Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Akademisi Hindu Harus Bisa Ungkap Esensi Spiritual Dalam Ritual

18 Januari 2018, 16: 26: 43 WIB | editor : I Putu Suyatra

Akademisi Hindu Harus Bisa Ungkap Esensi Spiritual Dalam Ritual

RITUAL: Akademisi Hindu memiliki tugas, salah satunya adalah mengungkap esensi spiritual di dalam sebuah ritual. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Agama Hindu, khususnya di Bali kental dengan ritual. Hampir di setiap hari ada ritual yang dilaksanakan, apalagi pada saat hari raya. Ritual-ritual tersebut sudah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat.

Sementara itu, seiring perkembangan zaman, kian banyak akademisi Hindu yang lahir. Para akademisi punya tugas yang tak mudah. Gelar yang disandang membawa konsekuensi yang harus dijalankan, sehingga mendatangkan manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satunya adalah menghasilkan sebuah penemuan melalui riset yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Berbicara spiritual, only love is real atau hanya cinta yang riil. Cuma, Vedic harus kita pelajari bersama sebagai akademisi. Sebagai contoh, konten Weda yang berbicara cinta kasih itu apa saja, apa saja implikasinya? Kita kan mengkaji,” ujar I Made Budiasa, S.Sos., M.Si kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (17/1).

Salah satu yang menjadi sorotan adalah seputar ritual umat Hindu. Saat ini, kata dia, ritual beragam adanya. Bahkan terlihat seolah ada kontestasi antara tradisi dengan Hindu modern. Kemudian muncul pula ritual yang hibrida, yakni digabung, antara ritual yang dulu dan saat ini. “Jadi banyak sekali sumber-sumber yang harus digali untuk melakukan suatu ritual yang betul-betul tepat. Ini merupakan tugas akademisi untuk menggali,” tegasnya.

Dosen IHDN Denpasar tersebut mengatakan, barangkali sudah banyak masyarakat yang tahu nilai di balik ritual itu. Namun demikian, permasalahannya sekarang, akademisi bertugas membawa masyarakat awam yang hanya tahu praktik tanpa makna, sehingga praktik keagamaan Hindu semua terkoneksi dengan sumbernya, atau jelas sastranya. “Jadi bukan semata-mata konstruksi budaya atau konstruksi manusia, tapi pemaknaannya, bagaimana kita meyakini Weda adalah sebuah wahyu yang kita temukan dan secara logika semua orang menerimanya karena itu sebuah kebenaran,” terang antropolog tersebut.

Budiasa melanjutkan, tentu tidak cukup mengatakan only love is real, tapi untuk menguatkan keyakinan, juga harus punya kutipan-kutipan yang jelas dari sumber yang jelas pula, dalam hal ini Weda. “Jangan sampai seperti kritikan seorang antropolog, orang Bali hanya sibuk ber-yadnya, tapi tidak tahu makna. Jadi harus dijawab. Ini adalah sebuah tantangan untuk akademisi. Mencari sumber-sumber yang tepat dan benar, sehingga yang terjadi di masyarakat, tidak memperdebatkan sebuah ritual, tapi mencari nilai spiritual,” tegasnya.

Sehubungan dengan itu, kata Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran dan Riset tersebut, dengan makin banyaknya sarjana Hindu, perlu banyak riset budaya dan sosial yang dikoneksikan dengan konstitutif sastra Weda. Teksnya adalah Weda, sedangkan konteksnya ada di masyarakat. “Nah, diharapkan akademisi melihat praktik keberagamaan itu, bisa dilihat benang merahnya, sampai akhirnya terjadi harmonisasi, bukan ketidakharmonisan. Termasuk teori-teori yang digunakan untuk melihat itu pun harus dikembangkan akademisi,” jelasnya.

Di samping itu, kata Budiasa, tidak cukup mengetahui isi Weda, dalam hal ini Rig Weda, Yajur Weda, Sama Weda, dan Atharwa Weda. Seorang akademisi hendaknya mampu meneliti secara sains, sebuah teks yang dicocokkan dengan konteks di masyarakat. Dengan demikian, sisi logis suatu ritual juga bisa terungkap. “Jadi, bagaimana teks Vedic ini ada dalam konteks riil kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya lagi ritual,” katanya.

Di tengah tugas berat akademisi tersebut, sejumlah tantangan lain pun membentang. Tantangan terbesar menurutnya adalah semakin banyaknya produksi ritual saat ini. Padahal sudah ada tradisi yang yang merupakan bekal dari genealogis, yakni ritual yang sudah ada dari dulu. Lebih-lebih, ada perbedaan praktik ritual antar satu desa dengan yang lain, atau biasa disebut desa kala patra. 

Sementara itu pula, sekarang zaman sudah global. Umat dihadapkan dengan cyber space alias dunia maya. Menurutnya banyak religion movement atau pergerakan agama baru yang sumbernya dari internet. “Ini menjadi sebuah tantangan. Ketika anak-anak zaman sekarang referensinya, sifatnya tidak hanya berdasarkan pewarisan orang tua setempat, tapi dia bisa melihat langsung ke India atau melalui siber ke sumber aslinya,” ujarnya.

Dengan adanya sistem digitalisasi, masyarakat dengan mudah sekali bisa mendapatkan sebuah tata cara ritual baru. Mereka pun bisa memilih ritual yang dianggap sejalan dengan keyakinannya. “Itu menjadi sebuah pilihan bagi mereka. Sehingga di situ ada rasionalisasi ritual. Itu menjadi sebuah tantangan. Terkadang ada sebuah kontestasi ritual dan ada percampuran ritual yang baru,” katanya.

Hal ini, kata dia, mewarnai sistem pengetahuan masyarakat, khususnya generasi muda, dan lama-lama mempengaruhi praktik keagamaan mereka. Jika akademisi tidak kuat menjelaskan keberadaan agama, akan terjadi perubahan besar-besaran. Jika ke arah positif tentunya tak masalah, namun perubahan ke negatif yang harus diantisipasi. “Harus ada counter berdasarkan riset. Riset harus dipublikasikan dengan penerbitan yang bertanggung jawab,” tegasnya.

Sejalan dengan makin banyaknya ritual itu, kata pria asli Denpasar tersebut, kalau tidak diteliti dan dikaji dengan bagus, masyarakat bukan terarah ke spiritualitas, tapi makin sibuk dengan ritual-ritual baru yang justru seolah aksesoris sifatnya, bukan esensi. Bisa pula justru mengganti ritual yang lama dengan yang baru karena melihat esensinya. “Nah, hal ini kan perlu penelitian. Jadi akademisi harus banyak melakukan riset,” terangnya.

Meski begitu, sesungguhnya, kata pria 37 tahun tersebut, dengan munculanya berbagai praktik keagamaan Hindu di Bali belakangan ini, sekali lagi ia menegaskan, only love is real. Oleh karena cinta kasih yang utama, maka semestinya menurutnya, ada transformasi kesadaran, bahwa umat tidak berhenti di ritual semata. Meski ritual banyak jumlahnya, namun sesungguhnya esensinya yang harus dilihat adalah cinta kasih dan kesetiaan di dalamnya. “Esensi dari ritual itu, tidak jauh dari nilai cinta kasih, tidak jauh dari filosofis satya, dharma, santhi, dan sebagainya. Jadi yang terpenting adalah melihat esensinya. Jadi jangan berhenti di ritual, tapi maknanya secara spiritual,” terangnya.

Dengan demikian, meski ada ritual yang berbeda, umat yang telah memiliki kesadaran bisa melihat makna yang universal di baliknya. “Sama seperti kita melihat, hanya atma yang abadi, tubuh ini tidak abadi. Sama juga kita melihat sebuah ritual, esensinya harus diketahui. Barangkali sudah banyak yang memiliki kesadaran seperti itu. Cuma sekarang akademisi yang punya tugas menguatkan,” ujarnya.

Pun belajar agama melalui perantara dunia maya tidak bisa dibendung. Dalam hal ini, Budiasa berpesan agar umat hendaknya selektif dalam memilih sumber suatu konten. Di samping itu, keberadaan seorang guru yang bonafit dalam menuntun belajar spiritual tetap masih penting. Hendaknya interaksi antar guru dan murid tetap bisa terjalin. Murid bisa bertanya secara langsung dan guru pun bisa menilai pemahaman muridnya. Oleh karena itu, bertemu langsung dengan seorang guru, menurutnya juga tetap penting.  Jangan sampai sebuah konten dan arahan guru dilasahtafsirkan.

“Misalnya guru bilang A, justru diartikan Z. Ini kan jauh sekali. Implikasinya, bisa terjadi kesalahan pengertian. Jadi belajar langsung kepada seorang guru atau yang disebut dengan istilah parampara tetap penting,” tandas Ketua IHDN Press tersebut. 

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia