Kamis, 21 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Dipakai Iringi Pitra Yadnya, Gong Dewa Munculkan Keanehan

11 Februari 2018, 11: 16: 26 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dipakai Iringi Pitra Yadnya, Gong Dewa Munculkan Keanehan

SAKRAL: Para Sekaa sedang memainkan Gong Dewa saat acara Piodalan di salah satu rumah warga di Banjar Wani, Desa Gadungan, Seltim, Tabanan (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Pada umumnya gamelan yang dimiliki di Desa Pekraman di Bali bisa digunakan untuk mengiringi Upacara Panca Yadnya. Namun berbeda dengan seperangkat gamelan di Banjar Wani, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur. Karena hanya digunakan saat Upacara Dewa Yadnya saja. Disamping itu banyak yang mengatakan jika alunan musik yang dihasilkan gamelan ini aneh. Seperti apa keanehannya?

Upacara Dewa Yadnya (Piodalan) di salah satu Merajan warga di Banjar Wani, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan nampak meriah diiringi dengan alunan gong Bale Ganjur. Alunan gong Bale Ganjur itu dihasilkan oleh seperangkat gamelan yang biasa disebut dengan nama Gong Dewa.

Sebutan Gong Dewa diberikan oleh masyarakat sekitar karena seperangkat gamelan ini hanya digunakan saat Upacara Dewa Yadnya saja. Karena warga merasa acara Dewa Yadnya mereka tidak akan lengkap tanpa diiringi Gong Dewa ini. Berbeda dengan gong kebanyakan yang bisa digunakan saat Upacara apa saja. Gong ini juga termasuk gong sakral yang tidak bisa dimainkan oleh sembarang orang dan kebanyakan dimainkan secara turun-temurun.

Kelian Adat Banjar Wani, I Ketut Parwa, 41, menuturkan bahwa keberadaan gong Dewa ini sudah ada sekitar tahun 1930-an. Dimana saat itu sebanyak 17 orang warga Desa Gadungan yang berasal dari berbagai banjar berniat untuk bisa mempunyai seperangkat gamelan. Setelah mengumpulkan dana sedikit demi sedikit, 17 orang warga yang awalnya tergabung dalam Sekaa Nandur (kelompok pembajak sawah, Red) akhirnya membeli seperangkat gong. “Menurut cerita tetua kami terdahulu, gong ini dulu tempatnya berpindah-pindah alias bukan di Banjar Wani. Tetapi sempat di Banjar Batur, dan di Banjar lainnya sesuai tempat tinggal ke-17 orang itu. Sampai akhirnya terakhir berada di Banjar Wani,” tegasnya.

Dan selama ini Gong Dewa hanya dimainkan saat Upacara Dewa Yadnya saja. Bahkan saat Piodalan di Pura Desa, Gong ini harus dimainkan di Utama Mandala. Tak hanya itu saja. Saat dimainkan perangkat gamelan pantang diletakkan di tanah sehingga biasanya disediakan Bale untuk meletakkan perangkat gamelan ini.

Ia pun menambahkan jika pernah suatu ketika Gong Dewa ini digunakan untuk mengiringi Upacara Pitra Yadnya, namun ternyata alunan musik yang dihasilkan tidak dinamis dan acara yang berlangsung juga menemui kendala.

”Percaya tidak percaya itu memang pernah terjadi, suara gong menjadi masradukan dan acara warga itu menemui kendala sampai banyak yang kerauhan,” paparnya.

Gong Dewa ini biasanya akan mengiringi suatu Upacara Dewa Yadnya dari awal hingga upacara berakhir sehingga bisa memainkan 8 sampai 10 lagu mulai dari Pamungkah, Pengundang Taksu, Selulung, Tabuh Enak, Bias Membah, dan lainnya. Telur atau pun buah dari Sesayut Gong yang dihaturkan sebelum Gong Dewa dimainkan juga sering kali diminta oleh masyarakat yang anak namun belum lancar berbicara.

Sekilas tak ada yang berbeda dari seperangkat gamelan Gong Dewa yang satu ini. Bahkan seperangkat gamelan ini terbilang sederhana alias bukan Gong Gede yang perangkatnya lengkap. Satu barung gamelan ini hanya terdiri dari dua buah Reong, dua buah Jublag, dua buah gangse kecil, empat buah ceng-ceng, kempli, kempur, tawa-tawa, dan dua buah gong. “Perangkatnya bisa dikatakan sedikit, tetapi alunan musik yang dihasilkan seperti Gong Gede, sehingga banyak yang bilang suaranya aneh dan laras suaranya slendro,” imbuhnya.

Warga yang bisa memainkan Gong Dewa ini juga bukan sembarang orang karena dianggap memiliki keunikan dan cara tersendiri untuk memainkannya. Maka tak heran Sekaa Gong Suci yang kini biasa memainkan Gong Dewa terdiri dari warga yang sudah lanjut usia. Karena generasi muda yang ingin belajar mengaku kesulitan dalam memainkan gong tersebut. Saat ini saja sekaa hanya terdiri dari 14 orang sehingga masih kurang tiga orang lagi karena kesibukan. “Dan yang memainkan saat ini juga merupakan keturunan dari 17 orang yang dulu membeli gong ini, jadi sudah ada sekitar 4 sampai 5 generasi,” lanjut pria yang juga Kelian Sekaa Gong Suci.

Di sisi lain, kayu jenis Teep yang digunakan pada gamelan juga tidak pernah diganti hingga saat ini. Sehingga saat melihat perangkat gamelan ini kita pasti akan tahu jika gamelan tersebut sudah ada sejak dulu. Bahkan menurut tim dari Provinsi Bali yang dulu pernah mendata, gong yang umurnya sudah lama hanya ada tiga di Tabanan, salah satunya adalah Gong Dewa ini.

Beberapa kali Sekaa Gong Suci juga pernah tampil di Gedung Kesenian I Ketut Maria Tabanan namun sayang perhatian dari Pemerintah masih minim terutama untuk pembinaan sekaa ataupun perawatan gamelan. 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia