Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Mengenal Jenis Kayu Bangunan Menurut Teks Aji Janantaka

28 April 2018, 16: 22: 11 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mengenal Jenis Kayu Bangunan Menurut Teks Aji Janantaka

BOROK: Pohon bekas borok tak baik untuk bahan bangunan. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Konsep Tri Hita Karana pada hakikatnya adalah sikap hidup yang seimbang manusia, aatara memuja Tuhan, mengabdi pada sesama manusia, serta mengembangkan kasih sayang pada alam dan lingkungan. Namun bila salah satu dari konsep Tri Hita Karana tidak di jalankan, maka konsep tersebut akan timpang dan alam pun tidak akan harmonis. Hal itu yang tercantum dalam Teks Aji Janantaka.

Teks Aji Janantaka merupakan lontar yang mengemukakan klasifikasi jenis tumbuhan yang boleh digunakan sebagai bahan dasar bangunan, baik itu untuk tempat suci, maupun rumah hunian. Umumnya teks ini hanya di pelajari oleh orang orang tertentu, seperti para undagi dan rohaniawan. Teks ini dulu terbilang sangat rahasia. Hanya orang tertentu yang mempelajari secara turun-temurun. 

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Program Studi Ilmu Usadha, Fakultas Ayurweda, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Ida Bagus Putra Suta, S.AG. Menurutnya, Lontar aji Janantaka merupakan salah satu teks tutur (ajaran) dalam klasifikasi naskah Bali. Teks tersebut tidak hanya menjelaskan mengenai ajaran ajaran keagamaan. Namun juga menjelaskan pengetahuan mengenai pengobatan atau penyembuhan. Selain itu, banyak sumber yang dapat mengajari tentang penggunaan tumbuh-tumbuhan di sekitar, sebagai media untuk melaksanakan persembahyangan atau membangun tempat suci dan rumah hunian. Salah satunya adalah kitab suci Isa Upanishad.

Baca juga: Pensiun dari Jabatan Dirut PD Pasar, Satwika Yadnya Nyalon DPD

Dalam kitab tersebut digambarkan alam sebagai milik Tuhan tertinggi. Tuhan membuat taman dunia ini. Ajaran suci ini mengajarkan kepada manusia, Tuhan adalah pembuat kebun dunia, untuk menghayati kesucian dan meningkatkan bakti serta terimakasih atas penciptaan dunia. “Kita bisa memperasri dan menanami pekarangan rumah dan taman di pura dengan aneka bunga dan tanaman hias serta tanaman upakara,’ terangnya.

 Tradisi merawat, memelihara taman dan memperasri telajakan (tanah depan rumah) dan teba (taman belakang rumah) adalah tradisi suci yang terwariskan secara turun-temurun di Bali. “Banyak tanaman Bali asli yang kini justru langka. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam upakara tanam tanaman tersebut pasti kita gunakan. Contohnya pudhak sari, sekar soka natar dan trangguli harum. Beberapa jenis pohon tersebut bunganya dapat digunakan sebagai sarana banten. Selama ini, yang kita gunakan hanya bunga pacah saja sebagai bahan dasar canang. Padahal kan bunga yang tumbuh di pekarangan rumah bisa juga kita gunakan,” ujar Suta.

Lebih lanjut dikatakan, dalam  konteks budaya Bali, kasih sayang kepada lingkungan ditransformasikan dalam tindakan yang holistik. Mulai dari menata Parhyangan sebagai tempat umat menjalankan sraddha (keyakinan), dan bhakti (sujud) pada Tuhan. Selanjutnya Pawongan dengan hubungan saling membantu di masyarakat, hingga palemahan. Dalam Teks Aji Janantaka menjelaskan alam memberikan manusia tempat dan sumber penghidupan.  “Nah karena alam telah memberikan manusia tempat untuk tinggal serta sumber penghidupan, maka alam sesungguhnya telah ber-yadnya kepada kita manusia. Karena itu, manusiapun seharusnya wajib beryadnya kepada alam. Caranya? Yaitu dengan menjaga dan melestarikan tanam tanam yang ada di bali. Hal itu terdapat dalam kitab Bhagawangita III, dan disebut Cakra Yadnya,” ujarnya.

Dalam Teks Aji Janantaka tertulis beberapa jenis tumbuhan yang dapat di gunakan sebagai bahan bangunan suci. Di antaranya, pohon Gempinis, Bayur dan Bentawas. Kayu ini boleh digunakan untuk membangun tempat suci dan tempat tinggal. Pasalnya, masuk dalam golongan Taru Tigang Sanak (Pepohonan tiga rumpun). Disebut juga sebagai pohon sakama – kama atau pohon yang dapat digunakan untuk berbagai jenis macam bangunan.

Selanjutnya ada Pohon Taru Sari. Pohon jenis ini, baiknya digunakan sebagai bahan dasar dari pembangunan tempat suci berupa Kamulan. Sementara ada jenis Pohon Piling. Pohon jenis ini diperkenankan untuk menjadi bahan bangunan untuk membangun tempat suci. Terutama tempat suci berupa Piasan, yang umumnya beranda di sanggah merajan

Ada pula Pohon Slampitan , pohon sidhem, pohon Balalu, pohon Miying Katekek, dan pohon juwet. Jenis-jenis pohon ini dapat di gunakan sebagai bahan bangunan berupa tempat penyimpanan padi (lumbung). Sedangkan Pohon Kalikukun, Kalimoko, Klampwak (Jambu Hutan), dan pohon Talicung dapat digunakan sebagai bahan bangunan berupa dapur, sunduk, dan pasak. “Masih banyak lagi jenis pohon yang di anjurkan dalam Teks Janantaka, namun yang sudah biasa digunakan beberapa jenis pohon tersebut. Itu bisa kita jadikan pedoman. Karena akan fatal akibatnya bila kita menggunakan jenis pohon yang sembarang apalagi digunakan untuk tempat suci,” ujarnya.

Ketika ditanya, apa akibatnya jika sembarangan menggunakan bahan dasar kayu dari pohon yang dilarang, Putra Suta menuturkan, Ida Sang Hyang Widhi tidak akan memberkati segala persembahan serta beliau tidak akan berkenan memberikan anugerah, karena di anggap tempat tersebut leteh atau kotor. “Akibatnya karang rumah akan panas. Tempat suci itu dianggap leteh atau kotor. Bahkan dalam kisah Aji Janantaka di jelaskan bagi mereka yang melanggar menggunakan jenis pepohonan yang dikatakan kotor atau cuntaka sebagai bahan dasar dari pembangunan tempat suci, maka pemilik sanggah atau pura tersebut akan mengalami kutukan tidak mendapatkan keselamatan dan kekurangan pangan,” ungkap Suta.

Selain memberikan klasifikasi pepohonan untuk bahan bangunan, teks Aji Janantaka juga memberikan kalsifikasi terhadap pepohonan yang memiliki bunga harum(sekar merik) yang di perbolehkan digunakan sebagai bahan sesajen. “Jadi dalam lontar tersebut ada beberapa pohon bunga yang direkomendasikan digunakan sebagai bahan untuk sesajen. Pohon pohon tersebut biasanya disebut Sekar Madewi,” ujarnya. Berikut pohon bunga yang termasuk dalam Sekar Madewi , yakni Sandat/ kenanga, Kamboja, Canigara, Tigaron, Sebita, Kembang Kuning, Kemoning, Tigakancu, Tampak Bela, Katerangan, Nagasari, Bunga menuh, Jempiring, Pudak sari, Pudak cinaga, Pudhak kalasa, Sekar gambir, Saruni, Mitir, Ratna, Gadung Kasturi. 

(bx/tya/adi/yes/JPR)

 TOP