Minggu, 18 Apr 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Harga Anjlok, Petani Anggur Hijau Merugi

28 Desember 2017, 12: 02: 27 WIB | editor : I Putu Suyatra

Harga Anjlok, Petani Anggur Hijau Merugi

MURAH: Petani anggur hijau di Desa Gerokgak, Kecamatan Gerokgak sedang mengemas hasil panen, Rabu (27/12). (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA-Budidaya Anggur Hijau sejak tujuh tahun silam di Desa Gerokgak, Kecamatan Gerokgak tergolong sukses. Sebab, hasil produksinya sangat melimpah. Namun sayang, di balik melimpahnya hasil produksi Anggur Hijau, rupanya tidak didukung dengan pemasaran. Praktis, petani pun terpaksa menjual dengan harga murah, demi menutupi besarnya biaya produksi.

Kondisi ini dialami langsung oleh petani bernama Jro Mangku Putu Suarjana. Menurutnya, saat panen harga Anggur Hijau perkilogram sangat jauh dari harapan. Semestinya harga normalnya berkisar Rp 7.500 per kilogram. Namun sayang, di pasaran harga Anggur jenis ini hanya dihargai Rp 3.500 perkilogramnya.

Karena tak ada pilihan lain, pihaknya  terpaksa menjual dengan memasarkan melalui media sosial. Sebab, jika dibiarkan terlalu lama di pohon menanti pembeli, dikhawatirkan kualitas buah anggur akan rusak, dan memperparah kerugian. “Anggur Hijau ini dikembangkan sejak tujuh tahun silam. Sekarang saya menggarap lahan seluas 40 are saja. Saat ini harganya juga anjlok. Semestinya harganya Rp 7.500 perkilogram. Tapi nyatanya hanya Rp 3.500 per kilogram di pasaran,” keluhnya saat ditemui Rabu (27/12) kemarin.

Baca juga: Macet, Dewan Usul Pembangunan Shortcut di Suwung Batan Kendal

Menurutnya, anjloknya harga buah anggur hijau ini disebabkan saat ini memasuki musim buah. Oleh karena itu, konsumen memiliki banyak pilihan varian buah di pasaran seperti mangga, durian, rambutan hingga salak. Praktis, turut mempengaruhi rendahnya harga anggur hijau di pasaran.“Kalau harga normal, dari 40 are yang saya kelola memerlukan modal hingga Rp 5 juta untuk bisa dipanen dalam waktu tiga bulan, terhitung pemangkasan. Jika harganya sesuai pasar misalnya Rp 7.500, semestinya bisa mendapat hasil mencapai Rp 35 Juta, tapi karena dijual dibawah harga pasar ya bisa merugi” imbuhnya.

Dari pantauan koran ini, nampak para pekerja tengah memetik buah Anggur Hijau. Mereka memanen buah anggur kemudian mengemas dengan plastik satu kilogram. Buah anggur yang telah dipetik dan dikemas selanjutnya akan disalurkan kepada pemesan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mengatasi panen anggur hijau yang melimpah. Penjualan  Anggur Hijau dilakukan melalui media sosial oleh penyalur buah. “Saya ngirim ke Singaraja, Seririt bahkan ke Denpasar dan Bangli. Sekali ngirim biasanya hingga 500 kilogram. Respon pasar sangat bangus. Awalnya sih share di facebook. Lumayan juga banyak yang mau. Hanya saja harganya masih murah, karena banyaknya saingan buah” kata pengepul, Putu Ria Yuliantari.

Sekadar diketahui, budidaya anggur hijau di Desa Gerokgak, sudah berlangsung sejak tujuh tahun silam. Anggur Hijau ini berhasil dikembangkan di atas lahan seluas seratus hektare. Semestinya, dengan kondisi ini petani bisa meningkatkan kesejahterannya. Namun malah sebaliknya, mereka harus mengalami kendala saat pemasaran. 

(bx/dik/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news