Rabu, 19 Sep 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Ciri-ciri dan Cara Pengobatan Penyakit Jaran Goyang atau Pelet

Selasa, 03 Apr 2018 08:36 | editor : I Putu Suyatra

Ini Ciri-ciri dan Cara Pengobatan Penyakit Jaran Goyang atau Pelet

Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum (DIAH SARASWATI/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Penyakit tidak saja datang disebabkan oleh virus, temperatur atau makanan. Namun, penyakit bisa saja bikinan dari manusia. Salah satunya adalah jaran goyang atau ilmu santet dan pelet. Ilmu ini bisa dipelajari oleh manusia asalkan dengan tekun dan bimbingan guru yang mahir. Juga bisa diobati.

Lontar Ratu Ning Usada, seperti namanya Ratu (raja), Ning (dari), Usada (ilmu pengobatan) raja dari segala ilmu pengobatan, merupakan salah satu lontar yang membahas masalah pengobatan. Tak hanya itu, dalam lontar tersebut terdapat cara mendiagnosis penyakit, serta membahas mengenai penyakit. Segala jenis penyakit yang dibahas pada lontar tersebut berupa penyakit panas, sakit perut, tangan kepek, hingga jaran goyang.

“Siapa sih yang tak kenal dengan istilah jaran goyang, sampai ada lagunya juga. Istilah tersebut sudah ada sejak jaman dahulu yang memiliki arti pelet. Menurut Lontar, jaran goyang merupakan bagian dari sastra lisan yang berupa mantra. Mantra berjenis pengasihan ini berkembang di masyarakat Suku Osing Jawa,” ujar Staf Unit Pelaksana Teknis Fakultas Ilmu Budaya yang sekaligus ahli penerjemah, Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum, Jumat (30/3).

Dalam Ratu Ning Usada nama penyakit tersebut adalah Pemali Jaran Goyang. Tanda-tanda dari penyakit tersebut sangat sederhana, orang yang terkena penyakit tersebut rata-rata akan inguh atau yang lebih dikenal dengan istilah bingung dan bimbang seperti orang gila.

Mungkin masih banyak masyarakat yang bertanya mengenai nama, seperti yang diketahui Lontar Ratu Ning Usada merupakan lontar yang menggunakan bahasa Jawa Kuno dan Bali Kuno seta Bahasa Sansekerta. Hal inilah yang menyebabkan adanya bahasa tersebut. Eka juga mengungkapkan bahwa untuk menerjemahkan lontar tersebut tidaklah mudah.

 “Banyak cara untuk mempelajari ilmu tersebut, tergantung di daerah mansing-masing. Ada yang melakukan sumpah oleh gurunya, ada yang dengan bertapa, dan lainnya,” paparnya sembari memnerjemahkan Lontar Ratu Ning Usada.

Eka yang saat itu ditemui di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, mengungkapkan bahwa pelet tersebut tidak hanya diperuntukkan untuk satu orang saja. Namun bisa digunakan ke banyak orang. Salah satu contohnya untuk mencari sebuah popularitas. Jika jaman dahulu mungkin tidak banyak orang yang menggunakan untuk popularitas, ilmu tersebut lebih untuk keperluan  individual.

“Dalam lontar ini memang disebutkan, bahwa siapa saja yang menguasai ilmu tersebut akan sangat mudah untuk menundukkan lawan jenis. Setiap ucapan yang diucapkan oleh mereka yang memiliki ilmu, pasti akan dituruti,” tambahnya.

Dilihat dari asal-usul awal, jaran gorang memang berasal dari suku Osing Jawa. Eka mengungkapkan, lanjutnya, Suku Osing mempercayai adanya empat ilmu, yakni ilmu merah, ilmu kuning, ilmu hitam, dan ilmu putih. Ilmu merah berkaitan dengan perasaan cinta, ilmu kuning mengenai jabatan, ilmu hitam untuk menyakiti, dan ilmu putih untuk menyembuhkan.

“Nah, kalau jaran goyang ini merupakan ilmu merah karena berkaitan dengan perasaan. Tapi lebih dikenal dengan istilah mesisan gantet yang artinya sekalian bersatu, dan lebih dikenal dengan istilah santet bagi masyarakat osing,” ujar pria lulusan Universitas Udayana tersebut.

Dalam Ratu Ning Usada, pembahasan mengenai penyembuhan dari penyakit jaran goyang pun ada. Dan ternyata cara tersebut sederhana dan hanya membutuhkan sarana tanaman tradisional saja yaitu akar tuwung (terong) bolo, akar tuwung kanji dan triketuka (bawang, suna, janggu). Semua bahan tersebut digigit, kemudian disemburkan ke orang yang mengalami hal tersebut.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, banyak yang salah kaprah ketika melihat salah satu keluarga atau teman yang  terlihat seperti orang gila, malah dibawa ke dokter. Setelah dokter tidak bisa mengobati, ujung-ujungnya dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). “Mungkin setelah orang tahu ternyata pengobatannya semudah itu, mereka tidak perlu repot-repot untuk pergi ke dokter,” katanya. 

(bx/sar/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia