Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Dia Jenis, Cara Mengenali dan Mengobati Cetik

21 Maret 2018, 14: 52: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Dia Jenis, Cara Mengenali dan Mengobati Cetik

CETIK: Lontar Usada Cetik membeber tentang Cetik dan cara pengobatannya yang sudah dialihbahasakan sehingga mudah diaplikasikan. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Cetik, istilah yang sudah tak asing lagi bagi masyarakat Bali. Racun tradisional khas Bali ini, dibuat khusus menggunakan sari pati tumbuh – tumbuhan dan ekstrak hewani. Lantas,  apa saja macam dan cara mengobatinya? 

Cetik dikenal sebagai racun tradisional Bali, beberapa di antaranya bahkan sangat  mematikan. Tak jarang masyarakat kebingungan, bagaimana cara menetralisasi dan mengobatinya. Kondisi tersebut tak disangkal Kepala Seksi Inventarisasi dan Dokumentasi Budaya Bali, Made Mahesa Yuma Putra.


Segala sesuatu bisa dikategorikan Cetik,  sesuatu yang dimakan dapat meracuni tubuh manusia. Cetik adalah racun  yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut dengan perantara makanan dan minuman,  bahkan disertai mantra khusus. Atau suatu ramuan yang dihidupkan dengan kekuatan gaib.


Cara pembuatan cetik dan bahan nya cukup unik, yakni  memadukan bahan (sekala) dan olah batin (niskala)
Bahan Cetik bisa di antaranya dari tumbuhan seperti waluh, medang tiing. Juga dari binatang, seperti ikan tertentu yang hidup di laut,ikan buntek, binatang berbisa, yuyu gringsing. Selain itu, bahannya bisa dari benda atau logam, seperti kerikan gong atau gangsa, juga ada yang memakai organ manusia, seperti  tulang manusia dan banyeh (air mayat) .
Dikatakan Mahesa, masih kurangnya informasi yang beredar di masyarakat, membuat banyak yang salah kaprah dan tidak mengerti.

“Memang karena cetik dikaitkan dengan penyakit niskala dan guna – guna, makanya mereka ketakutan. Padahal, menurut lontar usada, pengobatan untuk cetik dapat kita temukan di sekitar kita. Tidak sulit kok, untuk mendapatkannya.
Hanya saja orang orang sudah  panik, sehingga buru – buru membawa ke balian, “ papar Mahesa kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.

Ia juga mengungkapkan, semua informasi dan cara penanganan cetik telah ada di dalam Lontar Usada Cetik. Lontar yang berangka 300 Sebelum Masehi (SM) itu, kini telah disadur kedalam aksara alphabet pada tahun 1997. Namun, lontar aslinya saat ini masih tersimpan apik di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Ia juga memaparkan, Lontar Usada Cetik merupakan lontar yang menjelaskan tentang pengobatan tradisional, khususnya Cetik. “Dalam Lontar Usada Cetik dijelaskan berbagai jenis cetik, di antaranya cetik ceroncong polo, Cetik Medang Arungan, Cetik Upas Marebong Api, Cetik Maratus. Lontar yang berasal dari Padangkerta, Karangasem ini, kini telah disadur dengan huruf alphabet agar memudahkan masyarakat yang ingin mempelajarinya,” papar Mahesa. 


Tujuan orang Nyetik amat beragam, mulai dari hanya coba-coba yang bertujuan untuk  membuktikan keampuhan cetik yang dimilikinnya. Perbuatan negatif ini juga bisa didasari sebagai reaksi dari orang yang sesumbar, agar dapat pelajaran atau dapat balasan karena kesombongannya. Dan yang umum terjadi karena iri dan dengki, cemburu, balas dendam, dan berselisih paham.


Di tempat terpisah, Kepala Prodi Fakultas Ayurweda Universitas Hindu Dharma Indonesia (UNHI), Ida Bagus Putra Suta, mengatakan,  Cetik memang masih digunakan saat ini. Namun, tidak sepopuler masa lalu.  Pengobatannya, lanjutnya, ternyata dapat menggunakan tumbuhan dan ekstrak hewani yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari – hari.  “Umumnya orang terkena cetik lewat makanan, sangat jarang lewat sentuhan. Makanya,  harus berhati – hati ketika kita makan bersama  atau sedang makan diluar rumah,” papar dosen pengobatan usada Bali ini.


Dalam prakteknya, Cetik ini biasanya ditaruh di kopi, teh atau minuman lainnya.  Namun, konon zaman dulu, racun ini tidak langsung ditaruh di minuman, melainkan di pantat gelas karena orang minum kopi panas biasanya menggunakan alas, lepek. Racun yang ditaruh dalam pantat gelas akan menempel lepek tersebut.  Nah, ketika kopi dituang, racun kemudian larut bersama kopi yang diminum.


Menurut keyakinan masyarakat Bali, ada beberapa cara  sederhana untuk mengetahui makanan atau minuman berisi Cetik. Bagaimana caranya? Bila curiga, sebelum hendak meminum, minuman harus dilihat apakah  bisa memantulkan bayangan. Kalau terlihat, berarti terbebas dari Cetik. Kalau minuman tersebut tidak memantulkan bayangan, berarti ada Cetiknya. Cara sederhana mengobati  orang yang terkena Cetik, berikan  air kelapa muda dua butir. Setelah itu, dibuatkan air perasan batang pisang yang diminum secara rutin tiap hari sampai gejala-gejala sakit reda. Namun, yang umum digunakan untuk mengobati orang yang terkena

Cetik adalah minyak yang terbuat dari Cukli Lungsir. Cukli sejenis kerang laut yang bentuknya seperti horn ( alat musik),  biasanya berada di kedalaman 150 m sampai 300 m di bawah laut.  Sedangkan Lungsir, sejenis siput laut yang warnanya warna-warni, dari yang warna polos putih, merah, kuning dan lurik. Biasanya semakin menarik, cerah warna-warni kulit lungsir, maka kekuatan daya tawarnya terhadap racun maupun penyakit semakin ampuh. Lungsir ada juga yang ditemukan di darat, biasanya  ditemukan di dalam pohon sirih, dapdap, dan pohon-pohon yang biasanya untuk pengobatan, seperti pohon liligundi, kelor, daun temen, dan lainnya. Lantas, apa membedakan Siput biasa dengan Lungsir laut darat? Siput biasa cangkangnya putarannya kekanan sampai kemulut. Siput biasanya mempunyai penutup mulut (penutup cangkang) untuk melindungi diri dari predator. Kalau Lungsir, tidak mempunyai penutup cangkang. 


Gerakan Siput kalau disentuh lebih cepat, gerakan lungsir pelan kalem. Putaran cangkang lungsir kekiri sampai ke mulut cangkang tanpa ada penutup cangkang. Membuat minyak Cukli Lungsir dibutuhkan minyak kelapa        murni (tandusan). Agar lebih ampuh khasiatnya, bisa membuat minyak dari  11 jenis kelapa,  seperti kelapa hijau, kelapa gading, kelapa bulan, kelapa rangda, kelapa bejulit, kelapa udang, kelapa sudamala, kelapa biasa (buahnya besar), kelapa sabet buahnya kecil, kelapa puyung yang ada hanya sabetnya saja ( ambil sedikit sabetnya pakai jaton saja), kelapa juged yang kulitnya bergelombang. 


Cara membuatnya, siapkan wajan da isi minyak kelapa yang telah dibuat,  untuk menggoreng Lungsir. Panaskan minyak di wajan sampai tidak bersuara minyaknya. Setelah itu, matikan apinya. Selanjutnya masukkan Lungsirnya kedalam penggorengan, lalu tutup dengan tutup panci yang pas dengan penggorengan. Jangan dibuka, nantikan sampai minyak dingin.Setelah dingin, masukkan  minyak dalam botol dan tutup rapat. Biasanya pengolahan Cukli dengan Lungsir dipisahkan. Cuma Cukli perlu diiris-iris dagingnya menjadi kecil, baru digoreng. Agar lebih punya kekuatan magis,minyak Cukli Lungsir ditanam di dalam tanah di catuspata selama tiga hari, dan dicarikan hari baik saat kajeng kliwon. Setelah itu, ditanam di kuburan selama 21 hari. Dan, terakhir ditanam di depan kemulan selama 42 hari,  diisi segehan dan canang sari sesuai dengan keyakinan.


Pemakaiannya, tiga tetes minyak Cukli Lungsir  dicampur di  air hangat, kemudian diminum berulang hingga penyakitnya hilang.
Ada beberapa ciri khusus orang yang terkena Cetik khusus. Orang yang terkena Cetik Ceroncong Polo misalnya, ciri – cirinya  sakit kepala, mata merah, sakitnya terasa sangat menyakitkan, seperti diurek beduda.  Cara pengobatan  adalah kerencem diisi madu ditambah warirang merah dan diisi air jeruk, kemudian  dimasukan ke lubang hidung lalu dikeluarkan. Untuk obat minum (loloh), dapat dibuat dari air cendana cenggi diisi air jeruk dan diminum sebagai loloh.  


Terkena Cetik Medang Arungan ciri-cirinya, terasa sakit di tenggorokan. Pengobatan bisa menggunakan hati ayam merah diikat dengan benang, digunakan untuk ngelublubin dan memancing agar bisa keluar. Selanjutnya ada Cetik Reratusan yang ciri – cirinya sangat unik, yakni setiap rerahinan badan terasa panas dingin, bingung, bengong, dan terkadang suka berbicara sendiri.

Pengobatannya menggunakan lengis lungsir yang dicampur  daun salam ditumbuk dan ditambah air nyuh mulung, dan diminum ketika kajeng kliwon. Kemudian, ada yang namanya Cetik Gangsa yang cirinya, orang terkena Cetik ini kukunya terlihat kekuningan  dan sakit kepala. Cara mengobatinya  menggunakan lemak bebek yang dicampur dengan kunyit, direbus dan dicampur serta diminum sebagai loloh. 

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia