Selasa, 25 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Samuan Tiga, Muasal Adanya Desa Pakraman dan Mempersatukan Sekte

06 Desember 2017, 08: 39: 03 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Samuan Tiga, Muasal Adanya Desa Pakraman dan Mempersatukan Sekte

MENYATUKAN SEKTE : Pura Samuan Tiga, di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, jadi tempat untuk menyatukan silang pendapat sekte yang berkembang di masa lalu. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Setiap kabupaten di Bali terdapat Pura Khayangan Jagat, yang masing-masing mempunyai keunikan dan sejarah yang berbeda. Seperti Pura Samuan Tiga di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. 

Pura Samuan Tiga diyakini merupakan awal dari terbentuknya Pura Khayangan Tiga di Bali. Bahkan, dipercayai juga sebagai awal adanya desa pakraman. “Samuan berarti pertemuan, sedangkan tiga adalah bilangan. Dimana tiga itu merupakan hasil dari keputusan saat rapat yang  terjadi pada zaman Kerajaan Udayana ketika abad X Masehi silam,” papar Pemangku Pura Samuan Tiga, Gusti Ngurah Mudrana, ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin. 

Pria 67 tahun yang rumahnya  berdampingan dengan pura ini, menambahkan, pada zaman itu masih ada  kepercayaan yang menganut sembilan sekte, sehingga ada gejolak karena masing-masing sekte memiliki keyakinan yang berbeda. 
Untuk memediasi hal itu, lanjutnya, maka diselenggarakanlah  pertemuan yang mengambil lokasi di Pura Samuan Tiga. Tentu dengan cara mengundang kesembilan sekte tersebut.

Dikatakannya, semuanya  berawal dari sebuah percekcokan yang terjadi di masyarakat, yang menyebabkan Bali pada zaman itu menjadi kacau. Kemudian raja pada zaman itu, mengambil  langkah dan kebijakan. “Pura yang ada di sana memang sudah ada sejak dulu,  dan dianggap cukup strategis untuk menyelenggarakan sebuah rapat besar ,” paparnya.


Jero Mangku Ngurah Mudrana menambahkan,  sebelum dijadikan Pura Samuan Tiga,  nama pura tersebut adalah Pura Gunung Goak karena letaknya di pegunungan atau dataran tinggi.


"Karena kawasan gunung dinilai merupakan tempat yang suci, maka dicetuskanlah di sana sebagai tempat pasamuan, " terangnya. 


Dan, pada saat rapat tersebut, raja dan semua pucuk pimpinan menyepakati dengan Tri Murti untuk pemujaannya, yakni  terdiri atas Brahma, Wisnu, dan Siwa. Sehingga, sebagai bentuk implementasi dari hasil rapat tersebut, dibuatlah Pura Khayangan Tiga di semua desa yang ada di Bali. Bahkan, itu semua dilaksanakan untuk mengayomi Pura Khayangan Tiga dan desa pakraman. 


“Di  setiap desa kan kita seolah dipersatukan oleh Pura Khayangan Tiga. Karena desa itu juga terdiri atas beberapa kelompok masyarakat, kasta, klan, wangsa, dan beberapa lainnya yang  membedakan masyarakat. Sehingga di desa, semuanya dipersatukan melalui Khayangan Tiga. Sedangkan jika satu klan, kita dipersatukan dalam lingkungan pamerajan sendiri, yaitu dengan adanya Sanggah Kemulan atau Rong Tiga,” jelas pria pensiunan PNS Purbakala tersebut. 


Jero Mangku Ngurah Mudrana juga menjelaskan, bahwa Pura Samuan Tiga bisa dikatakan sebagai kawitan desa pakraman dan Pura Khayangan Tiga. Sebab, di masing-masing desa pakraman ada pura lambang dari Tri Murti itu sendiri. Yaitu Pura Puseh, Desa, dan Pura Dalem. 


Di Pura Samuan Tiga terdiri atas tujuh mandala. "Kalau pada umumnya sering disebut dengan nista mandala. Namun di Pura Samuan Tiga disebut dengan mandala jaba, mandala jaba tengah, mandala duur kangin, dan mandala lainnya. Karena pada tempat tersebut ada beberapa mandala yang memang secara turun temurun diberikan nama  khusus," bebernya.


Sesuai cerita yang ia dapatkan dari leluhurnya,  bahwa Pura Samuan Tiga yang menjadi sebuah Pura Khayangan Jagat kala itu. Bahkan hingga kini,  dikarenakan pamedek yang datang berasal dari seluruh Bali. Bahkan, dia menyebutkan di Pura Samuan Tiga terdapat beberapa kesamaan  dengan palinggih-palinggih yang ada di Pura Besakih, di antaranya  ada Pura Melanting, Pasar Agung, Tegal Penangsaran. Bahkan  ia juga katakan, kemungkinan sama terdiri atas tujuh mandala. 
Piodalan diselenggarakan  enam bulan sekali,  pada Saniscara Kliwon Kuningan, tepat pada perayaan Kuningan.  


Sedangkan untuk ngusaba, lanjutnya, diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Masyarakat setempat menyebutkan dengan Karya Turun Kabeh yang diselenggarakan pada Purnama Kadasa. “Kadasa yang dimaksudkan adalah tidak berbarengan dengan Purnama Kadasa saat piodalan di Pura Besakih. Kira-kira berjarak sepuluh hari, setelah piodalan di sana. Karena menurut lelingsir kami, ada yang menyebutkan Puranama Kadasa wayah (tua) dan nguda (muda). Mungkin di sini berlaku purnama yang wayah, maka tidak barengan dengan karya di Besakih,” papar kakek empat cucu tersebut. 


Ditambahkannya,  nyejer  selama dua belas hari, dan  lima belas hari sebelum  piodalan ada  tradisi ngambeng. Di mana anak-anak pangemong pura, tanpa disuruh akan ke rumah-rumah warga untuk mengambil apa yang akan dihaturkan oleh krama. Tradisi ini hanya dilaksanakan di wilayah pangemong pura saja. 
“Tanpa disuruh, anak-anak pasti melaksankan ngambeng tersebut. Ketika sudah merasa capek, mereka akan ke pura untuk mengahturkan hasil ngambeng itu. Terkadang, ada  juga yang langsung ke pura untuk menghaturkannya langsung,” imbuh Jero Mangku Mudrana. 


Soal sembahyang, lanjutnya,  jika lengkap ada tujuh persembahyangan karena terdiri atas tujuh mandala. Jika sempat dan  tergantung rasa dari pamedek yang nangkil, berawal dari persembahyangan pertama di Pura Beji sebagai sthana Bhatara Wisnu, untuk mohon panglukatan agar menjadi bersih, terlebih akan melaksanakan persembahyangan.  Kemudian dilanjutkan ke palinggih Agung Sakti, yang di puja di sana adalah Ganesha yang dipercayai sebagai Dewa Kemakmuran. 


Setelah itu, bersembahyang di Palinggih Ratu Agung Panji, kemudian Palinggih Ring Lumbung, yang merupakan palinggihnya Bhatara Segara dan Sedana yang diyakini akan memberikan kesejahteraan kepada setiap pamedek yang melaksanakan persembahyangan di sana. Dan, terakhir melaksanakan persembahyangan di Mandala Pasamuan.


Sebab, semua prosesi upacara dilaksanakan pada Mandala Pasamuan yang terlihat seperti jaba tengah pura,  yang dinamai Mandala Penataran.


Di tempat yang berbeda, Bendesa Pakraman Bedulu, Gusti Ngurah Made Serana menjelaskan,   pangemong Pura Samuan Tiga, terdiri atas lima desa pakraman, yaitu Desa Pakraman Bedulu,  Wanayu Mas, Taman,   Tangkulak Kaja, dan  Tangkulak Tengah. 


“Pelaksanaan ngusaba di sini dilaksanakan  setahun hanya satu kali. Jika pada tahun genap dilaksanakan padudusan agung. Sedangkan jika tahun ganjil, dilaksanakan padudusan alit. 


Sasuhunan yang ada pasti tedun untuk mlasti ke Pantai Masceti, berjalan kaki yang menghabiskan waktu sekitar satu hari penuh,” papar pria 51 tahun tersebut. 
Dikatakannya,  perjalanan ke pantai dilaksanakan  dengan tenang dan santai, tidak berjalan dengan tergesa-gesa. Sebab balik menuju pura nantinya akan ada prosesi masandekan (istirahat),  mengahturkan banten dan persembahyanagn di Lapangan Astina Gianyar. Selain dikaitkan sebagai tempat beristirahat,  pamedek yang ada di Gianyar juga  menyarankan agar dapat menghaturkan bhakti. 


Maka, menjelang mlasti, harus  mempersiapkan tempat terlebih dahulu. Jadi,  pada saat masandekan tersebut, lanjutnya, pamedek yang ada di Gianyar bisa langsung menghaturkan bantennya saja.  Setelah  upacara dipuput seorang sulinggih,  baru mamargi (berjalan) kembali ke Pura Samuan Tiga. 


Nah, jika akan nangkil ke sana hanya memerlukan waktu sekitar satu jam. Itupun berangkat dari Pusat Kota Denpasar. Melewati Jalan Raya Mas – Sukawati, lurus ke Utara sampai menemukan Patung Bayi Sakah. Perjalanan dilanjutkan ke Utara sekitar dua kilometer sampai menemukan pertigaan. Kemudian ke kanan, lurus saja sekitar tujuh menit akan sampai di catus pata Desa Bedulu,  dan terlihat di timurnya Pura Samuan Tiga berdiri megah. 

(bx/rin/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia