Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Makna, Banten dan Pantangan Saat Tumpek Landep

31 Maret 2018, 08: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Makna, Banten dan Pantangan Saat Tumpek Landep

Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, MENGWI - Tumpek Landep yang jatuh hari ini, Saniscara Kliwon Landep, Sabtu (31/3), sangat istimewa karena berbarengan dengan purnama kadasa. Seperti apa sejatinya mengaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari?

Perayaan dan ritual khusus yang dilaksanakan umat Hindu untuk tumbuhan, hewan, dan perkakas besi atau keris, dan senjata lainnya dikenal dengan nama  Tumpek. Ada  tiga Tumpek, yang dinamai Tumpek Ubuh, Tumpek Wariga, dan Tumpek Landep.


Sulinggih asal Mengwi, Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa, mengatakan, dalam Lontar Sundarigama dijelaskan, Tumpek berasal dari kata 'tampa' yang memiliki arti turun, dengan imbuhan 'um' menjadi tumampa. Dalam perjalanannya, istilah tumampa mengalami perubahan konsonan menjadi tumampek, dan akhirnya menjadi tumpek. 

Tumpek di sini berarti suatu hari yang dianggap suci, di mana kekuatan manifestasi Tuhan turun ke dunia dalam bentuk tertentu. Sedangkan landep berarti tajam. Jadi, Tumpek Landep adalah hari suci di mana kekuatan manifestasi Tuhan turun ke dunia dalam bentuk ketajaman pikiran, serta kekokohan pikiran manusia dalam memilih baik dan buruk dalam kehidupan.  Hal itu juga digambarkan dalam lontar Sundarigama yang menyebut : 


“Saniscara Kliwon ngaran, wekasing tuduh rikang wwang, haywa lali amusti Sang Hyang Maha Wisesa, haywa deh, ndan haywa pisah, apasamana tumurun kertanira Sanghyang Anta Wisesa ring rat kabeh.”

Dalam bait tersebut, lanjutnya,  dijelaskan bahwa Tumpek Landep yang jatuh pada Saniscara Kliwon disebut hari inti. Di hari tersebut Tuhan memberikan anugerah kepada umat manusia di dunia. Dalam bait itu juga disebutkan sebuah nasihat, agar kita selalu dekat dengannya, agar kita selalu ingat dan melakukan persembahyangan pada hari inti tersebut.


Sulinggih yang akrab disapa Mpu Mengwi ini, memaparkan, dalam pelaksanaannya Tumpek Landep memang identik dengan perayaan yang dikhususkan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan yang dalam manifestasinya sebagai  Dewa Senjata  (Pasupati). 

“Perayaan Tumpek Landep  jatuh pada Saniscara Kliwon, wuku Landep. Perayaan ini biasanya dirayakan setiap setahun dua kali, yakni tiap enam bulan sekali,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Mengwi, Badung.


Ia juga menambahkan, secara filosofi Tumpek Landep merupakan ungkapan rasa terima kasih umat manusia kepada Tuhan, yang turun kedunia untuk memberikan ketajaman pemikiran kepada manusia. Ketajaman tersebut layaknya senjata yang berbentuk lancip ( runcing) seperti keris, pisau, dan pedang. 

Ditekankannya, Tumpek Landep dapat dilaksanakan di rumah maupun pura. Caranya? Kumpulkan benda – benda pusaka ataupun semua benda tajam dan berbahan dasar logam pada sebuah dulang beralas kain kasa bersih (baru). Setelah dibersihkan dan diberi minyak khusus, haturkan banten Tumpek Landep. Biasanya perayaan ini berlangsung dari pagi hingga sore.


Mpu Parama Daksa juga menuturkan, rangkaian banten Tumpek Landep di antaranya sesayut jayeng perang, sesayut kesuma yuda, sesayut pasupati, segehan agung pasupati dan sesayut guru. “Semua banten itu disesuaikan pada tempatnya masing – masing.  Contohnya, jika ingin melaksanakan banten Tumpek Landep di motor atau mobil yang dihaturkan adalah sesayut jayeng perang a tanding,” ungkapnya.

 Mpu Parama Daksa menjelaskan, dalam lontar Sundarigama  dijelaskan, "Kunang ring wara Landep, Saniscara Kliwon, puja wali Bhatara Siwa, mwah yoganira Sanghyang Paśupati, puja wali Bhatara Siwa tumpeng putih kuning adan-adanan, iwak sata sarupania, grih trasibang, sedah wah, haturakna ring sanggar. Yoga Sanghyang Sri Paśupati, sesayut jayeng prang, sesayut kusuma yudha, suci, daksina, peras, canang wangi-wangi, astawakna ring sarwa sanjata, lendepaning prang. Kalingania ring wwang, denia paśupati, landeping idep, samangkana talaksanakna kang japamantra wisesa Paśupati."


Isi lontar tersebut menjelaskan, pada saat Tumpek Landep yang dipuja adalah Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Pasupati. Untuk pemujaan Sang Hyang Siwa dihaturkan tumpeng putih kuning, ayam sebulu - bulu, grih trasibang (ikan asin dan terasi merah), sedah woh, dihaturkan di sanggah. Lalu, untuk dihaturkan ke Sang Hyang Pasupati berupa sesayut jayeng prang, sesayut kusuma yudha, suci, daksina, peras, canang. Banten tersebut ditujukan  kepada semua pusaka dan benda yang berbahan dasar logam.

Soal pantangan? Dikatakannya, dalam lontar Sundarigama dibeber : "Pangacinia kayeng lagi, sedengnging latri tan wenang anambut karya, meneng juga pwa ya, heningakna juga ikang adnyana malilian, umengetaken Sanghyang Dharma, mwang kawyiadnyana sastra kabeh, mangkan telas kangetakna haywa sang wruhing tattwa yeki tan mituhu, mwang alpa ring mami, tan panemwa rahayu ring saparania, apania mangkana, wwang tan pakarti, tan payasa, tan pakrama, sania lawan sato, binania amangan sega. Yan sang wiku tan manut, dudu sira Wiku, ranak ira Sanghyang Dharma."


“Jika kita telaah isi bait lontar itu, tertera jelas bahwa pada saat perayaan Tumpek Landep, pada malam hari tidak diperkenankan melaksanakan pekerjaan jasmani. Apapun bentuknya, jangan bekerja, jangan memasak, jangan bicara kotor, dan jangan bepergian. Intinya malam itu kita jangan melaksanakan aktivitas fisik. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Dalam lontar itu juga dipaparkan, sebaiknya kita melakukan meditasi, renungan suci dan persembahyangan.

"Karena orang yang tidak melaksanakan kerti, yasa, dan karma (tidakan terpuji, pengabdian dan perbuatan baik) dipercaya tidak akan mendapatkan keselamatan di mana pun dia berada,” pungkasnya. 

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia