Sabtu, 20 Oct 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Lihat Sinar Putih, Langsung Sakit, Dikira Gila, Dipasung 9 Bulan

Minggu, 14 Jan 2018 13:02 | editor : I Putu Suyatra

Lihat Sinar Putih, Langsung Sakit, Dikira Gila, Dipasung 9 Bulan

DIKIRA GILA : Mangku Gede Mahardika atau Mangku Gede Candi Cetho pernah mendapat pancaran sinar dari arca Sabda Palon hingga menderita sakit dan dikira gila oleh warga setempat, hingga akhirnya ia sembuh setelah bersedia menjadi mangku tahun 1994 silam. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, KARANGANYAR - Selain serunya mendengar penuturan Mangku Gede Mahardika seputar keberadaan Candi Cetho sembari memperhatikan satu demi satu bagian-bagiannya, tak lengkap rasanya tanpa mengupas kisah latar belakang Mangku Gede Mahardika sendiri menjadi mangku. 

Mangku yang kesehariannya menjadi petani tersebut, ternyata memiliki pengalaman yang menarik. Mangku Gede Mahardika yang memiliki nama asli Heri Suwardi ini,  adalah pemuda biasa,  orang tuanya juga bukan mangku. Hingga tahun 1994 dirinya dinobatkan sebagai Pamangku Gede Candi Cetho, menggantikan mangku sebelumnya yang sudah uzur. “Sebenarnya jadi mangku bukanlah keinginan saya,” akunya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


Lalu, mengapa dia sekarang justru menjadi mangku? Dituturkannya,  pada tahun 90-an umat Hindu setempat tidak terlalu ambil pusing soal agama. “Umat di sini menjalankan ibadah tidak, berpindah agama juga tidak,” tuturnya.


Suatu ketika, saat sedang sembahyang, tiba-tiba dirinya seperti dimasuki sinar. “Saya tiba-tiba mendapat sinar dari Palinggih Hyang Sabda Palon. Karena masih bujang, saya sampai sakit. Sebenarnya saya tidak mau kalinggihan, atau yang orang Bali sebut ngiring. Karena saya menolak, saya sakit dan dipasung karena orang bilang jiwa saya terganggu,” ujarnya.


Sakit tersebut diakuinya karena saat itu  dirinya masih muda, ego dan amarahnya masih tinggi. Selain itu, badannya juga dikatakan belum bersih. “Akhirnya orang tua yang berdoa dan mengikhlaskan kalau memang saya harus mengabdi di sini, agar disembuhkan,” terangnya.

Benar saja, akhirnya ia perlahan sembuh dan  sekitar tahun 1993 ada penataran pamangku. Ia pun ikut di dalamnya. Selanjutnya saat puja walikrama tahun 2007 silam di Candi Cetho, ia diberi gelar Mangku Gede Mahardika oleh sulinggih dari Bali yang muput upacara tersebut.


Menjadi mangku di Dusun Cetho bukannya tanpa tantangan. Meski dari sekitar 100 KK yang ada, 70 KK merupakan umat Hindu, banyak tantangan yang dihadapinya sebagai penuntun umat. Pasalnya, di tingkat Desa, umat Hindu termasuk minoritas. Salah satu tantangan yang dihadapi, yakni ada beberapa umat yang berpindah agama.

“Itu sekitar setahun lalu. Ada tujuh KK yang pindah agama. Tapi, setelah mohon petunjuk secara niskala, sebuah tanaman memang harus disiangi. Biar yang lain tumbuh subur, yang hidupnya kurang sempurna dicabut. Itu ilham yang saya dapatkan atau dauh, bahasa Balinya,” terangnya.


Belum lagi ia harus secara rutin memberikan ceramah kepada umat. “Bedanya kalau di Bali, mangku dicari umat, tapi kalau di sini mangku yang mencari umat. Jadi pamangku di sini selain memimpin upacara, juga memberikan dharma wacana atau pencerahan agar umat dapat mengerti,” ungkapnya.


Selain itu, dikatakannya, perhatian pemerintah masih kurang. Sehingga, untuk menjaga umat tetap bertahan, mau tak mau ia harus aktif memberikan pendampingan. Selain Mangku Gede Mahardika, khusus untuk Palinggih Saraswati juga ada mangkunya. Biasanya disebut Mangku Saraswati. 

(bx/adi/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia