Sabtu, 20 Oct 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Siwaratri, Malam Perenungan Dosa, Bukan Begadang Biasa

Senin, 15 Jan 2018 09:38 | editor : I Putu Suyatra

Siwaratri, Malam Perenungan Dosa, Bukan Begadang Biasa

Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Shivaratri atau Siwaratri meriah dirayakan belakangan ini, remaja pun turut larut. Namun, masih banyak yang perlu diluruskan soal makna dan tata caranya.

Siwaratri berawal dari kisah seorang pemburu bernama Lubdhaka yang diuraikan pada sebuah karya sastra Jawa kuna, sehingga di Bali dikenal juga dengan kekawin Lubdhaka. Bahkan,  kisahnya memiliki nilai religius yang mendalam dari aspek filosofi, moral, dan ritual.


Demikian dijelaskan Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di Gria Wanasari Sanur, Denpasar, Minggu (14/1) kemarin.  “Dalam hal ini Lubdhaka jiwanya diliputi kegelapan atau awidya oleh keduniawian. Inilah sesungguhnya tonggak peringatan di mana umat Hindu senantiasa melebur kepapaan hidupnya,” terang mantan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB) Bali ini.


Kepapaan tersebut, lanjutnya, pada malam Shivaratri  agar terlepas dari belenggu kegelapan hidup. "Kegelapan jiwa, kebebasan dari kebodohan, ketidaksadaran, bebas dari ikatan duniawi, agar mencapai Widya. Yaitu hidup yang terang Jagaditha dan mencapai Moksa," terangnya.


Sebab dalam kisahnya, lanjutnya, pemburuan Lubdhaka kemalaman di tengah hutan adalah simbol bahwa dirinya hidup papa dan berada di kegelapan duniawi.


“Inilah kiranya yang melandasi kenapa itu disebut Shivaratri atau Malam Siwa. Malam berarti gelap. Pikiran atau jiwa yang gelap, berarti Awidya, dan orang yag berada dalam keadaan Awidya pasti hidupnya papa. Sedang kata Siwa tiada lain Ista Dewa Sang Hyang Widhi dalam fungsi beliau sebagai pelebur. Jadi Shivaratri atau Malam Siwa berarti peleburan Awidya atau peleburan kepapaan hidup,” terangnya.


Lubdhaka menyadari hidupnya yang papa, kemudian berusaha meningkatkan kualitas hidupnya dengan berata Shivaratri, yakni Jagra, Upavasa, dan Monobrata.  "Jagra yang berarti selalu mawas diri, bahwa ia sadar dengan berusaha mempertinggi pengetahuannya. Sehingga ia melek dengan ilmu pengetahuan. Bahkan selalu dengan mawas diri, karena kepandaian sendiri sering kali menurutnya membuat orang lupa diri. Mengakibatkan mabuk dengan kepandaian yang dimiliki," terangnya.


Selanjutnya,  Upavasa diartikan sebagai berata tidak makan atau minum. Di mana ia menyebutkan hal itu sebagai pengendalaian diri. Tentu untuk membebaskan diri dari belenggu duniawi, sehingga tahap demi tahap hidup dapat diarahkan menuju kesempurnaan. Sedangkan Monobrata adalah   pantang berbicara pada waktu tertentu. Bertujuan untuk mendapatkan suasana yang hening, tentram sehingga pikiran menjadi fokus mengadakan Yoga atau bersembahyang.


Ida  Pedanda Wanasari menerangkan terkait pelaksanaannya,  sesuai dengan hasil Paruman Sulinggih Provinsi Bali, September 1995 lalu. Di mana khusus untuk welaka pada pagi hari sejak matahari terbit pada Purwaning Tilem Kapitu, melakukan asuci laksana, mandi serta berpakaian rapi sesuai sesana, mulai  menggelar brata Jagra sambil memohon tuntunan kehadapan Bhatara Surya dan Bhatara Kamimitan agar diberikan kekuatan positif.


“Untuk sarana upacara Shivaratri pada tingkatan tersebut yang perlu dipersiapkan adalah di Sanggar Surya menghaturkan banten pejati. Pada hadapan mamuja menghaturkan sesayut pengambian, prayascita dan banten lingga yang terbuat dari bunga widuri putih beralaskan daun pisang kayu, dihiasi dengan bunga, padang dreman, wangi-wangian dan 108 lembar daun bila. Sedangkan di Pura menghaturkan banten daksina dan  beberapa canang dan dinatar menghaturkan segehan nasi cacah,” terangnya. 


Dikatakannya,  Jagra sebaiknya dilakukan selama 36 jam, yaitu sejak matahari terbit pada pangelong ping 14 sasih kapitu sampai keesokan harinya setelah matahari terbenam. Adapun acara pemujaan dilakukan pada malam harinya sebanyak 3 (tiga) kali pada tahap dengan upakara yang telah dipersiapkan. Pada malam tiba pada pangelong ping 14 sasih kapitu, melakukan pemujaan yang ditujukan kehadapan Bhatara Siwa Lingga dengan beberapa Ista Dewata beliau. Persembahyangan pada tahap ini ditujukan ke hadapan Bhatara Suryaraditya, Iswara, Wisnu, Brahma Siwa,  Bhatara Sumur (Gangga), dan Ghana.


Kedua  saat tengah malam kembali melakukan pemujaan  juga dibarengi dengan persembahyangan. Di mana sembah ditujukan kehadapan Suryaraditya, Iswara, Wisnu, Brahma, Siwa, dan Giriputri.

Sedangkan ketiga, menjelang pagi melakukan pemujaan yang sama dengan persembahyangan ditujukan kehadapan Suryaraditya, Iswara, Wisnu, Brahma, Siwa, dan Bhatara Kumara.  “Perlu diingatkan setiap kali kita selesai melaksanakan persembahyangan, seperti biasa dilanjutkan dengan nunas tirtha dan mabija. Selain itu, pusatkan pikiran pada Padmasana dan kekuatan tengah samudra agar lebur segala papa neraka kita sekalian. Sedangkan keesokan harinya pagi-pagi dilakukan upacara nyurud dengan ngalebar brata puasa dan monobrata (bagi yang melaksanakan), tapi brata Jagra masih tetap dilakukan sampai sore harinya menjelang matahari terbenam,” imbuhnya.


Di tempat berbeda, salah satu dosen IHDN Denpasar, Dr. I Ketut Wardanayasa, SE. M.Fil.H, mengungkapkan, remaja kini sering melaksanakan Shivaratri yang kurang tepat. “Biasanya para remaja kan sering berpasangan menuju pura sembahyang, habis itu terkadang juga langsung sampai pagi ke pantai. Sehingga itulah yang perlu diluruskan,” jelas Wardanayasa.


Diakuinya , perayaan Shivaratri   sudah sangat semarak dibandingkan dengan perayaan  zaman dulu. Hanya saja, lanjut Wardanayasa, perlu dibimbing agar ke arah yang lebih positif,  agar condong untuk meningkatkan spiritualitas diri sendiri.  

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia