Senin, 20 Aug 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Ratusan Sekolah di Buleleng Belum Miliki Perpustakaan

Selasa, 17 Apr 2018 12:03 | editor : I Putu Suyatra

Ratusan Sekolah di Buleleng Belum Miliki Perpustakaan

Kepala Disdikpora Buleleng Gede Suyasa (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Geliat Literasi Sekolah (GLS) yang diluncurkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI nampaknya mengalami sedikit kendala di Buleleng. Pasalnya dari 485 unit sekolah dasar di Buleleng, sebanyak 127 sekolah belum memiliki ruang perpustakaan. Praktis mereka terpaksa mengoptimalkan ruangan yang ada.

“Kalau kita lihat kondisi itu memang sangat tidak memenuhi syarat. Tapi itu sudah kami petakan dan tiap tahun sudah berupaya kami penuhi fasilitasnya,” kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng, Gede Suyasa, saat ditemui Senin (16/4) siang.

Demi mengembangkan perpustakaan, Disdikpora Buleleng biasanya mengoptimalkan mess guru yang tak terpakai. Saat ini banyak mess sekolah yang mangkrak dan rusak parah. Mess itu kemudian disulap menjadi ruang perpustakaan.

“Tahun ini ada beberapa sekolah yang mendapatkan anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Itu kami dorong untuk pengadaan perpustakaan,” imbuh Suyasa. Perpustakaan yang nyaman dan ideal, diharapkan bisa mendorong gerakan literasi sekolah.

Selain terkendala ruang perpustakaan yang ideal, sambung Suyasa gerakan literasi yang didengungkan sejak dua tahun ini baru sekedar di permukaan saja. Sebab dari hasil pengamatannya siswa di sekolah yang menerapkan gerakan literasi baru dituntut hanya membaca saja, belum sampai ke pemahaman apa yang dibaca. 

Suyasa tak menampik jika tiap sekolah mewajibkan anak didiknya untuk membaca 10-15 menit sebelum jam pelajaran di mulai. Hanya saja apa yang dibaca siswa tidak mendapat pendalaman dari guru. Bahkan cenderung belum ada penekanan lebih kepada siswa yang dilakukan guru kepada siswanya yang sudah melaksanakan gerakan literasi. Kebanyakan baru sekedar membaca saja.

“Semestinya ada tagihan apa yang dibaca. Sehingga anak-anak membaca tidak hanya melewati bacaan saja, tetapi mulai mengingat dan memahami apa yang dibaca,” kata dia. 

Ia pun menekankan kepada Kepala Sekolah dan guru-guru untuk lebih giat dan semangat mengawal gerakan literasi. Sehingga jika gerakan dengan proses yang benar dilakukan jangka panjang akan sangat bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia