Prasawia bermakna untuk meredam aspek Asuri Sampad atau kecenderungan keraksasaan, sedangkan Pradaksina sebagai simbol untuk menguatkan Dewi Sampad, yaitu kecenderungan sifat-sifat kedewaan. Kalau kecenderungan keraksasaan (Asuri Sampad) berada di bawah kekuasaan Dewi Sampad, maka manusia akan menampilkan perilaku yang baik dan benar dalam kehidupan kesehariannya. 

“Ya seharusnya ngider bhuwana tiga kali, tapi karena hujan hanya dilaksanakan sekali saja, dan biasanya itu sudah dimohonkan oleh para pemangku terkait,” paparnya.

Mangku Pura Kahyangan Bajangan Kesiman, Made Karda, mengatakan Ngerebong merupakan tradisi krama Desa Adat Kesiman yang dilakukan setiap enam bulan sekali tepatnya di redite medangsia. Saat ngerebong ini, yang lunga (datang, Red), yakni pralingga-pralingga yang ada di pura-pura di Desa Pakraman, Kesiman, dan ada juga dari Br. Singgi, Sanur, serta juga kadang-kadang dari Sawangan, Bualu, Nusa Dua.

‘’Saat ngerebong yang paling pokok yaitu upacara maider bhuwana sebanyak tiga kali ke arah kiri (balik arah), namun karena hujan maider bhuwana hanya dilakukan sekali saat ini. Maider bhuwana ini untuk mensucikan jagat atau ngerebu gumi (membersihkan tanah atau pertiwi),’’ tandasnya

Sementara, Ketua DPRD Kota Denpasar yang juga berasal dari Kesiman, I Gusti Ngurah Gede, SH, menjelaskan, Pura Agung Petilan dan tradisi Ngerebong telah menjadi warisan budaya yang dilirik oleh UNESCO. Pihaknya juga berharap Pemerintah Kota Denpasar yang menggaungkan program City Tour menyertakan Pura Agung Petilan ini di dalamnya. Karena hingga kini City Tour hanya sebatas di pusat kota saja.

“Perlu dikembangkan karena Ngerebong juga merupakan tradisi khas Kota Denpasar yang sangat unik dan perlu mendapatkan perhatian serius,” tandasnya. 

(bx/gus /bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia