Kamis, 09 Jul 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Mahasiswa dan Pemuda Tolak SUTET Masuk Bali

10 Maret 2018, 09: 11: 45 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mahasiswa dan Pemuda Tolak SUTET Masuk Bali

DISKUSI: Kegiatan diskusi terbuka Peradah Bali yang bertemakan "Bali Mandiri Energi, Mungkinkah?" di Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Denpasar, Jumat (9/2). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Proyek Jawa Bali Crossing  kini masih pro-kontra di masyarakat . Generasi pemuda Hindu nampak mengusulkan agar hal itu dapat dikaji ulang terlebih dahulu. Melalui diskusi terbuka yang dilaksanakan oleh Peradah Bali yang berjudul "Bali Mandiri Energi, Mungkinkah?" mendapatkan penegasan perlunya ditinjau kembali  oleh salah satu peserta yang transmigrasi di Sulawesi. Karena baginya sangat berdampak pada keselamatan masyarakat sekitar tiang yang memicu bunga api dan petir saat hujan.

Ni Putu Sinta, salah satu peserta berasal dari Luwu, Sulawesi Selatan mengungkapkan, dekat kampungnya tempat transmigrasi dibangun SUTET (Saluran Udara Tengangan Ekstra Tinggi). Bahkan dianggap sebagai pemicu petir yang sering menyambar wilayahnya tersebut. “Semenjak dibangunnya SUTET sudah ada tiga kejadian di sepanjang tiang pancang yang membentang di persawahan. Bahkan berturut-turut sampai menelan korban jiwa,” terangnya saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar Jumat kemarin (9/3).

Sudah sekitar 10 tahun keberadaan tiang yang melintas di desanya tersebut, bahkan Sinta  juga mengungkapkan jika saat hujan sangat rawan berada di areal persawahan dibawah tegangan itu. Sebab ada yang meninggal disambar petir saat berteduh di gubuk tengah persawahan.  Kejadian pertama pada tahun 2017 sebanyak 9 orang meninggal dunia. Serta berturut-turut dua bulan ke depannya masing-masing sebanyak dua orang meninggal dunia.

Sebelumnya, di sana ia merasakan aman meskipun ada petir namun tidak sampai memakan korban. “Karena dari 10 tahun itu ada saja yang disambar, seperti pepohonan, listrik desa, dan sampai akhirnya memakan korban. Itu disimpulkan oleh warga karena semenjak ada SUTET yang membentang  dan memunculkan bunga api sehingga mempermudah petir menyambar ke permukaan. Jadi harapan saya supaya tidak seperti itu, makanya ketika mau dibangun di Bali sebaiknya perlu dikaji ulang kembali,” imbuh mahasiswa semester delapan di IHDN Denpasar itu.

Lanjut Sinta, aliran listrik bertegangan sangat tinggi itu hanya melintas saja di wilayahnya. Tanpa membantu keperluan listrik yang dibutuhkan wilayah setempat. Sehingga terdapat sebuah air terjun yang dimanfaatkan sebagai tenaga listrik, hingga kini mampu memenuhi kebutuhan listrik di kampungnya dan desa tetanggannya. Sinta juga berharap kenapa tidak air terjun yang ada di Bali difungsikan sebagai pembangkit listrik, tanpa menyuplai listrik melalui SUTET tersebut.

Dalam diskusi terbuka itu pematerinya terdiri atas PHDI Provinsi Bali diwakili oleh I Ketut Pasek Swastika, Jero Gede Putus Upadesa dari MUDP Bali, Prof. Dr I Putu Gelgel dari akademisi agama, I Made Iwan Pratama unsur pemerhati lingkungan dan I Made Sudarma dari akademisi UNUD. Ketua MUDP Bali mengatakan segala sesuatu yang akan diputuskan suapaya dikaji dan dipikirkan dengan unsur yang lainnya. Sehingga semua yang ada tidak semata-mata menjadikan kedok bhisama sebagai muaranya.

“Jika itu hal yang dapat merusak dan telah dikaji sesuai ilmiah dan beberapa unsur lainnya ya patut kita pertimbangkan. Terlebih memang sangat bertolak belakang dengan bhisama yang berlaku,” papar pria asli Karangasem tersebut.

Wakil Ketua PHDI Bali, Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika mengakui bahwa secara fisik maupun non fisik Bali harus tetap dijaga. Supaya taksu Bali tetap ajeg dan langgeng sehingga penghuninya menjadi damai dan tentram. Yaitu orang Bali asli maupun orang yang tinggal di Bali juga harus ikut menjaga keajegan.

“Ini bisa terwujud dengan cara melaksanakan ajara Tri Hita Karana yang memperhatikan hubungan satu sama lain. Terkait Jawa Bali Crossing ini sudah jelas PHDI menolak atas beberapa dasar, salah satunya areal dan radius kesucian wilayah pura,” ungkapnya.

Peradah Bali, dalam mencermati rencana proyek Bali Jawa Crossing yang digagas oleh PLN dinilai merupakan salah satu solusi mengatasi Bali krisis energi di kemudian hari. Namun dalam perkembangannya, rencana tersebut menuai pro-kontra di tengah masyarakat. Khususnya kawasan yang akan dilintasi proyek tersebut dengan pendirian  tower melintasi Kabupaten Jembrana, Buleleng dan Tabanan.

Penolakan proyek tersebut tidak semata karena alasan keamanan, melainkan hal prinsip di Bali yakni dampak kawasan suci dalam waktu jangka panjang. Atas pertimbangan itu, di akhir diskusi dari lintas organisasi pemuda, BEM dan perwakilan mahasiswa se-Bali dengan menyatakan sikap bahwa mereka mendukung sepenuhnya Bhisama. Tentu pada kesucian pura  untuk menjaga kawasan suci pura baik kahyangan tiga, Dang Kahyangan, Sad Kahyangan dan Kahyangan Jagad.

Dikarenakan dari pembangunan yang melanggar atau tidak mendukung tegaknya bhisama dan kesucian pura. Karena itu peradah menolak pembangunan Jawa Bali Crossing yang direncanakan oleh PLN di radius kesucian pura Segara Rupek dan Bhisama Ida Mpu Sidhimantra tentang selat Bali.

Kedua, mereka mendukung sepenuhnya Bali mandiri energi dalam pemenuhan kebutuhan energi dengan melihat potensi energi yang ada di Pulau Bali. Baik yang bersumber dari air, angin, sinar matahari, sampah hingga sumber energi alternatif lainnya. Bahkan pernyataan bersama tersebut dibuat mengacu pada diskusi terbuka yang digelar Peradah yang bertempat di Aula Kanwil Kemenag Provinsi Bali di Denpasar tersebut. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news