Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Goa Raja Tajun; Dijaga 3 Naga, Ada Gentong yang Tak Pernah Kering

04 Februari 2018, 17: 23: 38 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Goa Raja Tajun; Dijaga 3 Naga, Ada Gentong yang Tak Pernah Kering

TIGA NAGA: Pura Goa Raja di Desa Tajun, Kubutambahan, Buleleng dijaga oleh tiga naga dan berada di kedalaman 177 meter. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, KUBUTAMBAHAN - Pura Goa Raja Tajun berada di Desa Tajun, Kubutambahan, Buleleng. Pura ini ada kaitannya dengan kisah Naga Gombang yang dihukum karena tak bisa menlan Puncak Bukit Sinunggal.

Ketika koran ini masuk ke dalam goa, suasana hening, tenang dan nyaman sungguh terasa. Meskipun pura ini berada di sebelah air terjun yang mengeluarkan suara begitu bergemuruh. Di dalam goa yang memiliki tinggi sekitar 3 meter ini, terdapat sebuah palinggih yang dijaga oleh 3 ekor patung naga.

Menurut Jero Nyoman Sukrai jika tiga ekor naga tersebut adalah Naga Taksaka (Iswara), Naga Anantaboga (Brahma) dan Naga Basuki (Wisnu). Sedangkan palinggihnya itu adalah melambangkan dari stana Dewa Siwa. “Sehingga kalau melukat, sudah pasti dilukat oleh Panca Dewata,” kata Jero Sukrai.

Lebih lanjut ia menjelaskan jika sumber mata air penglukatan itu disebutnya Tirta Pingit Sang Hyang Tunggal yang memiliki kemampuan untuk melebur dasa mala atau kekotoran, serta memiliki khasiat untuk penyembuhan.

“Sumber mata air ini tidak berasal dari kelebutan ataupun pancuran. Namun anehnya gentong yang di dalam goa tersebut selalu terisi. Ini yang cukup unik. Air inilah yang diyakini mampu melebur dasa mala serta papa, klesa, lara roga. Banyak yang telah membuktikan,” kata Jero Nyoman Sukrai.

Keberadaan Pura Goa Raja disebutkan Jero Nyoman Sukrai tidak lepas dari kisah Naga Gombang yang menjalani hukuman akibat tak mampu menelan Puncak Bukit Sinunggal. Ia pun menuturkan berdasarkan cerita dari para leluhurnya, jika Naga Gombang melihat keberadaan Pura Bukit Sinunggal dari Pulau Jawa sangatlah kecil. Karena terlihat kecil, Naga Gombang dengan sombongnya ingin menyantap habis bukit Sinunggal. Namun setelah ia datang ke Bali dan melihat dari jarak dekat ternyata Pura Bukit Sinunggal sangatlah besar.

“Naga Gombang berusaha sekuat tenaga untuk menyantapnya, dililitnya Puncak Bukit Sinunggal, namun gagal. Hingga akhirnya Naga Gombang dihukum oleh Dewa yang berstana di Pura Bukit Sinunggal. Kepalanya itulah yang berada di dasar jurang di pura Goa Raja. Sedangkan darah yang tercecer itu menjadi wilayah tanah barak (daerah di Tajun) dan otaknya juga tercecer menjadi wilayah tanah putih dan ekornya berada di Desa Bila,” bebernya.

Di sisi lain, bagi pemedek yang hendak tangkil ke Pura Bukit Sinunggal, Desa Tajun, terlebih dahulu harus melakukan ritual penglukatan di Pura Goa Raja. Setelah bersih, dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan ke Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha yang berada satu jalur dengan Pura Goa Raja. Kemudian barulah persembahyangan dilanjutkan ke Pura Bukit Sinunggal.

Terkait sarana yang dibawa untuk melukat ke Pura Goa Raja, Jero Mangku Nyoman Sukrai mengaku tak mematok harus membawa sarana berupa pejati. Pihaknya pun menyerahkan sepenuhnya kepada para pemedek untuk membawa sarana semampunya. “Kami disini tak mematok harus ini harus itu. Canang sari saja sudah cukup. Yang penting niatnya tulus. Karena semua persembahan itu buat Beliau, saya sebagai pemangku hanya memfasilitasi saja,” tegasnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia