Jumat, 16 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Dalem Segara Madhu, Jagaraga (2-Habis)

Belum Pernah Lihat, tapi Bisa Bikin Relief Mobil dan Pesawat

Minggu, 26 Nov 2017 16:05 | editor : I Putu Suyatra

Belum Pernah Lihat, tapi Bisa Bikin Relief Mobil dan Pesawat

RELIEF PESAWAT: Ketut Suradnya menunjukkan relief pesawat di Pura Segara Madhu, Desa Jagaraga, Sawan, Buleleng, padahal pembuatnya tak pernah melihat pesawat. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SAWAN - Kekalahan dari pasukan Bali yang dipimpin Patih Gusti Ketut Jelantik yang menggunakan Pura Dalem Segara Madhu, Desa Suka Pura (kini Jagaraga, Red) Sawan, Buleleng sebagai benteng membuat Belanda penasaran. Makanya, Belanda kembali melakukan penyerangan dengan jumlah kekuatan yang lebih besar.

Saat perang pertama, Belanda merasa terjebak dalam situasi tidak siap menghadapi sistem perbentengan Patih Jelantik yang dikenal denga Supit Urang. Sehingga Belanda harus berhati-hati menyusun strategi secara matang sebelum melakukan serangan ke benteng Jagaraga.

Setelah diketahui secara pasti dan diperhitungkan secara matang, tahun 1849 benteng Jagaraga diserang kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Dalam pertempuran yang sengit pasukan Bali tidak dapat menghalau pasukan musuh bahkan mereka terdesak dan meninggalkan benteng-bentengnya pada hari itu juga. Pasukan Bali mengalami kekalahan dan benteng-benteng tersebut jatuh ke tangan Belanda

“Nah kan bisa dilihat beberapa relief orang Belanda naik mobil lengkap dengan atribut bendera Belanda, naik sepeda, boat, kapal terbang, semua itu mencerminkan bahwa Belanda menyerang Desa Jagaraga untuk kedua kalinya dari segala arah,” kata Ketut Suradnya, 67 atau Ketut Su, salah satu warga Desa Jagaraga yang paham tentang sejarah dan seluk beluk Pura Dalem Segara Madhu.

Pasca serangan kedua Belanda yang mengakibatkan rakyat Buleleng mengalami kekalahan, akhirnya pura dihancurkan oleh Belanda. Akan tetapi, masyarakat masih berusaha membangun kembali pura dengan mengerahkan penduduk dari berbagai desa termasuk para undagi. Maka pada tahun 1865 pura pun berhasil dibangun kembali dengan nama Pura Dalem Segara Madhu yang mengandung filosofi gelombang kehidupan.

Menurut cerita Ketut Su yang ia dapatkan dari penuturan para leluhurnya terdahulu, konon jika dipilihnya Pura Dalem Segara Madhu ini sebagai benteng pertahanan karena Pura Dalem ini dianggap memberikan perlindungan secara menyeluruh khususnya bagi tokoh-tokoh perang. Di sisi lain, para pasukan yang dipimpin oleh Patih Gusti Ketut Jelantik bersama istrinya Jero Jempiring mempasupati senjatanya untuk dimohonkan kepada Dewa Siwa agar senjatanya menjadi bertuah dan bisa memenangkan peperangan.

“Inilah yang membuat Patih Gusti Ketut Jelantik bersama istrinya Jero Jempiring dan tokoh lainnya menggunakan Pura Dalem Segara Madhu sebagai benteng pertahanan. Kemudian nama Jagaraga diambil dari istilah jaga raga yang memiliki arti ‘menjaga diri’ dalam konteks ini merupakan istilah yang sering digunakan masyarakat dahulu pada saat perang berlangsung,” katanya.

Menurut pengakuan Ketut Su, arsitektur Pura Segara Madhu masih bergaya lama, yaitu mengikuti gaya awal ketika pura direnovasi kali pertama pada tahun 1865 M pasca dibuminghuskan Belanda pada saat perang yang terjadi pada tahun 1846-1849.

Yang menarik adalah relief mobil, motor, dan pesawat yang terdapat di penyengker pura. Berdasarkan penuturan secara turun temurun, jika leluhur yang membuat relief tersebut sama sekali belum pernah melihat mobil, motor maupun pesawat. Namun dirinya meyakini jika leluhur terdahulu memiliki kekuatan imajinasi yang kuat untuk memikirkan masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

“Menurut cerita orang tua, relief ini dibuat sebelum nenek moyang kita pernah melihat mobil apalagi kapal terbang. Dengan demikian hal ini mencerminkan bahwa nenek moyang kita sangat hebat, memiliki imajinasi yang sangat tinggi, sehingga menuangkan ke dalam relief yang sangat indah seperti yang kita lihat sekarang ini,” beber Ketut Su.

Ketut Su pun harus bersiasat jika ada wisatawan asing yang datang dirinya harus sedikit mengolah cerita karena takut tamunya komplain.”Seperti contoh relief mobil yang disebut mobil model Ford “T” buatan Amerika diproduksi pertama pada tahun 1906. Kalau kita kukuh mengatakan jika relief ini dibuat tahun 1865 kan itu tidak mungkin, tamu bisa komplain. Namun kita sebagai orang Bali paham jika penekun spiritual masa lalu memiliki kemampuan 3 dimensi waktu yaitu masa lalu, sekarang dan masa akan datang,” ujarnya.

Kondisi yang sekarang, Pura dibagi menjadi dua halaman. Halaman pertama yaitu jaba tengah dengan gapura kurung di depannya. Halaman ini terdiri atas dua bangunan yaitu Bale Paruman dan Bale Gong. Halaman paling dalam yaitu Jeroan yang terdiri atas banguan Bale Pegat, Bale Pelig, Gedong Dalem, Padmasana, Gedong Prajapati, Sapta petala dan Bale Piasan.

Relief yang paling menonjol memperlihatkan bentuk rangda dan muka rangda di setiap sisi gapura dan bangunan di gedong. Relief ini menunjukkan bahwa pemujaan terhadap Dewi Durga (prajapati) lebih ditonjolkan dibandingkan lainnya. Pada bagian depan gapura depan terdapat juga arca Men Brayut dan Pan Brayut yang menyimbulkan kesuburan

“Biasanya setiap pura semakin ke dalam posisi arelanya semakin meninggi. Namun di pura ini berbeda, justru semakin ke dalam posisi tanahnya semakin rendah. Ini secara filosofis menyimbolkan bahwa kita harus melakukan introspeksi diri ke dalam atau nyiksik bulu atau juga mulat sarira,” tutupnya. (*/habis)

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia