Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Nyeda Raga, Matikan Segala Sifat Negatif

30 November 2017, 10: 49: 40 WIB | editor : I Putu Suyatra

Nyeda Raga, Matikan Segala Sifat Negatif

NYEDA RAGA: Prosesi upacara Nyeda Raga, persis seperti upacara orang yang meninggal, sebelum diupacarai lebih lanjut menjadi seorang pendeta. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Setiap orang yang akan menjadi pendeta, harus melewati  prosesi Madiksa, yaitu Nyeda Raga. Nyeda atau Seda yang berarti mati, sedangkan Raga adalah tubuh manusia. Jadi, orang tersebut harus mati dulu badan kasarnya.

Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari mengatakan ada beberapa syarat yang harus dilengkapi sebelum Madiksa menjadi pendeta, yakni menguasai dan mendalami pendidikan agama.

“Sebelum madiksa harus ada spiritualitas tinggi. Di samping itu, juga pemahaman agama seharusnya sudah matang. Paling tidak panca yama dan panca nyama brata, itu sudah dimiliki,” ungkap mantan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Jalan Danau Beratan, Sanur, Denpasar, pekan kemarin.

Selain hal itu, lanjutnya,  harus ada sesana yang dimiliki. “Kalau hal tersebut belum dipahami dengan baik oleh orang yang akan madiksa, orang tersebut belum siap untuk menjadi pendeta. Dikarenakan nyeda raga merupakan  mematikan segala kepapaan seseorang,” ujar Pedanda Gede Wayahan Wanasari.

Kenapa hal yang negatif dimatikan? “Pada diri manusia juga ada rwa bhineda (baik dan buruk). Seperti alam yang ada siang dan malam, hitam maupun putih,” urainya. 

Diakuinya sangat sulit menghilangkan sifat rwa bhineda tersebut karena selalu berdampingan. “Mampu atau tidak menghilangkan hal yang tidak baik itu, harus  bisa. Minimal orang tersebut mampu menekannya, seperti konsep dari Matatah,” terang mantan Ketua Yayasan Dwijendra tersebut. Di mana dalam porses matatah yang dipotong adalah gigi yang ada pada bagian atas. “Yang terpenting lagi adalah dua buah taring, karena yang mempunyai taring pada umumnya adalah seekor binatang. Nah, kaitannya dengan Nyeda Raga dengan matatah adalah mengilangkan sifat-sifat kebinatangan tersebut,” ulasnya.

Di samping itu, Pedanda Wayahan juga mengungkapkan kenapa mesti gigi yang di atas, dikarenakan gigi tersebut yang  menekan gigi yang ada di bawahnya. 

Ia menegaskan bahwa Nyeda Raga bukanlah raganya yang dibunuh, tetapi sifat-sifat yang terdapat pada diri seseorang yang terdiri atas Tri Kaya Parisudha agar tidak menjadi Tri Mala Paksa.  Tri Mala Paksa berarti pikiran yang kotor, perkataan yang kotor, dan tindakan yang kotor. Bila ada seorang yang  sudah madiksa, dan membawa sifat Tri Mala Paksa itu kembali, lanjutnya,  berarti proses dalam Nyeda Raga belum terlaksana maksimal. 

“Nyeda Raga dilakukan seperti datang sebuah kehidupan yang baru dengan lahir kembali. Artinya, apa yang ada pada seseorang sebelumnya, mampu ia introspeksi diri selama Nyeda Raga tersebut. Mampu menginplementasikan yang baik harus dipelihara untuk masa yang akan datang. Yang tidak baik harus dikubur dan dimatikan,” urainya. Setelah itu, lanjutnya,  ia hidup kembali, kemudian menjadi seorang sulingih atau pendeta yang  disebut dengan orang suci.

Ditambahkannya, terkait Patanjali Raja Yoga,  yakni terdapat empat hal yang harus diikuti, terdiri atas Wikasipta, Wimuda, Eka Greha Eka Kerta, dan Wimukta.

Yang pertama Wiskapita adalah sifat seseorang yang sama seperti rare  (anak kecil) dan terus ingin tahu. Ketika sudah menjadi pendeta, lanjutnya, masih memiliki niat ingin tahu  yang berarti masih melekat sifat rare tersebut. Kedua adalah Wimuda, layaknya seorang anak muda, nyapa kadi aku (aku adalah segalanya). “Ketika menjadi pendeta, jangan lagi membawa  sifat seperti tersebut,” terangnya.

Selanjutnya Eka Graha Eka Kerta, yakni dapat memilih mana hal yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan yang terakhir adalah Wimukta, yakni merunduk seperti padi.

“Nah yang terakhir ini contohnya ketika disuruh muput, baru kita muput. Ketika ada yang ke gria bertanya, baru kita berbicara. Karena tugas pokok seorang sulinggih atau pendeta adalah nyurya sewana dan ngarga tirta, yaitu memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dunia ini, aman, tentram, dan damai secara sekala dan niskala,” imbuhnya.  

Selain hal itu, ia katakan Nyeda Raga adalah meluhurkan diri agar prilaku, etika, dan tata krama menjadi lebih baik. Tentunya harus menentukan seorang nabe yang selalu menuntun terlebih dulu. Karena ia sendiri mengatakan sebelum menjadi seorang pendeta sudah harus penuh dengan ilmu. Sehingga ketika menjadi seorang pendeta,  tidak ke sana ke mari mecari ilmu dan nabe lagi.

Soal tata cara Nyeda Raga, lanjutnya, setiap nabe memiliki cara tersendiri. Seperti dijalaninya mulai melaksanakan prosesi Nyeda Raga dari sore hari. “Diawali dari mabersih, nyekeb, nyekung, masiram,  kemudian baru amati raga. Hanya dilaksnakan di rumah saja, karena inti dari Nyeda Raga adalah mematikan sifat-sifat negatif agar bisa melahirkan sifat-sifat yang positif. Itulah kunci dari prosesi Nyeda Raga tersebut,” papar pria 66 tahun tersebut. 

Nyeda Raga yang dijalaninya hanya berlangsung semalam saja, sekitar 12 jam, dan dari awal prosesi upacaranya sampai terakhir ditapak oleh sang nabe. Setelah itu, baru disebut dengan pendeta, bahkan masih ada prosesinya lagi, tergantung dari masing-masing perguruan, atau masing-masing nabe.  

“Masih ada proses sekitar tiga kali upacara lagi, seperti  ngalinggihan weda, mapuja di merajan, dan ngamulang lingga. Kemudian yang terakhir adalah madharma yatra, yang dilakukan setelah proses madiksa selesai atau dalam proses ngalinggihan weda tersebut. Namun, semuanya tetap  tergantung arahan sang nabe masing-masing,” bebernya. 

Di tempat terpisah, Wakil Ketua PHDI Bali, Drs. Ketut Pasek Swastika mengatakan, terdapat beberapa syarat yang memang harus dilengkapi oleh calon diksa. Di antaranya  umurnya sudah mencukupi, kesiapan diri sendiri dan juga kesiapan dari istri. Di samping itu, juga kesiapan dari keluarga yang bersangkutan. Dan, yang paling terpenting didukung oleh Desa Pakraman. 

“Pada umumnya kan harus lengkap administrasi agar ada bukti yang tertulis. Sehat lahir bhatin dengan melampirkan surat keterangan kesehatan dari dokter. Kesiapan nabe, dan mempunyai tempat tinggal sendiri (rumah tetap),” papar pria asli Jembrana tersebut. Ditanya terkait pantangan, Pasek Swastika mengatakan semua itu tergantung pada nabe. Tetapi ia pertegas, bahwa tidak boleh menikah kembali sebelum maupun sesudah melakukkan upacara diksa tersebut. 

(bx/ade/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia