Minggu, 26 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Bebai Paling Kuat Jika Ada Prosesi Penanaman di Pelataran Pura Dalem

22 Maret 2018, 15: 40: 13 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bebai Paling Kuat Jika Ada Prosesi Penanaman di Pelataran Pura Dalem

GEJALA: Beragam gejala muncul akibat Bebai. Namun, bila penyakit Bebai sudah sampai menyerang kepala, korban akan berteriak teriak dan bertingkah laku seperti orang gila. Bahkan, Mereka tidak akan mengenali keluarganya. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bebai merupakan penyakit yang terkait dengan ilmu kawisesan. Dibuat oleh mereka yang memiliki energi niskala, kemudian  dikirimkan kepada orang orang yang mereka anggap berbahaya atau dibenci. Lantas, seperti apa Bebai Itu?

Bebai adalah salah satu produk ilmu kawisesaan atau pangleakan. Lontar kawisesaan yang menjelaskan mengenai Bebai dan ajian – ajiannya  di antaranya  adalah Lontar Kamoksaan. Konon Bebai diciptakan dari organ tubuh manusia, yaitu darah dan otak manusia yang telah meninggal. Dalam beberapa sumber dan lontar, Bebai merupakan suatu penyakit niskala yang menyerang penderita secara psikis dan fisik. 


"Umumnya penderita akan merasakan gejalan sakit tertentu secara tiba – tiba. Sering melamun, kerap bicara sendiri, dan berubah sikap secara tiba – tiba, " papar  Kepala Bidang Program Studi Ilmu Usada Fakultas Ayur Weda Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Ida Bagus Putra Suta, Selasa (20/3) lalu. 

Baca juga: Disbudpora Enggan Disalahkan Terkait Hibah di Klungkung

Dari lontar dan penelitian yang pernah ia lakukan, Bebai dibuat dengan sarana darah serta otak manusia. Maka dari itu, lanjutnya, penyakit niskala ini sangat sulit  dideteksi dan disembuhkan.

“Bebai memang dibuat dari darah dan otak manusia, namun harus melalui proses yang panjang sesuai ilmu kewisesaan yang dimiliki si praktisi. Biasanya ada ritual khusus dan pantangan ketat ketika membuat penyakit Bebai ini," urainya. 

Dikatakannya, lama proses pembuatannya bisa mencapai 15 hari sesuai tingkat ilmu dan kekuatan si pembuat.


Umumnya Bebai sering digunakan oleh mereka yang memiliki niat mencelakai seseorang dengan banyak sebab. Bisa dikarenakan iri terkait  urusan bisnis. 

“Penyakit Bebai ini seperti virus,  tak terlihat, bisa menyerang kapan saja dan di mana saja. Makanya, kita harus lebih berhati - hati,” katanya mengingatkan.

Ia  bercerita, biasanya para penekun ilmu pangleakan dan kawisesaan mencari darah dan otak manusia untuk dijadikan Bebai di hari tertentu. Tidak sembarang darah yang bisa dijadikan bibit Bebai. Biasanya darah yang digunakan adalah darah wanita keguguran, darah korban kecelakaan atau mereka yang meninggal salah pati.

“Banyak cara untuk mendapatkannya, seperti mengambil sedikit darah atau otak manusia ketika ada kecelakaan di jalan raya. Ketika semua orang sedang panik atau bingung, tanpa disadari mereka mengambil secuil darah atau secuil otak yang berserakan. 


Selain menggunakan darah dan otak, Bebai juga dapat dibuat dengan raga janin yang meninggal atau digugurkan. Para penekun ajian kewisesaan juga sering menggunakan kanda pat (empat saudara janin) untuk membuat bibit Bebai.

“Biasanya Bebai yang paling kuat dibuat oleh mangku pura dalem. Sebab, ada proses penanaman bibit (jasad bayi atau otak dan darah) yang ditanam di pelataran pura dalem selama 42 hari. Jika Bebai dibuat oleh orang biasa, daya magisnya memang tidak sekuat mereka yang menjadi mangku dalem,” paparnya.


Pasalnya, Bebai yang dibuat oleh orang biasa tidak melalui proses nunas panugerahan Bhatari Durga di Pura Dalem, sebagai tambahan energi. “Logikanya, jika orang umum tidak akan mungkin bisa masuk ke pura sembarangan melakukan ritual itu. Pasti dicurigai orang banyak. Kalau mangku Pura Dalem, lebih leluasa dan  orang-orang menganggap itu wajar,” paparnya. 


Dosen nyentrik ini juga mengaku, dulu ia pernah melihat secara langsung proses pembuatan bibit Bebai ini. Ia melihat seorang praktisi menggunakan secuil otak manusia yang diletakan dalam toples kecil yang ditanam. Setelah melewati proses yang panjang dan lama, ia menyaksikan toples itu diangkat dari tanah. Yang awalnya di dalam toples itu hanya ada secuil daging otak, berubah menjadi seperti ratusan serangga kecil. Terlihat memenuhi toples, seakan berdesakan ingin keluar. “Saya lihat dengan mata kepala sendiri saat itu. Awalnya tidak percaya, tetapi begitulah yang terjadi, mereka hidup dan berjalan. Ketika si empunya Bebai berniat mengirim mereka kepada korban, benda kecil bergerak itu keluar dari toples dan menghilang. Anehnya, tak semua orang dapat melihat itu,” paparnya.


Di Bali banyak dikenal jenis Bebai, salah satunya Bebai Bongol, yang korbannya  biasanya ditandai dengan sikap cueknya yang tidak biasa. “Biasanya cuek, kalau kata orang sini disebut memongol, diajak ngomong diem, sorot matanya kosong. Si penderita hanya diam dan jarang bicara,  tidak merespons apa pun. Bebai ini efeknya tidak begitu parah dibanding Bebai lainnya,” papar Suta.

Bebai lebih sedikit menelan korban jiwa dibandingkan cetik. Namun, biasanya korban akan sangat menderita, karena Bebai umumnya menyerang psikis dibanding fisik. 


Dikatakan Suta, gejala terkena Bebai umunya susah terlihat, karena gejalanya seperti sakit sepele biasa. “Gejala awalnya biasanya korban merasa sakit pada perutnya, di seputaran sigsigan. Sakitnya bukan seperti sakit perut biasa, tapi seperti ditusuk-tusuk. Dari perut sakitnya akan menjalar ke atas, ke area ulu hati dan korban akan merasa eneg atau ingin muntah. Dan, yang paling terlihat, penderita akan sering tak sadarkan diri dan pingsan,” paparnya. 


Gejala yang dialami setiap orang terbilang berbeda beda. Ada juga yang merasa ngilu di sekujur tubuhnya, ada juga yang mendadak menjadi pendiam, ada juga yang mendadak berteriak teriak seperti orang gila. “Bila penyakit Bebai sudah sampai menyerang kepala, biasanya korban akan berteriak teriak dan bertingkah laku seperti orang gila. Mereka tidak akan mengenali keluarga dan orang tuanya. Bahkan, disentuh pun mereka akan mengamuk. Makanya, penting untuk sedini mungkin mendeteksi gejala awalnya, agar tidak terlambat penanganannya,” papar Suta.


Lantas, siapa saja yang mudah diserang Bebai? Laki – laki paro baya ini menjelaskan, Bebai dapat menyerang siapa saja sesuai target pengirim. Semua orang mudah  terkena, namun yang paling rentan adalah mereka yang ada di akil balik (remaja), dan mereka yang akan melaksanakan  pernikahan.

Cara pencegahannya? "Ya kita harus membentengi diri dengan rajin sembahyang, nunas keselamatan pada Tuhan dan leluhur kita di rong telu sanggah, agar dimanapun kita senantiasa dilindungi,” sarannya. 

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP