Rabu, 26 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Beberapa Desa Sudah Lakukan Melasti di Pantai Padanggalak

13 Maret 2018, 19: 22: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

Beberapa Desa Sudah Lakukan Melasti di Pantai Padanggalak

MELASTI: Pelaksanaan melasti yang dilakukan Desa Adat Pohgading, Denpasar, di Pantai Padanggalak, Denpasar Rabu (13/3). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pelaksanaan melasti yang biasanya dilakukan tiga hari sebelum pangerupukan saat ini ada beberapa desa pakraman memajukan dari hari ditentukan. Seperti Desa Pakraman Paguyangan menyelenggarakan melasti sehari sebelum jadwal yang ditentukan. Selain untuk menghindari macet, juga menghindari adanya saling rebutan tempat di pantai. Dikarenakan jadwal melasti secara keseluruhan belum ada sebuah aturan sesuai waktunya.

Hal itu diungkapkan oleh Jero Bendesa Pakraman Paguyangan, I Ketut Sutama yang desanya melaksanakan pemelastian maju sehari. Bahkan itu tidak hanya tahun ini saja, namun sudah lima kali dimajukan. “Karena sesuai paruman desa pakraman setuju dimajukan dan atas dasar pertimbang sulinggih juga diberikan. Maka kami sepakat lebih awal untuk menghindari kemacetan dan supaya tidak krodit juga,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar Selasa (13/3).

Sehari sebelum melakukan melasti, ia juga mengaku semua sasuhunan yang ada di sana melakukan prosesi  ngalunguin ke Bale Agung. Selain untuk mempermudah berkumpul pada keberangkatan, Sutama juga menjelaskan datang dari pantai juga seluruh sasuhunan ditempatkan kembali di Bale Agung hingga upacara Tawur Kasanga dilaksanakan.

Dalam kesempatan itu juga, dirinya mengatakan di Desa Paguyangan sendiri melakukan melasti dua kali. Namun yang membedakannya adalah melis dengan melasti. Melasti yang menurutnya memohon pangleburan ke air laut. Sedangkan melis sebagai upacara memohon ari parisudha jagat yang ada dari sumber klebutan. Karena memang dilakukan secara turun-temurun maka pihaknya tidak berani tanpa melakukan melis yang dilaksanakan pada Pura Beji Desa Paguyangan.

“Tadi pagi sekitar ribuan warga Desa Paguyangan ikut melasti, dari 22 banjar yang ada di sini, dan berangkatnya sekitar pukul 06.00. Selanjutnya semua sashunan malinggih di Bale Agung, kemudain sehari sebelum Tawur Kasanga dilanjutkan kembali melis di beji pura utara Pura Desa,” tandas Sutama.

Pada tempat yang sama, salah satu pengayah I Made Wiwin Juniartha mengatakan sebelumnya memang ada beberapa desa di luar Denpasar juga melasti di sana. Dalam kesempatan itu, ia mengatakan dari Desa Adat Jagapati, Desa Adat Angantaka, Desa Adat Sedang, dan Desa Adat Bongkasa. “Dari luar Denpasar tadi malam ada yang melasti dari pukul 01.00 sampai 04.00 tadi pagi. Maka dilanjutkan dengan Desa Paguyangan,” papar pemuda 24 tahun tersebut.

Meskipun maju dari jadwal yang telah ditentukan sejak beberapa tahun sebelumnya, ada juga beberapa Desa Pakraman di Denpasar yang juga merubah jadwal melastinya. Supaya terhindar dari kemacetan maupun keterbatasan tempat melasti, karena tempatnya hanya cukup digunakan oleh satu desa pakraman saja dengan cara bergiliran setiap tiga jam sekali.

“Kalau jadwal harinya memang sudah disediakan, namun untuk jam nya itu belum ada pengaturan yang jelas. Sehingga benturan juga sering terjadi. Katanya tahun berikutnya akan dibuatnya aturan yang jelas desa apa dan jam berapa mereka mendapat melasti,” imbuh Wiwin. 

(bx/ade/bay/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia