Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Mirip Layon, Matatah Pantang Tutup Mata, Ini Alasannya

05 Desember 2017, 10: 00: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mirip Layon, Matatah Pantang Tutup Mata, Ini Alasannya

MATA : Ritual Matatah (Potong Gigi) mirip dengan prosesi orang meninggal. Lantaran itu, orang yang melaksanakan potong gigi pantang menutup matanya. (EKA SANJAYA FOR BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Beragam upacara bertujuan untuk menghilangkan dan membersihkan  sifat buruk dilaksanakan umat Hindu, mulai dari Malukat hingga Potong Gigi atau Matatah. Namun, khusus untuk Matatah ini prosesnya beda. 

Matatah prosesinya ada kemiripan dengan  orang yang sudah meniggal. Bahkan, pelaksanaan juga dengan cara tidur atau dibaringkan di bale dangin yang jadi tempat upacara.

"Agar tidak sama persis seperti orang yang  meninggal,  orang yang mengikuti upacara Matatah tidak diperbolehkan  menutup mata selama potong gigi berlangsung,” papar Sangging, Ida Bagus Gede Searsa Tana ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya, Desa Kelusa, Payangan, Gianyar, pekan kemarin .


Dijelaskannya, tidak boleh menutup mata karena  orang yang melakukan potong gigi dianggap sebagai mati suri. Dikarenakan rerajahannya juga seperti orang yang telah meninggal dunia. Dan, sangat riskan sekali diganggu oleh orang yang mempunyai ilmu aji ugig.


“Ketika prosesi itu berlangsung, dari kidung dan prosesinya sama persis seperti orang yang telah meninggal dunia. Tetapi yang membedakan hanya dipotong giginya saja dalam keadaan sadar, mata juga harus terbuka. 


Jika tertutup, seolah-olah seperti mayat dan akan gampang dicari oleh orang yang memiliki niat buruk. Terlebih yang mempunyai ilmu aji ugig,” tandasnya. 
Pria yang akrab dipanggil Gus Searsa ini, juga mengungkapkan, terdapat beberapa bahan yang harus digunakan saat potong gigi. Mulai dari madu, mutik, kikir,bungkak, dadap, tebu, kunyit, base, kunyit, loloh, dan kwangen. Tebu digunakan sebagai penanggal untuk membuka mulut, kunyit sebagai pangisep-isep atau pangurip-urip. Madu untuk menghilangkan rasa ngilu pada gigi, bungkak digunakan sebagai tempat ludah. Kunyit untuk mengobati gigi yang setelah dipotong jika ada luka. Kemudian loloh berfungsi untuk kumur ketika gigi selesai dipotong. 



Ditegaskannya, orang yang bisa mendampingi saat potong gigi,  hanya dari pihak keluarga saja, dan  orang tuanya juga wajib  mendampingi. "Ketika ada yang ikut naik ke tempat orang yang potong gigi di luar keluarga, terlebih tidak ada kepentingan dalam proses tersebut harus diarahkan jangan ikut. Selain untuk mencegah  hal yang tidak diinginkan, juga guna mempermudah sangging yang memotong gigi supaya berjalan dengan lancar. 


“Kalau ramai saat prosesinya kan sangging juga sulit bergerak, sehingga akan terhambat pelaksanaannya. Iya kalau yang potong gigi hanya satu dua orang saja, kalau lebih dari lima dengan pendampingnya kan sangat banyak. Itu akan menjadi kendala yang memiliki upacara itu sendiri,” imbuh pria pensiunan guru tersebut. 
Pada tempat pelaksanaan potong gigi,  lanjutnya,  terdapat sebuah bale gading, tepat berada di atas tempat upacara berlangsung. Fungsinya sebagai linggih Ida Sang Hyang Semara Jaya dan Semara Ratih. 

"Untuk menyaksikan dalam prosesi upacara tersebut, sekaligus  sebagai penangkal jika ada orang yang jahil secara niskala, terutama orang yang mempunyai ilmu aji ugig yang tujuannya  mengganggu kelangsungan prosesi upacara ," bebenya.

Terkait berapa orang yang harus mengikuti potong gigi, Gus Searsa menjelaskan sesuai pandangannya. “Kalau ditanya jumlah, berapa saja boleh. Itu kan tergantung dari peserta yang ada. Kalau menurut saya ganjil atau genap tidaklah masalah. Yang penting dalam prosesinya itu sudah lengkap, berarti pelaksanannya akan berlangsung dengan lancar,”  imbuhnya. 

(bx/ade/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia