Sabtu, 20 Oct 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Imbangi Sekala-Niskala, Siwaratri untuk Introspeksi Diri

Senin, 15 Jan 2018 09:11 | editor : I Putu Suyatra

Imbangi Sekala-Niskala, Siwaratri untuk Introspeksi Diri

Dr. I Ketut Wardanayasa, SE.M.Fil.H (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Meski Shivaratri atau Siwaratri dilaksankana dari tahun ke tahun, namun tak sedikit generasi muda sampai sekarang banyak yang salah kaprah melaksanakannya. 

Demikian dikatakan salah satu Dosen IHDN, Dr. I Ketut Wardanayasa,SE. M.Fil.H ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya, Jalan Cekomaria, Denpasar, Minggu kemarin (14/1).
Shivaratri yang diperingati Senin (15/1) malam ini,  selain malam Siwa juga sebagai malam peleburan dosa.  "Dalam peleburan tersebut bukan saja sebagai penghancur dosa, hanya saja mengurangi dan terus mengurangi," terangnya.


Secara garis besar, lanjutnya, jika dilihat secara postif lebih baik daripada beberapa tahun lalu,  lebih semarak dirayakan karena generasi muda  terlibat langsung. “Kalau sekarang sudah mulai anak muda semakin menyadari untuk merenungi kesalahan yang mereka perbuat. Namun, hanya perlu diluruskan saja agar lebih ke arah positif,” paparnya.


Wardanayasa juga menerangkan, Shivaratri merupakan malam Siwa yang sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dikatakannya, semestinya kita dapat melalukan peleburan, dalam artian peleburan kesalahan-kesalahan yang sempat dilakukan.  Apa yang diperbuat dan  telah dilakukan, lanjutnya,  tidak saja ditebus dengan cara begadang saja. Namun, melengkapinya dengan cara beryoga maupun dengan bermeditasi.


“Ibaratkan seperti garam dalam air. Garam itu bayangkan sebagai dosa kita yang pernah diperbuat, dan air perbuatan baik kita. Asinnya masih terasa ketika diisi air, hanya saja ketika airnya banyak, rasa garam itu menjadi sedikit. Sama halnya dosa kita, jika diisi dengan perbuatan baik dan karma yang baik akan mengurang juga kesalahan tersebut.  Tentu tidak secara instan  karena memerlukan proses dan spiritual yang bagus,” imbuhnya.


Wardanayasa menambahkan, di zaman sekarang orang-orang sibuk mencari Tuhan ke luar, baik dengan cara bersembahyang ke berbagai tempat. Laku seperti  Itu menurutnya tidak salah, namun alangkah baiknya jika Tuhan yang ada dalam diri kita sendiri itu yang ditingkatkan spiritualnya. “Semakin ke dalam maka semakin tenang, dan semakin ikhlas dalam melakukan suatu pekerjaan. Memang sangat sulit, tetapi yang ada pada diri jasmani, rohani dan duniawi itu harus seimbang,” jelasnya.


Ketika ketiga hal tersebut seimbang, lanjutnya, stres  maupun depresi tidak akan dirasakan oleh seseorang. Ia  menambahkan, sebaiknya dalam perayaan Shivaratri harus menarik diri, merenungi diri sehingga selaras secara sekala maupun niskala. " Jangan Shivaratri sebagai ajang begadang, namun sebagai momen perenungan diri sendiri," pungkasnya. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia