Minggu, 18 Apr 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Rahasia Batu Bertuah dan Kenali Cirinya

28 April 2018, 07: 51: 38 WIB | editor : I Putu Suyatra

Rahasia Batu Bertuah dan Kenali Cirinya

BALI EXPRESS, DENPASAR - Fenomena Batu Akik dan permata, sempat menjadi tren di kalangan kolektor maupun penyuka barang antik di tahun 2015. Banyak rahasia tersimpan, dan  benarkah membawa keberuntungan pemakainya atau sebaliknya?

Bukan hal aneh lagi  bila seseorang  berlomba - lomba mengumpulkan batu serta permata dengan bentuk serta warna yang terbilang unik dan langka. Harganya yang sempat menyamai sebuah mobil mewah, membuat batu akik seakan diburu. Bukan saja karena warna serta coraknya yang unik, namun juga karena diyakini  tuah dan kegunaannya.

Di Indonesia, banyak daerah yang menghasilkan batu permata yang terbilang populer. Ragam jenis batu permata populer yang berasal dari daerah di antaranya batu Idorcrase yang berasal dari Aceh dan Padang, adapula Batu Kalimaya yang berasal dari Banten, serta Batu Kecubung dan Intan berlian yang berasal dari Kalimantan. Batu – batu mulia tersebut diklasifikasikan berdasarkan menurut kandungan serta kualitas kristalnya. Batu mulia tersebut memiliki nilai estetis dan  ekonomis.

Baca juga: Peringati May Day, Buruh Tak Harus Turun ke Jalan

"Sepanjang peradaban manusia, batu mulia juga dijadikan sebagai patokan strata sosial. Semakin banyak memiliki batu mulia dianggap semakin tinggi tingkatan sosialnya," papar Dosen Pascasarjana, Dr. Gede Sutarya. Dikatakan Sutarya, manusia umumnya cendrung menyukai benda - benda yang indah dan berkilau, seperti emas, bunga permata dan berbagai logam serta batu mulia lainnya.

"Nah, ketika zaman kerajaan, mahkota raja menggunakan berbagai batu mulia. Tujuannya  untuk menegaskan bahwa derajat sosialnya lebih tinggi,” ungkap Sutarya.

Secara historis, budaya Bali sebagian besar diadaptasi dari Pulau Jawa, ketika era Majapahit.  Fenomena kebangkitan terhadap sesuatu yang dianggap klasik (renaissance), memang kerap terjadi. Namun, di dalam perkembangannya ternyata fungsi batu mulia mulai berubah.

“Yang awalnya sebagai hiasan, kini fungsi itu bergeser ada yang menjadikannya sebagai jimat. Memang dalam Ilmu perbintangan, batu mulia dijadikan sebagai penolak bala, atau mencegah nasib buruk. Namun, tidak semua cocok menggunakan jenis batu mulia tertentu,” ujarnya.

Fenomena batu mulia ini mencerminkan sebuah sajak yang ada dalam Kekawin Ramayana, yang menyebut : Sakwehning mulya kabeh, kanaka rajata lan manik hanang kana. Yangken untunia maputih, gumuyu guyung swarga sor denya. Sphantika manik tamalah – alah, suteja munggwing umah paninjowan. Kadi Gangga Saka Himawan, rupanya katon sutejasri.

Artinya, segala benda yang mulia , emas, perak dan permata ada di sana. Bagaikan gigi putih yang berbaris bersinar. Seakan sedang menertawai Suargan yang kalah gemerlap oleh kilauannya. Kristal permata seolah tak tertandingi, yang terlihat bagaikan Sungai Gangga dari Himawan terlihat bersinar dengan indahnya.

“Dalam Kekawin Ramayana, pemakaian batu mulia secara berlebihan seperti disindir lewat bait tersebut. Katanya sinarnya seakan mengalahkan cahaya Surga. Ya, memang sebaiknya tidak menggunakan batu mulia secara berlebihan,” ungkapnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Sutarya menjelaskan, ada beberapa sumber yang mencatat mengenai fungsi dan berbagai jenis batu mulia sesuai tuahnya. Salah satu sumbernya, yakni lontar Caracan Mirah. Lontar tersebut memuat ciri – ciri batu mulia yang memiliki tuah, atau disebut juga Manik Maya (permata mirah utama). “Dalam lontar disebutkan, batu mirah utama sepintas terlihat memiliki garis tipis bagaikan rumput di tengah air dalam belanga yang jernih. Jadi, jika batu itu, kita lihat secara dekat dengan cahaya, maka akan terlihat sebuah garis tipis. Jika menemukan batu dengan ciri – ciri itu ada baiknya disimpan. Batu Mirah Manik Maya konon fungsinya sebagai penjaga diri dari pengaruh buruk,”papar Sutarya.

Hal senada juga diungkapkan perajin batu akik dan batu mulia, Wayan Dharmawan. Menurutnya, tidak semua batu memiliki khasiat atau tuah tertentu. “Mungkin ada beberapa batu mulia atau batu akik yang benar - benar memiliki khasiat atau petuah. Seperti Batu Rambut Sedana, yang konon digunakan sebagai alat pengasih asih. Itu pun jika batu tersebut dipasupati. Jika tidak dipasupati ya artinya tidak punya kekuatan apapun,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan kolektor sekaligus praktisi, Ali Syahrir. Laki – laki asal Madura ini mengoleksi batu akik hingga permata dan ruby sebanyak 500 buah. “Mendapatkan batu mulia yang bertuah itu tidak bisa sembarangan. Seperti membeli di toko. Contohnya saja, Ada batu yang disebut Mirah Naraya. Sebuah batu mirah yang terbilang sangat langka. Banyak yang menjual, namun tidak satupun dari batu tersebut yang asli. Batu Mirah Narayana ciri - cirinya berwarna hitam bening dan tengahnya ada warna kebiruan, biasanya bersinar kuning. Itu mirah yang sangat langka,” ujarnya.

Syahrir menjadi kolektor batu mulia sembilan tahun yang lalu. Ia percaya setiap batu mulia yang dimilikinya memiliki fungsi dan kegunanaannya sendiri – sendiri. Syahrir  mencontohkan, batu hitam yang biasanya disebut Black Jat. "Sejauh yang saya tahu, Black Jat fungsinya sebagai penangkal racun. Saya sudah membuktikannya sendiri ,” ungkap Syahrir.

Ketika ditanya apakah ada pengalaman mistis ketika mencari batu – batu mulia tersebut? Laki – laki paruh baya tersebut menceritakan dengan bersemangat. “Saya pernah menemukan sebuah batu mulia di pemakaman. Bentuknya lonjong dengan warna yang mengkilat. Anehnya, dari sekian banyak orang hanya saya yang ketika itu melihat batu tersebut. Ketika di cek ternyata sebuah akik yang disebut akik Jamal. Konon, fungsinya sebagai batu keselamatan.  Hingga saat ini saya bawa hampir kemana pun saya pergi,” papar Syahrir. 

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news