Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Kulkul Keramat di Puri Agung Klungkung

Jika Pajenengan Suara Bunyi Sendiri, Pertanda Musibah

04 Februari 2018, 12: 20: 38 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jika Pajenengan Suara Bunyi Sendiri, Pertanda Musibah

KERAMAT : Kulkul yang ada di Puri Klungkung tak sembarang dipukul atau ditepak. Namun, kulkul keramat ini bisa bunyi sendiri, bila akan terjadi musibah atau bencana datang. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Keberadaan dua buah kulkul di Puri Agung Klungkung berbeda dibandingkan kulkul pada umumnya. Kulkul ini dipercaya lanang-istri (laki-perempuan), dan termasuk dikeramatkan. Seperti apa?

Berbicara kulkul merupakan hal lumrah di Bali. Mudah ditemui. Hampir setiap banjar adat, desa adat di Bali memiliki kulkul. Belum lagi sejumlah pura, dan tempat-tempat tertentu juga ada kulkul. Dari sekian banyak kulkul di Bali, ada yang memang dikeramatkan. Salah satunya terdapat di Puri Agung Klungkung. Di sana ada dua kulkul  yang dibuatkan bale kulkul. Dua kulkul yang diyakini lanang-istri ini ditempatkan berdampingan dalam satu bale kulkul. Oleh pihak puri, kulkul ini disebutnya Pajenengan Suara. Posisinya ada di sebelah selatan semanggen puri setempat. Lantaran posisi bale kulkulnya tinggi,  Pajenengan Suara ini bisa dilihat dari jalan raya Untung Surapati, Semarapura. Mengingat Puri Agung Klungkung memang berada di pinggir jalan raya tersebut.


Secara kasat mata, Pajenengan Suara yang masing-masing dibalut kain kasa ini, tak ada bedanya dengan kulkul pada umumnya. Namun, sebagaimana penuturan Raja Klungkung, Ida Dalem Smara Putra, tak diketahui dengan pasti kapan itu dibuat. Termasuk kayu yang digunakan juga tak bisa dipastikan. Konon, bahannya katik kayu sila gui. “Saya dengar sila gui itu kecil. Tapi kok bisa jadi kulkul,” ujar Ida Dalem dengan nada keheranan. Tak hanya kayu yang digunakan masih misteri. Ukurannya pun tak bisa dipastikan. Dilihat sepintas, panjangnya lebih dari satu meter. Dengan diameter tak sampai 100  sentimeter. “Terus terang saja, kami tidak pernah mengukur. Katanya kalau diukur hasilnya bisa berubah-ubah. Makanya tidak berani,” terang Ida Dalem saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Puri Agung Klungkung, Kamis (4/5/2017).

Pihaknya sebatas menegaskan bahwa ukuran sepasang kulkul itu berbeda. “Yang istri ukurannya lebih kecil,” imbuhnya. 

Meski tak mengetahui kapan pembuatannya, panglingsir puri yang sebelum abiseka sempat menjadi Kepala Pusat Pengujian Kendaraan Bermotor, Dirjen Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan RI ini, menceritakan,  kulkul itu berada di Puri Agung Klungkung sejak sekitar 1964. Saat Dewa Agung Gede Oka Geg menjadi Raja Klungkung. Sebelumnya, kulkul itu berada di Puri Semarajaya, areal Kerta Gosa saat ini. Sekitar 1908 terjadi Perang Puputan. Bangunan puri itu rusak berat.  Banyak pejuang gugur, ada juga yang meninggalkan puri. Sehingga, puri pun kosong.  Ada rakyat kala itu berinisiatif memindahkan kulkul tersebut ke Pura Dalem Kresek di perbatasan Desa Besang dan Bendul, Klungkung. Sekitar tahun 1964 dipindahkan ke Puri Agung Klungkung.


Selain asal-asul yang tak diketahui dengan pasti, membunyikan kulkul itu  tak sembarangan. Setahu Ida Dalem, kulkul itu sempat disuarakan saat prosesi pretiwa Raja Klungkung Dewa Agung Gede Oka Geg tahun 1965 silam. Biasa juga disuarakan setiap tumpek wariga, bertepatan dengan pujawali Pajenengan Suara. Namun, tak sembarangan berani nepak, menyuarakan kulkul itu. Selain itu, sempat juga dibunyikan saat Ida Dalem abiseka 2010 lalu. “Sebelum abiseka, biasanya saya membunyikan saat pujawali,” terang Ida Dalem.


Kulkul itu, lanjut panglingsir Agung Paiketan Puri-puri Sajebag Bali ini, juga pernah bunyi sendiri. Uniknya, malah yang mendengar masyarakat dari luar Klungkung. Suaranya pernah terdengar sekitar 1970-an. Bunyi kulkul kala itu bertanda akan ada wabah penyakit. “Karena sudah ada tanda, maka wabah cepat diatasi,” terangnya. Sebelum bencana bom Bali I tahun 2002, serta bom Bali II tahun 2005 juga sempat terdengar oleh masyarakat luar Klungkung. Cuma tak terbaca bencana yang akan terjadi di Pulau Dewata. “Saat itu terdengar dari klod kauh. Justru di puri malah tidak kedengaran.  Ternyata bom meledak di Kuta,” kenang Ida Dalem yang sebelum abiseka bernama Tjokoda Gede Agung Sumara Putra.


Ida Dalem sendiri pernah mendengar kulkul itu berbunyi tahun 2007, yakni sebelum terjadinya gempa bumi di Sumatra Barat. Dia pun sempat kaget dengan suara kulkul itu karena terjadi tengah malam. Hal itu pun membuatnya berpikir tentang kondisi Bali, karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, kalau sudah ada bunyi sendiri pertanda akan ada bencana. “Syukur tidak ada bencana di Bali, tapi waktu itu ada gempa di Sumatra Barat,” ucapnya, sambil menirukan suara kulkul. 


Panglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Smara Putra mengakui, tak ada perawatan khusus soal Pajenengan Suara itu. Hanya bale kulkulnya yang direncanakan bakal direhab. Namun, belum dipastikan kapan tepatnya akan dilakukan perbaikan. Ini karena pihak puri masih memikirkan biaya, termasuk seperti apa bangunan bale tersebut. “Rasanya sebelum tahun 2005 sempat ada perehaban. Sekarang kami rencanakan rehab bangunan balenya,” terang Ida Dalem.


Ida Dalem menegaskan, secara niskala memang diperbolehkan melakukan perehaban. Asalkan tidak mengubah fisik kulkulnya. Perehaban sebatas pada balenya saja. “Rencananya rehab total, kecuali Pajenengan Suara,” tandas.


Pantauan koran ini, pada Pajenengan Suara itu terdapat palinggih. Bangunan bale kulkul itu menggunakan style Bali. “Kelihatannya masih bagus. Tapi kami anggap perlu direhab. Agak sudah lama tak direhab,” pungkasnya. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news