Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Tirta Empul Apuan Hilangkan Apes, Bawa Gegemet Tak Bisa Masuk

30 Desember 2017, 22: 03: 07 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Tirta Empul Apuan Hilangkan Apes, Bawa Gegemet Tak Bisa Masuk

MACAN: Patung macan di atas pancuran di jaba sisi Pura Tirta Empul, Desa Apuan, Kecamatan Susut, Bangli, yang diyakini sosok penjaga gaib di kawasan itu. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Pura Tirta Empul di Desa Apuan  namanya sama dengan pura yang ada di Tampaksiring, Gianyar. Namun, tempatnya berada di bawah tebing dan jauh dari pemukiman warga. Bagaimana soal khasiatnya?

Pura Tirta Empul di Desa Apuan, Bangli ini, juga ada mata air yang  diyakini sebagai penetralisasi mala (kotor atau apes secara niskala). Hal itu dijelaskan pemangku pura, Jero Mangku I Wayan Srigati kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Pura Tirta Empul, Desa Apuan, Kecamatan Susut, Bangli, pekan kemarin.

“Tempat pura ini disebut dengan penghulun tukad (hulu sungai), di mana sumber air sungai juga mengalir dari pura ini. Karena terdapat tiga buah sumber mata air yang ikut mengaliri sungai,” paparnya.


Mangku Srigati menjelaskan, Pura Tirta Empul merupakan tempat beryoganya Rsi Markandya ketika berada di Bangli. Kala itu masih di bawah kekuasaan Raja Tamanbali. Diberikan nama Tirta Empul, lanjutnya, karena terdapat tiga buah kepulan mata air yang berasal dari tempat tersebut.


Pada jaba tengah terdapat dua sumber mata air yang biasa  digunakan untuk Mlasti ketika pelaksanaan piodalan pada pura khayangan tiga setempat. "Sumber mata air  pada jaba tengah  khusus untuk pelaksanaan Dewa Yadnya saja," terangnya.

Selain itu, ada dua buah telaga di sebelah kanan dan kiri pura. Pada telaga kanan dilengkapi  bale agung di tengah telaga. Sedangkan yang kiri tidak ada  bale agung. "Kedua telaga tersebut sebagai lambang Brahma dan Wisnu. Simbol Brahma yang berisikan bale agung dan simbol Wisnu telaga yang hanya kolamnya saja,” papar Mangku Srigati.


Dikatakannya, warga setempat menggunakan air yang berada di jaba sisi sebagai permandian dan juga untuk minum sehari-hari. " Tirta yang ada di jaba sisi berfungsi untuk melebur mala pada diri. Ada juga  tirta pangentas yang  pancurannya sudah dipisahkan tempatnya," terangnya.


Saat prosesi pangabenan, lanjut Srigati, cukup  nganyut dan nunas tirta panglukatan di tempat ini.


Jadi, dua sumber mata air yang di jaba tengah untuk ke luhur (dewa yadnya), sedangkan tirta yang ada pada jaba sisi untuk kateben (pitra dan manusa yadnya),  sebagai pamuput pangabenan atau malukat.


Saat piodalan di pura khayangan tiga, semua sasuhunan Mlasti ke sini. Semua tapakan berupa barong dan rangdaakan   dilinggihkan di jaba tengah.
Selain itu, jika ada yang melaksanakan mabayuh (upacara hari lahir) diperkenankan malukat pada jaba tengah. Tetapi jika malukat biasa cukup hanya di pancuran jaba sisi saja.  " Sarananya cukup  menghaturkan canang atau sebuah pajati,” terang ayah lima anak tersebut.


Mangku Srigati mengatakan, ada pamedek yang sakit, tetapi secara medis tidak diketahui penyebabnya. Yang sakit  bermimpi seolah-olah berada di pancuran  nunas tirta.  Mangku Srigati didatangi oleh keluarganya untuk nunas tirta panglukatan yang sakit.  Ketika nangkil ( datang) kedua kalinya orang tersebut yang sebelumnya kritis, ternyata sudah sembuh.


Ia juga mengaku pernah didatangi oleh pamedek dari luar Bangli. Mereka tidak.menjelaskan tujuannya. Namun ketika datang kedua kalinya baru diberitahu sudah sembuh dari sakitnya sejak malukat di Tirta Empul.


Mangku Srigati mengungkapkan bahwa semua sarana yang ada di sana dihaturkan oleh pamedek yang dikabulkan permohonannya, di samping berasal dari swadaya masyarakat setempat. “Kalau dulu mau menuju pura ini harus melintasi tebing dan bebatuan yang licin. Kalau sudah turun hujan bisa-bisa nangis mau pulang dari pura saking sulit medannya. Untung sekarang sudah ada jalan yang dibeton menjadi gampang menuju pura,” imbuhnya.


Pura yang terletak di atas sungai dan di bawah tebing ini, memang terlihat sangat mistis. Apalagi  ada  patung macan yang ada di bawah beringin besar. Pada areal tersebut diyakini sebagai tempat  penetralisasi ilmu hitam.


Mangku Srigati  mengatakan, patung macan  merupakan wujud   rencangan di pura tersebut. Di samping itu, pada bale agung di jaba tengah juga  menggunakan tapakan macan. Makanya, dibuatkan  sebuah patung macan yang besar di tempat pancuran.

Mangku Srigati  menuturkan,  sempat ada pamedek yang datang, tetapi sampai di depan pamedalan seolah-olah tidak bisa digerakkan kakinya. “Memang jika mau masuk ke dalam pura harus dengan pikiran dan tujuan yang bersih. Terlebih jika memiliki niat jahat, apalagi membawa gagemet (jimat) dan mendalami ilmu hitam. Percaya tidak percaya sampai pamedal pura saja tidak akan bisa masuk pura,” urainya.


Warga setempat meyakini kedua telaga yang ada di jaba tengah pura sebagai penetralisasi ilmu aji ugig. Semua itu sudah terbukti, lanjut Srigati, sebab kejadian tersebut kebetulan ketika rerahinan, saat kejadian sedang sembahyang di areal pura.


Di tempat berbeda, Bendesa Adat Apuan, I Wayan Jirna mengatakan, pura diamong oleh Desa Apuan sendiri. Terdiri atas dua banjar, yaitu Banjar Apuan Kaja dan Banjar Apuan Kelod. Jumlah krama yang mangempon  238 krama banjar pangarep.


“Pelaksanaan piodalan pada Buda Wage Merakih dilakukan  bergiliran setiap enam bulan. Sedangkan nyejer selama piodalan berlangsung hanya tiga hari ,” terang pria 67 tahun tersebut.


Jirna mengatakan, penangkilan banyak dilakukan  pada hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, dan Kajeng Kliwon. Kebanyakan mereka yang datang untuk malukat, di samping ada  pula hanya untuk sembahyang. "Pura ini diyakini sebagai linggihnya Bujangga, maka setiap piodalan berlangsung tidak dipuput oleh seorang Pedanda," terangnya.

Ingin nangkil? Cari saja Kantor Desa Apuan, kemudian susuri jalan  ke utara sekitar 200 meter, akan ada  jalan ke kiri yang  menghubungkan langsung ke pura. Jika pertama kali nangkil, sebaiknya menghubungi bendesa setempat atau pemangku pura. Rumah bendesa dan pemangku beberapa meter di utara Kantor Desa Apuan. Mereka akan memandu untuk nangkil menuju pura. 

(bx/ade/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia