Minggu, 18 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Taman Alit Banyumala; Berawal dari Pawisik Kode Nomor Togel

Selasa, 17 Apr 2018 07:55 | editor : I Putu Suyatra

Pura Taman Alit Banyumala; Berawal dari Pawisik Kode Nomor Togel

MISTIS: Jro Wayan Karya saat menunjukkan pelinggih Nyi Roro Kidul atau meparab Ida Bhatari Ratu Ayu Manik Segara di pura Taman Alit Banyumala, Rabu (11/4) lalu. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Bila di wilayah Parangtritis Jogjakarta terkenal dengan legenda Nyi Roro Kidul. Pun demikian di Pura Taman Alit Banyumala, Kelurahan Banyuasri, Buleleng. Pura ini memiliki pelinggih Nyi Roro Kidul atau meparab Ida Bhatari Ratu Ayu Manik Segara. Tak hanya sebagai tempat melukat, pura ini kerap didatangi pemedek untuk memohon kesembuhan, keturunan, rezeki hingga jabatan. Seperti apa?

Kawasan pura ini begitu asri. Pepohonan yang rindang membuat udara terasa sejuk. Apalagi pura Taman Alit ini berada tepat di pinggir sungai serta hanya berjarak sekitar 200  meter dari Pantai Camplung.

Di Pura ini diyakini bersemayang Kanjeng Ratu Roro Kidul atau yang biasa disebut Ida Bhatari Ratu Ayu Manik Segara. Busana pelinggih ini dibalut dengan warna serba hijau, sebagai ciri khas dari Ratu Roro Kidul. Di depan pelinggih dilengkapi dengan seekor patung naga yang juga dicat hijau sebagai ancangannya.

Tak hanya itu, di areal pura ini juga terdapat kolam air yang jernih dengan warna kehijauan. Mata air inilah yang kerap dijadikan sara untuk penglukatan serta memohon tamba  (obat, Red) untuk kesembuhan akibat penyakit secara niskala.

Koran inipun berusaha mengorek keterangan lebih dalam dari Jro Wayan Karya, 48 selaku pengempon Pura Taman Alit. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai tukang bangunan ini langsung menjelaskan sejarah berdirinya Pura Taman Alit.

Menurutnya, sebelum menjadi pura seperti sekarang, lokasi ini awalnya adalah rawa-rawa yang ditumbuhi semak belukar dan pepohonan berduri seperti Pohon Canging. Karena lokasinya yang angker, banyak orang memohon agar diberikan nomor buntut (togel, Red). Tak terkecuali ayahnya Jro Wayan Karya yakni almarhum Made Juni Yasa atau Jro Petapakan.

“Nah sekitar tahun 1980-an, Bapak saya meminta nomor buntut di sini. Lokasinya masih semak belukar. Di sana almarhum mendapatkan pawisik dari Ida Bhatari Ratu Ayu Manik Segara untuk membuat pelinggih. Memang dikasi nomor togel dalam bentuk kode. Tapi setelah menang, uangnya itulah yang dipergunakan untuk membangun pelinggih,” kata Jro Wayan karya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (11/4) lalu.

Meski mendapat pawisik seperti itu, sebut Jro Wayan Karya tidak serta merta membuat sang ayah langsung membuatkan pelinggih. Hingga akhirnya kembali diperingatkan untuk melaksanakan apa yang menjadi pawisik  dari Ida Bhatari Ratu Ayu Manik Segara.

Singkat cerita, berselang dua tahun setelah menerima pawisik, tepatnya tahun 1982 akhirnya Jro Petapakan mulai melakukan penataan di lokasi tersebut. Setelah ditata, almarhum Jro Petapakan membuatkan pelinggih turus lumbung dari bambu. Begitu juga sumber mata air yang berada di areal pura ditanami bunga teratai (tunjung, Red).

“Dari sana Bapak saya mulai menggelar pangusadaan (pengobatan, Red). Sumber mata air di pura ini menunjukkan khasiat. Pemedek mulai ramai nangkil. Mereka datang untuk memohon pengobatan, kesembuhan hingga keturunan” ujar Jro Karya.

Dituturkan Jro Karya, pemedek yang tangkil tidak hanya dari umat Hindu di Bali saja. Tetapi ada pemedek lintas agama dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Lombok dan Jawa. Bahkan tamu manca negara tak ketinggalan, mulai dari Negara Inggris, Belanda, Australia. Sebagaian besar pemedek yang meminta kesembuhan rata-rata sudah mendapat petunjuk secara niskala untuk mendatangi Pura Taman Alit.

“Dulu ada turis Belanda sangat berharap memiliki anak. Nah setelah memohon dengan tulus ikhlas di tempat ini, permintaannya pun terkabul. Setelah lahir anaknya diberinama Yohanes Alit Putra. Nama Yohanes diambil dari Belanda, nama Alit diambil dari Pura Taman Alit dan nama Putra itu karena ibunya orang Indonesia yang dari Bali,” papar Jro Karya.

Banyaknya pemedek yang tangkil silih berganti kerap menghaturkan dana punia. Dana punia ini kemudian dimanfaatkan untuk membangun pura dengan pelingih yang lebih paten. Pada tanggal 30 September 2004, bertepatan dengan Purnama Sasih Katiga, Pura Taman Alit akhirnya menggelar upacara ngenteg linggih dengan biaya sekitar Rp 160 juta.

Lalu sekitar tahun 2013, Jro Petapakan Made Juni Yasa meninggal dunia. Praktis peran pengempon pura diambil alih putranya Jro Wayan Karya. Meski demikan, Jro Karya tetap melakukan pengusadaan hingga ngerawosin.

Dikatakan Jro Karya, ancangan di Pura Taman Alit ini kerap menampakkan diri. Mulai dari Ikan Julit berwarna hitam putih dan merah, Buaya Putih, hingga ular phiton. Ancangan tersebut sering muncul dari kolam yang ada di areal pura. Tak hanya itu, sekitar 5 bulan lalu dirinya sempat menangkap ular phiton sepanjang 5 meter dengan berat sekitar 20 kg lebih.

“Saya tangkap ularnya karena kebetulan saya lihat di luar areal pura. Maunya dijual. Langsung saya ikat dan masukkan ke dalam karung. Nah malamnya justru istri saya mendengar ada orang menangis. Ternyata suara tangisan itu datang dari dalam karung. Dia minta dikeluarkan karena itu adalah ular duwe. Saya juga sempat dicari sama yang berstana agar melepaskan ular yang memang berisi permata di kepalanya. Nah setelah dilepas di kolam, langsung hilang. Kalau ancangan Buaya putih banyak yang sudah pernah melihatnya,” tuturnya.

Keunikan lain juga bisa ditemukan di Pura Taman Alit. Kolam di areal Pura Taman Alit bisa menunjukkan sinyal bencana. Artinya jika akan terjadi bencana kolam terlihat bergemula disertai ikan-ikan melompat.

“Itu sudah berkali-kali terbukti. Misalnya sekitar tahun 1999, air kolam bergolak. Ternyata ada kerusuhan di Kota Singaraja yang sampai terjadi bakar-bakaran. Setelah itu tahun 2002 juga pernah bergolak ternyata ada bencana banjir di Singaraja. Nah terakhir sata Purnama Sasih Katiga pada September 2017 lalu kolamnya juga bergolak. Ada pawisik akan terjadi bencana. Ternyata benar ada bencana banjir bandang di Singaraja, sampai menewaskan 3 orang,” bebernya.

Selian memohon kesembuhan  dan keturunan, Pura Taman Alit kerap didatangi pejabat yang ingin berlaga di pilkada. Tak terkecuali salah satu Bupati di Bali. Jro Karya menyebut, Bupati itu sempat mendatangi Pura Taman Alit sebelum pilkada digelar.

“Saat itu beliau baru datang dari Jawa bersama Jro Mangku dari Banyupoh. Nah dia minta wangsit di sini sekaligus melukat. Tiang yang ngeraosin saat itu, nah dibilang tenang saja, karena dipastikan akan naik. Dia diminta membuktikan pawisik itu. Dan benar kan sekarang terpilih sebagai Bupati,” bebernya.

Selain ditemukan pelinggih Ida Bhatari Ratu Ayu Manik Segara, di Pura Taman Alit juga berstana pelinggih Dewi Kwan Im. Konon, dari penjelasan Jro Karya, jika menstanakan pelinggih Nyi Roro Kidul, maka wajib juga menstanakan pelinggih Dewi Kwan Im.

“Saya dapat petunjuk dari penekun spiritual asal Denpasar. Katanya kalau menstanakan Kanjeng Ratu Roro Kidul maka harus distanakan juga Dewi Kwan Im. Nah karena keterbatasan biaya, kita selaku pengempon juga minta bukti agar jikalau benar ingin distanakan setidaknya dibantu agar ada donatur yang membiayai. Ternyata kurang dari sebulan ada dua orang donatur dari Singaraja untuk mewujudkan pelinggih Dewi Kwan Im ini” paparnya.

Tak jarang banyak pemedek yang berprofesi sebagai pedagang yang memohon Daksina Linggih. Daksina itu untuk distanakan di tempatnya berjualan agar laris. “Makanya setiap purnama selalu dipadati pemedek,” jelasnya.

Lalu apa saja sesajen yang dibawa jika ingin melukat ke pura Taman Alit? Dijelaskan Jro Karya untuk sesajen memang seikhlasnya. Dari pengalaman, rata-rata pemedek membawa banten pejati untuk melukat, memohon pengobatan.

“Banten Pras Pejati boleh. Asalkan tidak menghaturkan babi guling saja. Karena dilarang menghaturkan daging babi di Pura Taman Alit. Jika ingin melukat baiknya datang pada hari beteng kajeng, kajeng kliwon. Kalau nunas daksina linggih misalnya pada hari Purnama,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia