Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Jero Komang Meneng, Balian Pijat Desa Patemon

Pasien Ratusan, Tolak Sesari, Pijatnya Bisa Kurang dari Semenit

28 Januari 2018, 16: 46: 21 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pasien Ratusan, Tolak Sesari, Pijatnya Bisa Kurang dari Semenit

BALIAN PIJAT: Jero Komang Meneng tangani pasien dalam hitungan menit. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SERIRIT - Berkat ngiring paican Ida Bhatara Dalem, balian pijat, Jero Komang Meneng, 56, yang tinggal di Dusun Sema, Desa Patemon, Kecamatan Seririt, dikenal di seantero Bali, bahkan hingga ke luar negeri.

Berbagai permasalahan tulang, seperti keseleo persendian, tulang bergeser hingga patah tulang, bisa ditangani Jero Komang Meneng dengan waktu pengobatan dalam hitungan menit. Pasiennya pun berdatangan dari seluruh Bali, bahkan luar Bali hingga luar negeri.

Tidak sulit menemukan rumah kediaman Jero Komang Meneng. Rumahnya masuk areal Setra Desa Patemon, menyusuri jalan yang dibeton. Hanya butuh waktu sekitar lima menit dari jalan utama, pasien bisa menemukan rumah yang dipenuhi dengan patung ini.

Ketika koran Bali Express (Jawa Pos Group) berkunjung ke kediamannya, Rabu (3/5/2017) siang lalu, Jero Komang Meneng sedang beristirahat. Saat menceritakan maksud kedatangan koran ini, Jero Meneng dengan ramah mempersilakan untuk masuk ke kamar sucinya. “Silakan duduk, baru saja Pak Bupati Buleleng pergi habis dipijat juga,” ujar Jero Meneng.

Di dalam kamar sucinya terdapat sebuah palinggih padmasana yang dicat warna kuning emas. Tumpukan canang sari segar dengan bunga warna-warni serta aroma dupa yang masih menyala, menandakan jika pada hari tersebut pasien sudah banyak datang ke rumahnya Jero Meneng untuk berobat. Di kamar suci inilah Jero Meneng biasanya mengobati para pasiennya.

“Tiang sejak kecil memang senang sekali mencari tempat-tempat sepi, untuk sembahyang. Bukan memuja yang aneh-aneh, hanya sembahyang kepada Ida Sang Hyang Widhi saja lewat mantram Gayatri,” paparnya.

Lambat laun, lanjutnya, sekitar  tahun 80-an bermimpi didatangi Bhatara Dalem dan dapat pawisik (bisikan gaib). “Beliau meminta saya agar membantu orang. Lalu dalam mimpi, saya bertanya balik kepada Bhatara Dalem, bagaimana caranya saya membantu orang, sedangkan saya sangat bodoh, secara material saya juga terbatas,” ujarnya.

Dikatakan Jero Meneng, jika Bhatara Dalem ternyata menganugerahkan kekuatan kepada dirinya. “Setelah diberikan kekuatan, saya belum menyadari. Untuk apa kekuatan tersebut,” ujarnya.

Lewat mimpi, lanjutnya, Bhatara Dalem memintanya  untuk menolong orang sakit. “Saya belum tahu, gimana caranya menolong orang sakit dengan kekuatan itu. Ternyata memang benar, tiba-tiba ada pasien datang ke gubuk saya. Saya dipaksa untuk mengobati orang yang menderita sakit tulang. Dan,  astungkara bisa sembuh. Saat itulah saya baru menyadari seperti apa kekuatan yang dianugerahkan,” akunya.

Dalam perjalanannya, para pasien yang ditangani rata-rata mengalami permasalahan pada tulang. Semisal tulang bergeser, persendian keseleo, kaki terkilir, tulang retak hingga patah tulang. Mereka datang berasal dari seluruh Bali, bahkan luar Bali seperti Jawa dan Lombok, hingga tak jarang ada pasien asing yang juga datang berobat. Jika sakit pada tulangnya parah, seperti patah ataupun retak, pasien dalam sebulan bisa tiga kali menjalani pengobatan hingga sembuh total.

“Tiap hari minimal saya melayani 80 orang pasien. Bahkan kalau sedang ramai-ramianya, sehari bisa 150 pasien yang datang. Itu bisa terlihat dari jumlah canang sari yang dihaturkan di palinggih padmasana,” jelasnya.

Saat ada pasien datang, Jero Meneng dengan sigap langsung mempersilakan masuk ke kamar sucinya. Kemudian canang sari serta rarapan (bawaan berupa kopi gula dan rokok) yang dibawa  pasien tersebut dihaturkan pada palinggih padmasana di kamar sucinya. Setelah nguningang dengan mantram Om Namah Siwaya, ia langsung meminta pasien tersebut merebahkan badannya, kemudian dipijat pada titik sakitnya.

Kebetulan pasien yang ditangani saat itu adalah balita, yang mengalami keseleo pergelangan kaki, sehingga tidak bisa berjalan dengan baik. Ia pun seolah memiliki mata bathin untuk mengetahui titik mana yang harus dia ambil, sehingga benar-benar tepat sasaran. Kemampuan menerawang itulah yang ia sebut sebagai sebuah anugerah dari Ida Sasuhunan Bhatara Dalem.

Benar saja. Setelah nguningang canang sari tersebut Jero Meneng langsung mengetahui titik sakitnya. Ia pun memanfaatkan momen itu untuk melakukan pemijatan dengan menggunakan kedua tangannya sembari mengembalikan posisi tulang yang keseleo. Tidak ada waktu semenit mengobati, posisi tulang yang sempat keseleo tersebut sudah kembali normal.

Menurut Jero Meneng, jika kemampuannya mendeteksi titik penyakit pada tulang tersebut secara spontan ia dapatkan usai nguningang canang sari yang dibawa pasien. “Setelah nguningang biasanya diberikan tuntunan untuk melihat sumber sakitnya. Secepatnya harus dipijat,” urainya.

Kemampuan penerawangan itu tidak lebih dari semenit, biasanya langsung hilang. Kalau sudah kemampuan menerawang hilang, berarti pasien tersebut harus selesai dipijat.

“Saya tak berani lagi coba-coba memijatnya, takutnya salah ambil karena dipaksakan,” imbuhnya.

Dari beberapa pasien yang sempat dilihat saat koran ini berkunjung,  tak satu pun sesari (uang yang ditaruh di canang sari) yang dihturkan kepada Jero Meneng sebagai tanda terima kasih diterimanya. Namun malah dikembalikan lagi kepada pasien. Intinya Jero Meneng menolak dengan halus sesari tersebut. Koran ini pun dibuat penasaran dengan maksudnya menolak sesari itu.

“Sejak saya menjadi balian pijat, tidak pernah menerima sesari yang dihaturkan pasien. Bukan bermaksud menolak rezeki. Hanya saja itulah janji saya kepada Ida Sasuhunan, bahwa saya tidak ingin memberatkan para pasien yang sakit, saya hanya ingin menolong sesama. Sesari itu biasanya saya kembalikan lagi kepada pasien. Sedangkan rarapannya memang saya haturkan kepada Ida Sasuhunan Bhatara Dalem,” ungkapnya.

Berkat kemampuannya itu, sekitar tahun 90-an ia bahkan sempat ditawari oleh pihak RS Sanglah untuk membuka praktik di sana sembari memberikan pelatihan kepada para terapis. Namun , tawaran tersebut ia tolak, lantaran ingin fokus melayani secara pribadi di rumahnya.

“Di sisi lain, saya juga khawatir kalau tawaran itu diterima ternyata kemampuan menerawang saat membuka praktik di RS Sanglah tiba-tiba hilang, kan mengecewakan nantinya,” kata Jero Meneng.

Saat melayani pasien, kesehariannya dia dibantu oleh putra bungsunya, Kadek Panji yang masih duduk di kelas IV SD. Ia pun berharap agar kelak salah satu dari anaknya ada yang mengikuti jejaknya ngayah untuk menolong orang sakit menjadi balian Pijat.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia