Jumat, 04 Dec 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Ini Penjelasan Agnihotra dan Homa Sebagai Media Pemujaan

01 April 2018, 11: 44: 03 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Penjelasan Agnihotra dan Homa Sebagai Media Pemujaan

API : Agni adalah dewanya yadnya, karena tanpa Dewa Agni, yadnya tidak bisa dilaksanakan. Dalam upacara yadnya dipergunakan dupa sebagai simbol Dewa Agni (api). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Salah satu aspek yadnya dalam Veda yang selama ini kurang mendapat perhatian adalah Agnihotra. Dengan menekuni, menghayati, meyakini, dan mempraktikkan Agnihotra, dapat digunakan sebagai salah satu solusi menghadapi fenomena kemajuan iptek dan globalisasi yang sedang pesat melanda seluruh dunia, khususnya Pulau Bali yang semakin mencemaskan. 


Agnihotra is sacrificing to agni (athavaveda VI;97). Agnihotra pengorbanan suci kepada api atau api suci. Menurut Musna, 1993:13 menyatakan, Agnihotra adalah upacara persembahan terhadap Dewa Agni. Suatu upacara yang sangat penting dalam Veda, yang dilaksanakan sehari-hari oleh para golongan grahastin (berumah tangga).

“Homa adalah upacara selamatan kepada dewa-dewa dengan menaburkan ghritta pada api suci ,”  ujar akademisi Unhi, I Made Suasti Puja, SE, M. Fil.H yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat (9/6/2017). 

Dijelaskan Suasti Puja, bahwa  Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata, yaitu Agni dan Hotra. Agni adalah api dan Hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan. Jadi , Agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.  Secara umum semua yadnya dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yadnya dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan.

Mengapa persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa Agni (disimbolkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga, maknanya adalah jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan nyasar ke tempat lain.


Prinsip keseimbangan sangat dominan dalam kerja Agnihotra. Seperti proses terjadinya hujan, di mana air laut menguap karena panas matahari, membentuk awan tebal, terbawa angin kearah pegunungan, karena dingina membentuk titik-titik air, jatuh menjadi hujan, memberikan kesuburan kepada hutan. Air hujan meresap dan disimpan oleh lapisan hutan, mengalir mengikuti aliran sungai dan berakhir di samudra. Siklus ini terulang terus, tiada henti. Dengan adanya hujan ini maka kelangsungan hidup semua makhluk hidup menjadi terjaga. Demikian juga kerja agnihotra dengan menyalakan api suci, dimana persembahan utama ghee, biji-bijian, dan bunga-bungaan, semua keharuman ini terbawa oleh asap yang bergabung bersama awan, kemudian menjatuhkan hujan. Hujan mendatangkan kesuburan, kesuburan ini dinikmati umat manusia .


Agnihotra dengan Homa sama-sama menggunakan sarana api suci sebagai media pemujaan. Perbedaannya bahwa Homa persembahan ditujukan kepada dewa-dewa yang dipuja sebagai Ista Dewata dengan perantaraan api suci, sedangkan Agnihotra persembahan langsung ditujukan kepada Dewa Agni, api suci sebagai wujud material dari Dewa Agni itu sendiri.


Di lain sisi, Buddha menyatakan bahwa Agnihotra  adalah Aggihutta mukho yadnya (Agihotra is the chief of yajnas), yang artinya yadnya yang utama di antara yadnya. Kenapa dikatakan demikian? Karena sasaran pemujaan Agnihotra adalah Dewa Agni. Dewa Agni dewa yang sangat dihormati, disegani di kalangan dewa-dewa setelah Dewa Indra. Dalam Veda,  Dewa Indra memiliki tidak kurang 30 kemuliaan. Sedangkkan Dewa Agni memiliki sekitar  19 kemuliaan.


Kemulian utama yang dimilki Dewa Agni , yakni pemberi utama kekayaan, pemimpin utama para pahlawan, paling muda dan utama, angira utama. Selain itu, juga disebutkan paling dihormati, penghancur utama kejahatan dan kegelapan, pemilik kekuatan utama, paling bijaksana, dipuja paling tinggi, paling baik hati dan membahagiakan,  paling dicintai, paling banyak pemujanya, paling berbahagia, paling dekat. Juga merupakan pendeta utama, paling berkilauan, paling mulia, dan paling terkenal


Dalam Regveda sebagian besar mantra adalah mengenai Dewa Agni, baru kemudian Dewa Indra. Dewa Agni adala Dewa yang paling penting di dunia. Dengan api manusia bisa memasak, sehingga manusia bisa makan makanan yang baik dan sehat untuk kelangsungan hidup. Demikian pula untuk mendekatkan diri kepada Tuhan diperlukan Dewa Agni.

 “Seperti diketahui bahwa yadnya sangat penting bagi manusia,” jelas dosen Unhi ini.  


Hal tersebut tertuang dalam Rg. Veda mantra pertama,  yang menyiratkan : Agni mile  purohitam yajnasya devartvijam, hotaram ratnadhatamam. Kepada Dewa Agni, yaitu pemimpin yajna (purohitam) dewanya yaddnya (yajnasya devam) dan rtvija.  Demikian juga pelaksana yajna (hotaram) yang memiliki dan memberikan kekayaan (ratna dhatamam) kepada Dewa Agni tersebut saya memuja (mile).

Terjemahan gamblangnya bahwa saya memuja Dewa Agni, yaitu pemimpin yajna, dewanya yajna. Demikian juga pelaksanaan yajna yang memiliki dan memberi kekayaan.


Dalam melaksanakan yadnya, Dewa Agni sebagai purohita (pemimpin yadnya) dengan mengucapkan mantra-mantra tentang Dewa Agni dan atas anugerah Dewa Agni yadnya bisa berhasil. Dengan demikian , Dewa Agni merupakan pemimpin para dewa yang membawa permohonan sang yajamana (melaksanakan yadnya) kehadapan Tuhan.  Yajnasya dewamrtvijam yang artinya Dewa Agni adalah dewanya yadnya, karena tanpa Dewa Agni, yadnya tidak bisa dilaksanakan. Dalam upacara yadnya dipergunakan dupa sebagai simbol Dewa Agni (api).

Dalam melaksanakan Homa tetap menggunakan sarana banten yang disebut banten atithi. Tentang banten atithi tersebut ada disebutkan dalam prasasti yang tersimpan di Pura Taman Bangli. Homa yang dilakukan sehari-hari disebut dengan 'Pratyaya Lali Homa'. Cara melakukan Homa, yakni mula-mula dibuatlah suatu pendapa yang di tengah-tengahnya ditinggikan tempatnya dan di tempat itu digali sebuah lubang kecil tempat menyalakan api, dan dilakukan sebanyak tiga kali , yakni pagi, siang, dan sore hari. Penyalaan api itulah yang disebut dengan Triagni atau Triwahni. 


Selanjutnya, di sekitar lubang tempat menyalakan api duduk  orang-orang yang melaksanakan homa itu. Pada saat upacara dilaksanakan, ada seorang yang bertugas mengatur dan memimpin upacara itu. Sesudah api menyala, diucapkan mantra-mantra, selanjutnya caru banten yang telah disiapkan lebih dahulu dibakar atau dipersembakan dalam api itu, disertai dengan mengucapkan mantra-mantra dari Veda.

“Cara seperti tersebut dilakukan hingga pemerintahan raja Bali yang terakhir, yaitu pada saat Bali dikuasai oleh raja-raja Jawa Timur,” tutup Suasti Puja. 

(bx/gus /yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news