Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Fenomena 150 Tahun, Lebur Mala dengan Panglukatan Gangga Pratista

20 Februari 2018, 08: 57: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Fenomena 150 Tahun, Lebur Mala dengna Panglukatan Gangga Pratista

BERKUNJUNG: Salah satu penyelenggara penyegjeg jagat pada rahina pengembak gni dan banyu pinaruh, Ida Mangku I Dewa Gede Ambara Putra Mancika (kanan) saat berkunjung ke Kantor Bali Express (Jawa Pos Group) Senin (19/2). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sebuah fenomena langka bakal terjadi pada 18 Maret mendatang. Yakni hari suci ngembak gni dan banyu pinaruh jatuh pada hari yang sama. Fenomena 150 tahun sekali ini pun diyakini sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan peleburan mala pada bhuana agung dan alit. Salah satu caranya adalah dengan menggelar panglungkatan gangga pratista yang akan digelar di Jaba Pura Watu Klotok, Klungkung, sejak pukul 07.00. Acara ini sendiri akan dilakukan oleh pandita semua wangsa.

 

Salah satu pelaksana panglukatan, Ida Mangku I Dewa Gede Ambara Putra Mancika ketika diwawancarai mengaku  fenomena itu adalah hal yang luar biasa. Bahkan ia mengungkapkan kedua hari suci tersebut bisa barengan terjadi sekitar 150 tahun sekali.

“Kita seharusnya memaknai pertemuan kedua hari suci ini dengan penuh hikmat. Selain melakukan catur brata penyepian juga tapa yoga semadi,” jelasnya di Kantor Bali Express (Jawa Pos Group) Jalan Cok Agung Tresna, Denpasar Senin  kemarin (19/2).

Di samping itu ia mengaku fenomena luar biasa lainnya dalah bulan puranama yang diberi supermoon beberapa waktu lalu. Hal itu menurutnya ada suatu pertemuan surya candra yang akan berpengaruh terhadap jnana tattwa. Bahkan itu semua merupakan dapat dianalisis dari ilmu perbintangan, ada sebuah pertemuan windu surya yang dilambangkan dengan Ongkara.

Sedangkan Nyepi dan Saraswati yang bersamaan merupakan pertemuan purusa dan pradana. Karena nyepi dihitung berdasarkan sasih justru bisa bertemu dengan perhitungan pawukon. “Sebagai umat kita juga harus melakukan renungan suci dari nilai yang ada pada weda. Sedangkan pada keesokan hari Nyepi dan Saraswati itu sebaiknya kita melakukan pembersihan secara skala dan niskala,” tandas pria asli Payangan, Gianyar tersebut.

Sehingga ia mengungkapkan kedamaian, kesejahteraan dan keserasian dalam kehidupan dapat berjalan dengan selaras. Di samping itu panglukatan yang dilakukan itu bertujuan untuk membunuh Sad Ripu yang ada pada diri seseorang.  Karena panglukatan yang disebutnya sebagai gangga pratista itu pemujaan kepada Bhatara Gangga di air laut.

Mangku Gede Ambara juga mengaku dengan panglukatan itu akan tumbuh kesadaran dan sifat dewa sehingga meminimalisir sifat bhuta. Sedangkan upacara yang dihaturkan menggunakan padudusan, catur mukti, catur panca kelud, bebangkit dan banten sari. Untuk pecaruannya ia mengaku menggunakan kambing, angsa hitam, dan bebek.

“Jika ada umat yang akan ikut panglukatan itu dipersilahkan, bisa membawa daksina ataupun berupa canang saja. Untuk kegiatan ini juga bukan milik griya tetapi umat keseluruhan, karena itu semua kewajiban para wiku untuk menjadikan jagat Bali ini damai,” urainya.

Panglukatan tersebut akan berlangsung dari pukul 07.00 sampai selesai. Selanjutnya pihaknya akan memberikan informasi dalam waktu sebulan ini agar umat semua mengetahui diadakannya kegiatan keagamaan tersebut. Bahkan Mangku Gede Ambara mengharapkan adanya pihak-pihak terkait dapat membantu dalam menyebarluaskan infromasi tersebut. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia