Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ada Dua Jenis Tirta Malukat Penetralisasi Bala, Air Laut Terbaik

26 Desember 2017, 12: 26: 44 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Dua Jenis Tirta Malukat Penetralisasi Bala, Air Laut Terbaik

Ida Peranda Gede Wayahan Wanasari (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Malukat merupakan prosesi pembersihan diri, yang biasanya menggunakan air. Selain menggunakan tirta, sumber air juga jadi tempat yang dicari.

Melukat berasal dari Ngelut atau Lukat, yang berarti pembersihan dari sebuah karma yang dibawa sejak lahir.

“Kita lahir di dunia karena ada sebuah karma, maka karma itulah kita perlu bersihkan, salah satunya dengan cara malukat,” terang Ida Peranda Gede Wayahan Wanasari ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di Kantor PHDI Bali, Jalan Ratna, Denpasar, pekan kemarin.

Dijelaskannya, segala bentuk karma yang dibawa dari kehidupan sebelumnya, karya yang sedang dijalankan, dan karma yang akan dilewati, perlu diharmonisasikan. Dan, sebagai cara paling mudah dengan  cara malukat sebagai mengharmonisasikannya, di samping dilengkapi juga dengan sesajen maupun lantunan doa-doa berupa mantra.

Ia juga mengakui dalam proses malukat sebagai bentuk pengembalian badan kasar dan badan halus. Tentu pengembalian secara niskala ke unsur air, badan dibersihkan oleh air. Sedangkan rohani akan dibersihkan kembali oleh puja dan mantra. Maka kedua badan tersebut kena dalam prosesi malukat tersebut.

Peranda Wayahan mengatakan, tempat yang baik untuk malukat pada tempat sumber air suci. “Semua tempat sangat baik, apakah itu di campuhan,  pancuran, di air tritisan yang disucikan, atau dari trita panglukat yang dibuat oleh para sulinggih juga bisa. Makanya ada dua jenis, tirta panglukatan pangarga dan tirta panglukatan klebutan,” jelas pria asli Sanur tersebut.

Tirta pangarga adalah tirta yang digunakan untuk malukat, sengaja dibuat oleh sulinggih. Sedangkan tirta panglukatan klebutan secara langsung dari alam.  Ia mencontohkan sumber mata air seperti klebutan dari tanah, pancuran yang berasal dari tebing, pertemuan dua sungai dan pertemuan air sungai dan air laut.

Dikatakannya, tirta yang paling bagus digunakan untuk malukat adalah tirta yang ada di laut. Sebab dalam laut terdapat berbagai macam pertemuan sumber mata air. Sedangkan tirta yang sengaja dibuat oleh sulinggih juga terdapat dua jenis, yaitu tirta karena nuur oleh pemangku dan dibuat oleh sulinggih.

“Fungsi dari malukat  untuk membersihkan diri dari kekotoran, apakah itu kena kepapaan, maupun musibah yang menimpa,” jelasnya.

Tak disanggahnya tidak jarang ada seorang dibayuh beberapa kali, tetapi penyakit atau sifat keraksasaan masih saja melekat pada diri seseorang tersebut. Semua itu, lanjutnya, bahwa orang tersebut masih membawa karmanya yang terdahulu. Sehingga pada masa kehidupannya yang sekarang berapa kali dibayuh akan tetap kelakuannya seperti itu.

Dijelaskannya, terdapat tiga jenis duka yang dibawa sejak lahir. Terdiri atas adiatmika duka, bautika duka, adi mika duka. Ia menyebutkan ada sakit karena bawaan, sakit karena ulah kita sendiri, dan sakit yang tidak tahu penyebabnya. Maka dengan demikian perlu sekali-kali malukat untuk membersihkan diri.

Ditambahkannya,  jika malukat di rumah  bisa dilakukan di sumur, di depan perantenan, ada juga diklebutan (sumber mata air). Jika anak kecil harus berawal dari sumur terlebih dahulu. Baru dilanjutkan malukat ke depan perantenan. Karena menurutnya,  ketika di rumah tempat tersebutlah sumber mata air.

“Karena pada zaman dulu orang belum mengenal pompa air, tahunya  sungai, pancuran, dan di rumah sendiri ya sumur sebagai sumber air. Airnya juga  ditampung pada sebuah gebeh di dapur. Kalau malukat di dapur yang ditunas adalah Sang Hyang Brahma untuk membersihkan diri,” urainya. Malukat juga tergantung kepada siapa untuk nunas karahayuan, namun pada intinya  kepada Ida Sang Hyang Widhi dengan segala prabawanya. Salah satunya pada dewa-dewa sebagai manifestasinya.

Pada tempat yang berbeda, seoarang walaka, Ida Bagus Puja mengaku sering ngalukat panjaknya, baik itu pada merajan gria  sendiri ataupun pada merajan seseorang yang melakukan otonan pabayuhan.

“Kalau melakukan panglukatan di merajan, terdapat dua jenis tirta, yakni dari proses pembuatan dan berasal dari sumber mata air. Entah itu pancuran dengan berjumlah sesuai urip tegak otonan, maupun pada sebuah klebutan,” bebernya.

Dikarenakan setiap orang hari lahirnya berbeda-beda, lanjutnya, maka ketika otonannya  harus menggunakan tirta dari pancuran dengan mencari juga jumlah pancuran sesuai uripnya.

" Panglukatan sebagai pembersih jiwa dan raga seseorang. Selain dapat menyegarkan badan kasar,juga menyegarkan jiwa rohani seseorang," pungkasnya. 

(bx/ade/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia