Kamis, 21 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati, Jejak Siwa-Budha di Bali

11 Februari 2018, 13: 25: 54 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati, Jejak Siwa-Budha di Bali

JEJAK : Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, salah satu jejak paham Siwa-Budha di Bali. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, KUBUTAMBAHAN - Ajaran Siwa-Budha merupakan campuran (sinkretisme) agama Hindu dan Budha di Indonesia. Pada zaman Majapahit, dua agama ini berpadu menjadi satu, dan ini bisa dilihat dalam beberapa karya sastra di antaranya kakawin Sutasoma dan Arjuna Wiwaha.

Sejatinya Siwa-Budha juga disebutkan merupakan cerminan karakter dalam diri manusia, yaitu feminim dan maskulin.Selain itu,  juga dipahami sebagai evolusi sinkritisme antara dua ajaran besar yang pernah berkembang di Nusantara. Siwa-Budha bukan agama Barat atau agama Timur, melainkan agama tengah yang melebur bersama tradisi agama Hindu di Bali.

Jejak paham Siwa-Budha di Bali dapat ditemui di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, yakni di Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati. Pura yang berlokasi di sebelah timur Pura Bukit Sinunggal ini, memang agak tersembunyi, sehingga tidak banyak yang mengetahuinya. Namun, biasanya sebelum melakukan persembahyangan di Pura Bukit Sinunggal, pamedek wajib nangkil terlebih dahulu ke Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati. Setelah itu, kemudian dilanjutkan ke Pura Bukit Sinunggal.

Pura yang berada di bawah tebing bebatuan curam ini, memiliki dua palinggih utama, yakni palinggih Siwa Raja Dewa yang memiliki ketinggian sekitar lima meter. Palinggih ini menjulang tinggi menyerupai lingga. Sedangkan Palinggih Hyang Budha Mahayana menyerupai stupa, di mana  dalam stupa tersebut terdapat patung Budha Mahayana. Untuk menjangkau pura ini, pamedek yang tangkil harus menuruni ratusan anak tangga sepanjang 50 meter.

Jero Mangku Nyoman Sukrai, selaku pangempon Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati, mengatakan, jika pura ini memiliki konsep purusha dan pradana. “Dua palinggih ini merupakan simbol dari purusha dan pradana. Palinggih Siwa Raja Dewa sebagai simbol purusha sedangkan Palinggih Hyang Budha Mahayana ini menyimbolkan pradana,” kata Jero Nyoman Sukrai kepada Bali Express (Jawa Pos Group) , yang melakukan penelusuran ke Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati, Rabu (10/5/2017) lalu.

Dikatakan Jero Nyoman Sukrai, Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati ini, juga merepresentasikan konsep Rwa Bhineda, yang menurutnya akan selalu berdampingan di dunia ini.  Ia pun memaknai agar manusia senantiasa mampu melihat secara jernih konsep Rwa Bhineda (dua hal yang selalu berbeda) ini untuk meningkatkan kesadaran diri.

“Suka-duka, siang-malam, baik-buruk, laki-perempuan akan selalu berdampingan. Di Pura ini kita selalu diingatkan akan pentingnya pemahaman konsep Rwa Bhineda ini,” terangnya.  Oleh karena itu, lanjutnya,  haruslah dimaknai sebagai peningkatan kesadaran manusia. “Misalnya saat kita diberikan keberlimpahan rezeki oleh Tuhan, janganlah terlalu bergembira. Sedangkan bila diberikan berupa ujian yang membuat perasaan menjadi duka, janganlah terlalu bersedih. Harus tetap bersyukur, baik senang maupun susah, ” ujarnya.

Pujawali di Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati ,dilaksanakan bertepatan dengan rahina Purnama Kapat. Pujawali dilaksanakan selama sehari. Umat yang nangkil pun berdatangan dari seluruh Bali. Dan, yang datang pun tak hanya umat Hindu, tapi umat Budha pun melaksanakan ritual persembahyangan. Melihat fakta itu, Jero Nyoman Sukrai menyimpulkan bila konsep Siwa Budha benar-benar menyatu dan masih melekat kuat bagi masyarakat Hindu Budha di Bali. “Umat Budha sering melakukan persembahyangan ke pura ini, mereka tetap melaksnakan ritualnya sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Ini yang membuat kami semakin yakin bila ajaran Siwa Budha di Bali masih sangat melekat dan diterima” ujarnya.

Pihaknya pun merujuk sumber keyakinan dalam kakawin Arjuna Wiwaha dan Sutasoma karangan Mpu Tantular, terkait penyatuan antara paham Siwa dan Budha. Jika dilihat dalam kakawin Arjuna Wiwaha, tepatnya sloka 27,2 menyebutkan :

“Demikianlah halnya, tuan tidak ada perbedaan antara Budha dengan Siwa Raja para Dewa. Keduanya sama; mereka berdua adalah pelindung dharma, baik di dharma sima maupun di dharma lepas, tak ada duanya.”

Sedangkan dalam kakawin Sutasoma juga disebutkan “Dewa Budha tidak berbeda dengan Dewa Siwa. Mahadewa di antara dewa-dewa. Keduanya dikatakan mengandung banyak unsur, Budha yang mulia adalah kesemestaan. Bagaimanakah mereka yang boleh dikatakan tak terpisahkan dapat begitu saja dipisahkan menjadi dua? Jiwa Jina dan Jiwa Siwa adalah satu, dalam hukum tidak terdapat dualism.”

“Inilah wujud penyatuan Siwa Budha dalam Sutasoma dan Arjuna Wiwaha, sehingga para leluhur kami dengan pengalaman spiritualnya mendirikan Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati hingga kini masih berdiri kokoh,” kata Jero Sukrai.

Sementara itu, jika dilihat kaitan antara Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati dengan Pura Bukit Sinunggal memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam urutan pemujaan, bagi umat Hindu yang ingin melaksanakan persembahyangan ke Pura Bukit Sinunggal, wajib harus melakukan penyucian terlebih dahulu di Pura Goa Raja, yang letaknya di bawah Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati. Setelah bersih, barulah melaksanakan persembahyangan ke Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha. “Pura Dasar Bhuana Siwa Budha Amerta Jati ini diibaratkan sebagai sebuah fondasi spiritual. Artinya, sebelum nangkil ke Pura Bukit Sinunggal harus menguatkan fondasi sradha bakti dengan melaksanakan pemujaan di Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati. Setelah fondasi sradhanya kuat, barulah nunggilang (menyatukan) pikiran untuk bersembahyang di Pura Bukit Sinunggal,” pungkasnya.

Ia pun kembali menegaskan jika sarana yang dihaturkan di Pura Dasar Bhuwana Siwa Budha Amerta Jati oleh para umat tidak dipatok. Ia memberikan kebebasan bagi umat yang ingin nangkil dengan sarana apapun, asalkan diikuti dengan rasa tulus ikhlas.

“Terkait sarana, kami tak mematok jenis sarananya. Silakan semampunya. Karena itu berkaitan dengan rasa tulus ikhlas. Kami di sini hanya bertugas nguningang, terkait sarana bisa disesuaikan,” tutupnya.

(bx/dik/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia