Sabtu, 20 Oct 2018
baliexpress
icon featured
Kolom

Perayaan Siwaratri, Bukan untuk Disalahgunakan

Oleh: Ni Nyoman Tri Wahyuni, S.Pd.H., M.Pd*

Minggu, 14 Jan 2018 19:18 | editor : I Putu Suyatra

Perayaan Siwaratri, Bukan untuk Disalahgunakan

Ni Nyoman Tri Wahyuni, S.Pd.H., M.Pd (ISTIMEWA)

SIWARATRI dalam Agama Hindu memiliki ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya untuk melakukan suatu perubahan untuk penyadaran diri. Siwaratri sebagai malam perenungan dosa. Dosa-dosa yang sudah kita lakukan selama setahun kebelakang direnungi guna untuk diperabaiki.

Hari Raya Siwaratri adalah suatu moment yang sangat baik untuk menyadarkan diri dari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Namun dewasa ini perayaan Siwaratri disalahartikan oleh para teruna-teruni Hindu.. Siwaratri menjadi suatu moment yang ditungu-tunggu namun bukan untuk merenungi dosa-dosa yang sudah dilakukan selama ini, melainkan untuk ajang ngumpul-ngumpul dengan teman ataupun pacar.

Di setiap pura banyak pasangan muda mudi yang melakukan persembahyangan, sesungguhnya itu adalah hal yang baik jika persembahyangan yang dilakukan memang dari hati yang penuh keikhlasan. Realita yang terjadi jalanan pada saat Siwaratri dipenuhi oleh pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara. Bahkan ada geng motor yang berkeliaran dijalan. Para muda mudi seakan tidak memperhatikan rambu - rambu lalu lintas serta keselamatan dirinya.

Hal inilah yang seharusnya ditekankan kepada generasi muda bahwa setiap hari suci Hindu memiliki makna, bukan hanya sekadar dirayakan dengan cara sendiri. Perayaan Siwaratri seharusnya dirayakan sesuai dengan ajaran agama. Tidak dengan memanfaatkan hari suci ini sbagai ajang untuk melanggar ketertiban berlalu lintas serta menyalahgunakan kepercayaan orang tua untuk kepentingan pribadi.

Dari rumah minta izin untuk melaksanakan persembahyangan, orang tua dengan kepercayaan mengizinkan anaknya untuk melakukan persembahyangan, namun anak-anak di luar sana menyalahgunakan kepercayaan tersebut.

Semoga ke depannya pendidikan agama yang didapatkan di sekolah dapat dipahami dan diterapkan dalam setiap perayaan hari suci. Pemaknaan yang salah dalam perayaan hari suci akan berdampak tidak baik terhadap kesucian hari suci tersebut.

Hal seperti ini harus segera ditanggulangi agar dalam perayaan hari suci dapat dilakukan dengan penuh hikmat sesuai dengan ajaran agama. Peran orang tua, guru serta seluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan untuk menanggulangi hal ini agar kedepannya hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari. 

Dalam Siwaratri juga dapat dilakukan dengan tiga tingkatan yaitu terdiri atas, utama yaitu dimulai pagi hari saat matahari terbit dan berakhir pada saat matahari terbit esok harinya. Madya, dimulai tengah hari (tengai tepet), atau sekitar jam 12 siang dan berakhir pada saat matahari terbit keesokan harinya . Sedangkan Nista yaitu mulai sore hari saat matahari terbenam dan berakhir pada saat matahari terbit keesokan harinya.

Malam Siwaratri adalah malam Dewa Siwa yang sangat sakral. Di alam kematian, Dewa Siwa adalah Ista Dewata yang menjadi pelindung dan penolong universal bagi semua mahluk. Ini bukan pengetahuan yang sekadar bersumber dari buku-buku suci, melainkan juga diketahui dari penembusan spiritual ke alam rahasia oleh para Satguru dan para sadhaka yang wikan. Laksanakanlah saja Brata Siwaratri dengan penuh ketulusan dan tanpa pamrih, sebagaimana yang dilaksanakan oleh Lubdaka. (*)

*) Guru Agama Hindu SD Mahardika Denpasar

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia