Kamis, 28 Jan 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Pura Pegulingan, Tampaksiring (1)

Diyakini sebagai Tempat Memperlancar Keturunan

27 Desember 2017, 08: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Diyakini sebagai Tempat Memperlancar Keturunan

CANDI: Jero Mangku I Wayan Weda menunjukkan penemuan relief abad ke-8 di Pura Pegulingan, Banjar Basangambu, Desa Manukaya, Tampaksiring, Gianyar Selasa (26/12). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TAMPAKSIRING - Sebelum sumber mata air di pasiraman Tirta Empul muncul, Pura Pagulingan sudah terdapat di timur lokasi tersebut. Selain digunakan untuk beristirahat panjak Bhatra Indra juga sering digunakan untuk tidur-tiduran.

Pura Pegulingan terletak di Banjar Basangambu, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Pemangku Pura Pegulingan, I Wayan Weda mengungkapkan, karena sering digunakan untuk tidur-tiduran sehingga diberikan nama Pura Pagulingan.

“Karena pada zaman itu sedang terjadi peperangan yang membuat panjak Bhatara Indra beristirahat di sini. Sejak itulah diberikan nama pegulingan yang berawal dari gulang-guling (tidur-tidruan) saat beristirat,”papar ayah dua anak tersebut saat ditemui di jeroan pura, Selasa (26/12).  

Dirinya juga mengatakan dalam beristirahat ada beberapa prajurit Bhatara Indra menuju barat pura. Karena ada sumber mata air, itulah diminum oleh beberapa prajurit dan mengalami keracunan. Sebab itu merupakan sumber mata air  yang beracun yaitu tirta cetik (racun) di areal Tirta Empul. Weda juga mengatakan semenjak itu Bhatara Indra menancapkan lelontek di sebelah air beracun tersebut. Maka muncullah klebutan (sumber mata air) yang menjadi penawarnya, di mana sekarang menjadi Tirta Empul. 

Dalam jeroan pura terdapat juga sebuah candi, namun Jero Mangku Weda menyebutnya sebagai Padmasa Asta Dala. Sehingga sampai sekarang menjadi candi yang khas pada Pura Pegulingan. Ia mengatakan padmasana tersebut ditemukan peninggalan abad VIII. Di mana saat itu krama setempat sedang melaksanakan pemugaran pura, karena melihat sebuah gundukan maka digalilah dan menyerupai relief. 

“Semenjak ditemukan relief itu yang kelihatan hanyalah ujung atasnya saja. Karena seperti peninggalan purba kala selanjutnya dilaporkan kepada Pegawai Purbakala agar diteliti lebih lanjut. Kurang lebih membutuhkan waktu selama satu tahun baru semuanya bisa ditata rapi seperti sekarang ini,” terang Jero Mangku Weda. 

Pada Pura Pegulingan tersebut, Jero Mangku Weda mengatakan terdapat tiga buah pura. Di antaranya adalah Pura Dugul pada madya mandala, sedangkan di utama mandala terdapat Pura Masceti atau Ulun Suwi dan Pura Pegulingan sendiri. Sebab struktur pura tersebut terdiri atas tri mandala.

Terkait Padmasana Asta Dala, Jero Mangku Weda mengartikan Padma merupakan daun, asta berarti delapan dan dala adalah dasar. Sehingga dirinya mengartikan sebuah palinggih yang berdasarkan delapan buah daun. Ia juga mengatakan padmasana tersebut juga dikatakan sebagai Candi Buddha Pegulingan. Di mana secara kasat mata berlokasi di tengah-tengah persawahan Desa Manukaya.

Selain sebuah Padmasana Asta Dala,  Jero Mangku Weda juga mengungkapkan ditemukan juga beberapa lempengan. Berbahan dari tanah liat yang berisikan tulisan huruf Prenegari berbahasa Sansekerta. Jero Mangku Weda mengungkapkan bahwa tulisan tersebut memuat mantra-mantra pujian. Tentunya pujian kepada Sang Buddha dan ia menyebutnya dengan ye te mantra.

“Sekitar tahun 1983 dilakukan penelitian lebih lanjut, di mana yang ditemukannya sebuah fragmen-fragmen yang memiliki langgam bangunan kuna. Maka untuk menyelematkan penemuan tersebut disusunlah penyelenggaraan pemugaran,” urainya.

Sehingga dalam hal itu Jero Mangku Weda mengatakan ditemukan juga 15 buah relief Gana, lima buah kepala arca, lima buah badan arca, serta beberapa jumlah sisa bangunan. Dalam sisa tersebut menyerupai segi delapan dan menunjukkan jari-jari menuju satu titik pusat  menuju ujung candi. 

Selain itu, dirinya juga mengungkapkan terdapat juga sebuah stupa kecil. Sehingga disebut dengan miniatur stupa yang berbahan batu padas ditemukan pada pusat candi. Kakinya ia sebutkan berbentuk persegi delapan dengan ukurannya 45 x 23 cm. Sedangkan pada salah satu depan lempengan terdapat relief yang menggambarkan sebuah dua ekor gajah.

“Dua ekor gajah tersebut saling membelakangi berdiri ke kiri dan kanan sebuah gapura. Relief itu diduga sebagai angka tahun sangkala memet. Yaitu Gajah atau disebut dengan asti memiliki nilai 8, gapura memiliki nikai 9 yang akan membentuk angka icaka 898 atau 976 Masehi,” imbuhnya. 

Jero Mangku Weda juga menyebutkan terdapat sebuah Yoni, berdasarkan keyakinan krama setempat tempat itu dapat memperlancar untuk memiliki keturunan. Tentu bagi pasangan yang lama menikah tetapi belum dikaruniai seorang anak. Dalam nunas keturunan, Jero Mangku Weda mengaku sudah terbukti bahwa ada krama setempat mengalami langsung hanya dengan menghaturkan sebuah pejati.

Pada tempat yang berbeda, salah satu warga setempat, I Nyoman Trisna Jaya mengatakan pantangan ke Pura Pagulingan hanya bagi orang cuntaka saja. Selain itu bisa masuk dan melaksanakan persembahyangan di sana. Sedangkan piodalan di sana ia mengatakan hanya dilaksanakan saat Purnama Sasih Kalima.

“Pengamong pura hanya dari Banjar Basangambu saja, sedangkan piodalan nyejer selama lima hari. Tetapi ketika setiap lima tahun ada pelaksanaan upcara nyanggar tawang, yang berisikan sarananya pedagingan pula kerti,” papar Trisna.

Jika ingin mengunjungi pura tersebut, tidak jauh dari Pura Tirta Empul. Hanya memerlukan waktu sekitar dua menit saja ke utara dari parkiran tirta empul. Pada sebelah kiri jalan keluar dari parkiran tirta empul akan terpampang papa nama bertuliskan Pura Pegulingan di depan bale banjar setempat.

Tempat puranya memang masuk ke dalam persawahan sekitar 300 meter dari jalan raya. Di balai Banjar Basangambu hanya masuk mengikuti jalan setapak. Jalan tersebut akan menghubungan langsung ke jaba Pura Pegulingan yang dikelilingi oleh persawahan. Sehingga udara dan suasana di sana sangat sejuk dan masih asri. (bersambung)

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news