Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Begini Pandangan Seks Bebas dari Sisi Spiritual dan Adat di Bali

17 April 2018, 10: 43: 55 WIB | editor : I Putu Suyatra

Begini Pandangan Seks Bebas dari Sisi Spiritual dan Adat di Bali

ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Beragam bentuk pornografi mudah menyebar lewat media sosial, juga  melalui android, mulai dari tulisan, komik serta video yang mudah diakses remaja.
Celakanya, kemudahan akses tersebut tidak dibarengi edukasi yang benar tentang hubungan seksual dari orang tua serta lingkungan. Akibatnya, banyak ikutan buruk menyertai karena tak sedikit remaja hamil sebelum nikah.

Sing Beling Sing Nganten  ( tak hamil tak akan nikah),  istilah itu cocok untuk menggambarkan polemik seks bebas, yang dewasa ini seakan menjadi sesuatu yang biasa atau mainstream di Bali. Minimnya edukasi seksual kepada anak – anak di bawah umur serta  remaja, membuat mereka melakukan aksi coba – coba dengan lawan jenisnya.  Aksi coba – coba yang didalangi rasa ingin tau yang besar, serta lemahnya pengawasan orang tua, menjadikan remaja sekarang seolah menjadikan masa depannya sebagai ajang judi taruhan.

Demikian disampaikan dosen Filsafat Institute Hindu Dharma (IHDN) Denpasar, IG. Agung Jaya Suryawan, pekan lalu. “ Edukasi kepada remaja mengenai seks sangat  kurang karena adanya stigma tabu untuk bicara soal seks di depan umum. Hubungan seksual dianggap dosa dan dianggap salah. Padahal kan tidak seperti itu,"urainya.

Suryawan mengatakan ada batasan sampai mana edukasi itu bisa disampaikan. "  Ketika  mengedukasi anak berumur 13 tahun, masa ia kita jabarkan cara melakukan seks beserta posenya seperti yang ada di dalam kitab Kamasutra? Kan tidak seperti itu juga,” ujar Suryawan.

Jika  menyampaikan edukasi seksual kepada remaja,  lanjutnya, jelaskan pada mereka apa itu seks secara ilmiah. "Sampaikan juga apa dampak yang akan mereka rasakan jika sampai melakukan hubungan intim di luar nikah, arahkan mereka bagaimana seharusnya menyalurkan energi itu ke arah yang positif,” paparnya.

Dikatakannya, jika dilihat dalam ajaran agama Hindu, seks bebas  juga dibahas dalam ajaran Trikaya Parisudha tentang Kayika. Dalam ajaran tersebut, seks bebas  disebut juga Tan Paradara. Pengertian Tan Paradara ini jika dimaknai secara luas bisa diartikan bersentuhan seks, berhubungan seks, bahkan menghayalkan seks dengan wanita atau lelaki yang bukan pasangan sahnya.

Dalam kitab Manawadharmasastra, Sarasamuscaya, dan Parasaradharmasastra, banyak menjelaskan bahwa berhubungan seks haruslah senantiasa dianggap sebagai hal yang suci yang hanya diperkenankan setelah melalui proses pawiwahan atau perkawinan. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi umat Hindu Indonesia pada tahun 1983, pernah menerbitkan dan mengesahkan Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek - aspek Agama Hindu sebagai hasil dari Seminar Kesatuan Tafsir. Salah satu di antaranya yang disahkan adalah tentang Catur Cuntaka atau keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu. Salah satunya adalah yang terkait dengan masalah hubungan seks di luar nikah.  Dalam kesatuan tafsir itu disebutkan, bahwa wanita hamil tanpa beakaon dan Mamitra Ngalang (kumpul kebo), yang kena cuntaka adalah wanita itu sendiri beserta kamar tidurnya. Cuntaka ini berakhir bila dia dinikahkan dalam upacara pawiwahan. Kemudian, anak yang lahir dari kehamilan sebelum pawiwahan (panak dia-diu), yang kena cuntaka adalah si wanita (ibu), anak, dan rumah yang ditempatinya. Cuntaka ini berakhir bila anak itu ada yang mameras, yaitu disahkan sebagai anak dengan upacara tertentu.


Secara eksplisit kesatuan tafsir tersebut, tidak mengatur dampak spiritual yang akan diterima oleh pihak laki – laki. Namun, dosa atas perbuatan paradara jelas disebutkan dalam Sarasamuscaya. “Memang dalam aturan Perhimpunan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) tidak disebutkan jelas apa dampak yang akan diterima pihak laki – lakinya. Bahkan, sanksi sosial pun jarang diterima pihak laki – laki, jika terjadi kehamilan di luar nikah. Paling cuma disuruh tanggung jawab untuk menikahi,” ujarnya.


Namun, ia juga menjelaskan, pawiwahan yang menyimpang dari ajaran agama juga dinyatakan sebagai dosa yang disebutkan dalam Manawadharmasastra dan Parasaradharmasastra. “Kegiatan seksual sebelum menikah tentu dosa, tapi memang sangat merugikan, khususnya dari pihak wanita. Makanya, saya katakan bagi kalian yang wanita jangan mau dijadikan bahan percobaan anak laki – laki. Mereka itu seperti taruhan, kalau lagi apes ya dinikahi . Kalau tidak,  lelaki bisa main perempuan lain lagi.
Kalau sudah begitu, beda lagi pengertian seksnya. Jadi,  seperti prostitusi, bukan berlandaskan kasih sayang lagi,” paparnya. 

Suryawan memaparkan beberapa penyebab seks bebas, di antaranya rasa ingin tahu yang besar, pengaruh lingkungan, tuntutan dari pacar atas dasar kebutuhan mencintai dan dicintai, dan faktor tontonan. “Paling sering karena faktor tontonan. Coba saja lihat anak anak SD zaman sekarang menganggap pacaran itu hal yang lumrah, lantaran nonton sinetron di televisi. Karena itu, pentingnya edukasi soal seks, agar mereka tidak coba – coba dan menganggap itu hal yang benar,” paparnya.


Suryawan menuturkan, ada beberapa dampak yang umumnya diterima pasangan terlarang, yaitu secara psikis akan mengalami trauma masa lalu yang kelam. Di masa depan akan sulit mendapatkan pekerjaan karena pendidikan yang terputus, dan rasa malu dari keluarga. 


Jika terlanjur hamil sebelum menikah, lanjutnya,  pasangan tersebut harus melanjutkan dengan upacara pernikahan, dan ketika sang anak sudah lahir, perlu dilaksanakan upacara maperas bersamaan dengan upacara tiga bulanan. “Sebelum upacara maperas dilakukan, anak tersebut masih dianggap leteh atau kotor. Walaupun, bayi dikatakan terlahir suci. Namun, secara niskala, bayi yang lahir dari hubungan di luar nikah dikatakan kotor dan leteh,” ungkapnya. 

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia