Sabtu, 20 Oct 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Begini Ceritanya Palinggih Balang Tamak Ada di Pura Puseh Maupun Desa

Senin, 08 Jan 2018 13:18 | editor : I Putu Suyatra

Begini Ceritanya Palinggih Balang Tamak Ada di Pura Puseh Maupun Desa

PALINGGIH : Jero Mangku I Wayan Suda menunjukkan Palinggih Pan Balang Tamak di Pura Puseh Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, GIANYAR - Di setiap Pura Puseh maupun Pura Desa di masing-masing desa pakraman biasanya ada Palinggih Pan Balang Tamak. Konon, palinggih tersebut merupakan tempat menghormati seorang warga yang sangat cerdik.

Pemangku Pura Puseh Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar Jero Mangku  I Wayan Suda
mengungkapkan, cerita Pan Balang Tamak sangat kental dengan pesan moral. Pan Balang Tamak merupakan seorang lelaki yang dikenal dengan kecerdikannya hidup bermasyarakat.

"Karena kecerdikannya menurut cerita Pan Balang Tamak dikenal  pembohong, pemalas, dan tidak disenangi oleh masyarakat di desanya. Bahkan, Kelihan Banjarpun susah untuk menanganinya,” terangnya ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Pura Puseh Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar Minggu (7/1).

Lanjut Mangku Suda, kelihan desa waktu itu berencana mengambil tindakan terhadap Pan Balang Tamak bersama warga setempat. Setelah melaksanakan rapat dengan beberapa anggota masyarakat, akhirnya kelihan dan warga setempat menemukan solusi untuk mengajak Pan Balang Tamak ikut terjun bersama krama lainnya maboros (berburu) ke hutan. Dikatakan Mangku Suda, kelihan langsung mengarahkan agar seluruh warga ikut maboros dan membawa anjing borosan. Sedangkan yang tidak ikut akan dikenakan sanksi.


Pada pengarahan itu, kelihan banjar meminta warga harus tedun maboros pagi hari, yaitu berpatokan dengan suara ayam jantan berkokok turun mencari makan. Lanjut Suda, Pan Balang Tamak mengetahui pengumuman tersebut. Karena dia mengetahui kalau ada niat kelihan banjar untuk menghukum dirinya, sekaligus mendenda karena malas .


“Karena sudah diketahui oleh Pan Balang Tamak, maka ia juga merencakan hal yang cerdik  yang akan dilakukannya. Ia tedun ke banjar dengan mematok waktu ayamnya berkokok . Namun.  karena ia tidak memiliki ayam jantan, maka ayam betina  yang sedang mengeram telurnya jadi patokan. Sehingga berkokoknya pada siang hari,” urainya.


Mangku Suda menerangkan, saat itu warga sudah yakin bahwa Pan Balang Tamak tidak akan bisa mengelak lagi untuk dihukum. Karena sudah siang belum juga datang ke balai banjar sesuai pengumuman kelihan. Sehingga, kelihan banjar dan krama sudah menentukan hukuman yang akan dikenakan kepadanya.


Tetapi di sela-sela berkordinasi tersebu, lanjut Mangku Suda,  Pan Balang Tamak datang meski terlambat jauh.  Ia datang dengan sangat tenang dan tanpa tampang bersalah. Ia pun luput dari hukuman karena ayamnya yang betina turun siang hari.


Di samping itu, ia juga membawa seekor anak anjing miliknya. “Saat pemburuan berlangsung, ia ikut bersama warga  lain. Tetapi saat di tengah hutan, Pan Balang Tamak melemparkan anjingnya ke semak berduri. Sehingga anjingnya terluka di sekujur tubuhnya, seperti tercakar-cakar oleh binatang buruannya,” papar Mangku Suda. Anak anjing itupun meraung-raung kesakitan. Warga yang tengah memburu langsung mendekati  Pan Balang Tamak yang sedang membersihkan anjingnya yang kotor dan bersimbah darah tersebut. Seolah-olah anjingnya berkelahi dengan buruannya.


Mangku Suda juga menerangkan, saat ditanya oleh kelihan desa, ia mejawab bahwa anjingnya selesai bertarung dengan seekor babi hutan. “Ketika ditanya di mana babi hutan itu sekarang,  Pan Balang Tamak hanya menjawab ke arah semak-semak yang dibatasi dengan jurang.  Sehingga warga langsung bergerak kearah yang ditunjukkan olehnya,” terang Mangku Suda.


Sementera itu, Pan Balang Tamak hanya duduk sendiri sambil membersihkan darah dan luka anjingnya tersebut. Mangku Suda menjelaskan dengan cara itu, Pan Balang Tamak tidak susah-susah untuk mengikuti warga yang lainnya. Maka siasat cerdiknya yang dibilang licik tersebut berhasil mengelabui kelihan banjar dan warga sedesa.


Warga pun tidak menemukan tanda dan mendapatkan babi hutan sampai sore hari. Keesokan harinya kelihan banjar kembali mengumpulkan warga untuk mencari cara menghukum Pan Balang Tamak. “Pan Balang Tamak juga menyuruh istrinya untuk membuat jajan iwel yang menyerupai kotoran anjing dan di taruh di balai banjar. Karena ia sudah mengetahui akan terus akan diberikan hukuman,” terang Mangku Suda.


Pan Balang Tamak lantas  menunjukkan balai banjar yang kotor dan berisi kotoran anjing itu. Lantas nyeletuk, bagi siapa yang berani makan kotoran anjing tersebut akan diberikannya uang kepeng 10 ringgit. Mangku Suda juga mengaku kelihan banjar saat itu kesal, maka Pan Balang Tamak sendiri yang disuruh makan kotoran tersebut.


Karena kotorn anjing itu adalah iwel yang ditaruhnya sebelumnya, maka ia mau memakannya. Sehingga banjarpun memberikan ia uang kepeng sejumlah yang dijanjikan tersebut. Maka, dengan kecerdikannya kelihan dan warga banjar berhasil kembali diperdayakannya.


Ditemui di tempat yang berbeda, salah satu tokoh masyarakat Desa Sayan, I Made Tragia menjelaskan, palinggih Pan Balang Tamak ada di areal Pura Puseh atau Desa karena saat ia meninggal ditaruh di peti tempat uang. Suatu ketika peti itu dicuri oleh maling dan dibuka pada areal Pura Puseh. “Karena saat dibuka ada mayat di dalamnya, maka ditinggallah di sana. Keesokan harinya banjar tedun ke pura dan  melihat peti tersebut. Sehingga, krama banjar mengira peti itu adalah berkah dari sasuhunan di pura dan dihaturkan banten,” terangnya.


Tragia mengungkapkan, setelah dihaturkan banten oleh krama, kelihan banjar membuka peti tersebut dan dilihatlah mayat Pan Balang Tamak. Sehingga warga menyebutnya, sampai mati pun Pan Balang Tamak masih bisa memperdayakan warga. "Karena sudah diupacarai di sana, maka dibuatkanlah palinggih di areal Pura Puseh atau Desa tersebut," katanya. 

(bx/ade/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia