Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Nebusin, Ritual Mengembalikan Roh, Menukar Atma dengan Upakara

04 Februari 2018, 15: 53: 44 WIB | editor : I Putu Suyatra

Nebusin, Ritual Mengembalikan Roh, Menukar Atma dengan Upakara

PADANG LEPAS : Salah satu sarana untuk memercikkan tirta panglukatan adalah padang lepas yang biasa tumbuh liar. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Meski zaman sudah modern, namun masyarakat Hindu di Bali  tetap mempertahankan ritual-ritual unik. Hal itu tak bisa dilepaskan karena berkaitan dengan kepercayaan. Salah satunya ada nebusin. 

Nebusin memiliki makna yang sama dengan kata menebus, namun dalam konteks ini berhubungan dengan sebuah ritual yang dilakukan untuk mengembalikan roh seseorang akibat sakit secara niskala (gaib), utang lahir, atau karena peristiwa kecelakaan.


Ritual nebusin umumnya dilakukan di tempat suci, seperti pura atau catus pata. Bisa pula di tempat tertentu yang berkaitan dengan sebuah insiden, seperti lokasi kecelakaan atau bencana. Pelaksanaannya dipimpin oleh seorang pamangku didampingi keluarga yang bersangkutan dengan sejumlah upakara.


Jro Mangku Pura Dalem Puri Carangsari, Petang, Badung I Nyoman Netra tak menampik dirinya sering terlibat untuk urusan yang satu ini. Ia tak jarang diminta untuk memandu umat yang melangsungkan ritual nebusin, khususnya di Pura Dalem dan Prajapati setempat. Ia tak menyanggah , ritual nebusin yang berhubungan dengan orang yang sakit dilaksanakan oleh masyarakat berdasarkan petunjuk gaib. Petunjuk tersebut bisa didapatkan melalui mapinunas di balian atau petunjuk ida bhatara sasuhunan melalui karauhan atau mimpi.


Adapun sarana yang digunakan, di antaranya adalah banten soroh, daksina gede, penyambutan, dan turus lumbung pangaturan. Selanjutnya disiapkan penukar berupa ayam hitam yang baru beranjak dewasa. Ada pula tebasan atma rauh, kala lara melaradan, pangalang hati, pageh tuwuh, serta salaran gede.

“Masing-masing tempat mungkin berbeda. Kalau di sini sudah berlangsung seperti itu, tiang hanya melanjutkan saja,” ujar Jro Mangku Netra kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), Selasa (9/5/2017).

Sebelum menghaturkan banten panebusan, yang bersangkutan akan dilukat dulu, di sebuah palinggih bernama panggung catur yang terletak di jaba tengah Pura Dalem Puri. Hal itu untuk menjaga kesucian jeroan pura dari bekas-bekas panglukatan. 

Panggung catur dikatakan Netra,  fungsinya serupa dengan catus pata. Menariknya, sarana untuk memercikkan tirta panglukatan menggunakan enam jenis daun, yakni alang-alang, dadap, tulak, padang lepas, kelor, dan tenggulun.


Mengenai fungsi daun-daun tersebut , Jro Mangku hanya menyebutkan makna di balik penamaan daun, seperti alang-alang untuk menghalangi kembali masuknya pengaruh negatif dalam diri seseorang. Dadap adalah kayu sakti yang bisa memberikan peruwatan. Sementara  padang lepas untuk melepaskan yang bersangkutan dari penyakitnya, kelor untuk menetralisasi energi negatif. Dan,  tenggulun yang tumbuh di sekitar Pura Dalem dan dipercaya memiliki kekuatan magis.


Sementara itu, airnya, dikatakan Jro Mangku, menggunakan tirta dari beji. “Namun, yang terpenting dari semua itu adalah anugerah Ida Bhatara. Tiang hanya memohon kepada Beliau dengan menggunakan sarana tersebut,” ujarnya. Saat panglukatan, biasanya Jro Mangku berbagi tugas dengan Jro Mangku Istri, Ni Wayan Murni. Jro Mangku bertugas di jeroan untuk mapuja, sedangkan yang melukat adalah Jro Mangku Istri.


Tak jarang begitu diperciki tirta panglukatan,  orang tersebut langsung berteriak-teriak layaknya orang kesurupan. Seperti beberapa waktu lalu. Ada seorang remaja perempuan yang mengikuti ritual tersebut karena sejak beberapa hari sebelumnya sakit dan berbicara tidak jelas. Saat dilukat, yang bersangkutan langsung berteriak-teriak dan seperti orang menari dengan mata terpejam. Jro Mangku Istri pun sempat bercakap-cakap dengan yang bersangkutan. Jro Mangku Istri meminta agar roh yang merasuk tidak lagi mengganggu, kemudian diberikan tirta hingga yang bersangkutan kembali sadar dan diberikan asep (dupa) yang ditiup-tiupkan di beberapa bagian tubuhnya untuk menguatkan cakranya.


Usai malukat, barulah yang bersangkutan diarahkan ke jeroan untuk muspa, diberikan tirta, ngiderin (mengitari) palinggih gedong atau yang biasa disebut purwa daksina tiga kali membawa salaran serta bersujud kepada Ida Bhatara Dalem mohon kesembuhan. Setelah selesai, salaran kemudian dipatahkan.


Tujuan utama dari ritual tersebut untuk meminta kesembuhan. “Saya kembalikan kepada Beliau. Kalau memang sesuai karma phalanya ia sembuh, maka agar  disembuhkan. Kalau memang waktunya harus diambil, tiang pun tidak bisa berbuat banyak. Tiang hanya memohonkan, kan tidak boleh dan tidak bisa memaksakan agar yang bersangkutan sembuh. Saya bukan malaikat, namun hanya ngayah kepada Beliau,” ungkapnya. Namun, lanjutnya, meski akhirnya yang bersangkutan diambil, panebusan itu tidak sia-sia. 

"Di kehidupan mendatang diharapkan ia tidak lagi mengalami hal seperti ini, karena sudah dibayar dengan berbagai upakara,” imbuhnya.


Nebusin juga dikatakan karena utang lahir. “Mungkin dulunya ada perjanjian, diberikan numadi (reinkarnasi) tapi harus ditebus,” ujarnya.

Selanjutnya ritual nebusin juga dilakukan untuk memutus hubungan orang yang melik, yakni membawa tanda lahir khusus dan berisiko kematian jiga tidak diberika ritual tertentu. Dikatakannya, orang yang melik biasanya ditebus di prajapati.  


Di samping itu, ritual nebusin juga biasanya dilakukan di lokasi seseorang jatuh atau tewas karena suatu peristiwa. Jika lokasi peristiwa jauh, biasanya ditebus lewat pempatan agung atau catus pata.

“Biasanya disebut ngeplugin. Sebagai masyarakat Hindu di Bali, kita percaya dengan adanya nyama papat. Dipercaya atau tidak, pasca jatuh, biasanya yang bersangkutan tidak stabil kondisi kejiwaannya. Kadang ada nyama patnya yang terlepas. Dengan demikian , nyama patnya harus ditebus dan diajak pulang, lanjut natab, sehingga kembali menyatu dengan yang bersangkutan,” papar Jro Mangku.

(bx/adi/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news