Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

P2TP2A Kampanye Hentikan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak

27 Januari 2018, 15: 21: 09 WIB | editor : I Putu Suyatra

P2TP2A Kampanye Hentikan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak

DUKA: Ketua P2TP2A Tabanan Ni Nengah Budawati saat mengunjungi rumah korban, Jumat (26/1). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Tabanan akan menggelar aksi solidaritas terkait kasus kematian siswi SMP asal Selemadeg, LGDS, 14, usai melakukan hubungan badan dengan pacarnya, Gung De Wiradana, 25, asal Seririt, Buleleng, Minggu (21/1). Aksi itu dilakukan sebagai bentuk dukungan kepada Pemda Tabanan beserta Polres Tabanan untuk menuntaskan upaya hukum terhadap pelaku.

Ketua P2TP2A Tabanan, Ni Nengah Budawati menjelaskan bahwa aksi solidaritas tersebut akan dilakukan Senin lusa (29/1) di Patung Wagimin, Tabanan. Nantinya aksi ini akan diisi dengan orasi mengenai kesehatan reproduksi anak apabila melakukan seks di bawah umur, kemudian penyampaikan dukungan moral serta doa bersama untuk mendiang LGDS. “Aksi ini akan diikuti P2TP2A Tabanan, bersama Women Crisic Center (WCC) dan para pemerhati perempuan dan anak di Tabanan dan di Bali, Forum Anak Daerah, bahkan teman-teman korban juga mengaku ingin ikut aksi ini sebagai wujud kepedulian mereka,” ujarnya Jumat kemarin (26/1).

Budawati menambahkan, sebelum itu sekitar pukul 12.00 pihaknya terlebih dahulu akan melakukan audiensi dengan Bupati Tabanan, Kapolres Tabanan serta Ketua DPRD Tabanan mengenai kasus tersebut. Agar bagaimana semua pihak dapat turut memberikan perhatian dan dukungan atas kasus ini. “Intinya kita akan kampanye untuk menghentikan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak,” imbuhnya.

Maka dari itu, saat ini pihaknya tengah melakukan persiapan untuk aksi tersebut, termasuk nantinya meminta pengawalan dari petugas kepolisian. Sebelumnya, P2TP2A Tabanan bersama Dinas Sosial Tabanan juga telah mengunjungi keluarga korban untuk memberikan ucapan bela sungkawa dan dukungan moral. Dalam kunjungan tersebut, orang tua korban menyampaikan bahwa saat ini memang terkendala finansial, terlebih orang tua korban hanya buruh serabutan. “Mereka menyampaikan bahwa kesulitan finansial untuk biaya pengabenan korban nanti saat jenazahnya sudah bisa dibawa pulang setelah tanggal 31 Januari 2018 nanti,” papar Budawati.

Maka dari itu, dalam aksi solidaritas nanti pihaknya juga akan menggalang dana sukarela untuk membantu keluarga korban, meskipun dari pihak keluarga tersangka sudah sempat datang kerumah korban untuk menawarkan bantuan membiayai pengabenan korban.

Dengan adanya kasus ini, pihaknya berharap tersangka dapat dihukum seberat-beratnya, sehingga tak ada lagi kasus serupa terjadi. “Saat ini kita masih menunggu hasil otopsi, dan kami minta agar tersangka dihukum seberat-beratnya,” pungkasnya.

Sementara itu, berdasar sumber di lapangan orang tua korban masih shock atas kepergian korban. Mereka sama sekali tidak menyangka jika korban akan meninggal dunia dengan cara tragis seperti itu. Pasalnya tidak ada yang aneh dari tingkah laku korban, bahkan setelah melakukan hubungan badan pertama kali dengan tersangka tanggal 16 Januari 2018 lalu. 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia