Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Alih Fungsi Lahan di Badung Terus Bertambah, Kini Sisa 9.938 Hektare

07 Februari 2018, 13: 00: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Alih Fungsi Lahan di Badung Terus Bertambah, Kini Sisa 9.938 Hektare

BAKAL BERUBAH: Alih fungsi lahan menjadi jalan di kawasan Petang, beberapa waktu lalu. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Sebagai daerah yang berkembang pesat di tengah pertumbuhan periwisata, alih fungsi lahan pertanian di Badung tak bisa dihindari. Khusus pada tahun 2017, alih fungsi lahan pertanian mencapai hingga 38 hektare. Angka tersebut meningkat dari tahun 2016 sejumlah 36 hektare.

Berdasar data Dinas Pertanian dan Pangan Badung, pada tahun 2015 alih fungsi lahan seluas 40 hektare, kemudian tahun 2016 turun menjadi 36 hektare. Jumlah alih fungsi lahan pertanian kembali meningkat di tahun 2017 menjadi 38 hektare.

Lebih detail, tahun 2015, tercatat seluas 40 hektare lahan berubah menjadi kawasan perumahan, dengan rincian 17 hektare di Kuta Utara, 12 hektare di Mengwi, tujuh hektare di Kuta, dan empat hektare di Abiansemal. Tahun 2016, 36 hektare lahan kembali berubah menjadi kawasan perumahan, dengan rincian 17 hektare di Kuta Utara, 14 hektare di Mengwi, dan lima hektare di Abiansemal. Sedangkan tahun 2017 lalu, 38 hektare lahan juga berubah menjadi kawasan perumahan, dengan rincian 34 hektare di Kuta Utara, dua hektare di Abiansemal, dan dua hektare di Kuta.

Luas tersebut beralih fungsi didominasi oleh kawasan akomodasi pariwisata seperti vila dan sebagian perumahan. Sementara luas lahan yang masih tersedia di Kabupaten Badung seluas 9.938 hektare. Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Wayan Witra, Selasa (6/2) mengakui alih fungsi lahan masih terus terjadi pada tahun 2017. Jumlahnya meningkat dari tahun 2016. “Memang ada penambahan (jumlah alih fungsi lahan) lagi dua hektare dari tahun sebelumnya (2016),” ujarnya.

Menurutnya, tingginya alih fungsi yang terjadi lantaran warga yang sering menjual tanah persawahannya kemudian berubah menjadi kawasan pemukiman dan akomodasi pariwisata. “Jumlah alih fungsi yang paling tinggi ada di kawasan Kuta Utara yakni sebanyak 38 hektare. Di sana lebih banyak tanahnya menjadi akomodasi pariwisata seperti vila dan lainnya. Kemudian sebagian juga menjadi perumahan,” terangnya.

Dinas Pertanian, tak berdiam diri. Guna mengerem alih fungsi lahan yang kian mengganas pihaknya bersama pihak dewan tengah merancang Ranperda Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. “Upaya pemerintah menekan alih fungsi lahan juga sejalan dengan anggota dewan. Karena pemerintah sejak awal juga berkomitmen menekan alih fungsi lahan. Melalui Perda kan semakin jelas, mana lahan pertanian yang tidak boleh beralih fungsi,” akunya.

Dijelaskan, rancangan awalnya, lahan pertanian pangan berkelanjutan diusulkan seluas 17.020 hektare, terdiri dari lahan sawah seluas 9.737 hektare dan lahan kering 7.283 hektare. Jumlah tersebut menurutnya bisa saja berubah karena masih pembahasan. Ia pun berharap Ranperda tersebut segera kelar, sehingga bisa digunakan untuk menekan alih fungsi lahan di Gumi Keris.  

 

Alih Fungsi Lahan di Badung

Tahun            Pertambahan Alih Fungsi           Sisa

2015              40 hektare                                       -

2016              36 hektare                                       -

2017              38 hektare                                       9.938 hektare

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia