Jumat, 24 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Begini Makna Asu Bang Bungkem dalam Caru Panca Kelud

01 Mei 2018, 09: 54: 22 WIB | editor : I Putu Suyatra

Begini Makna Asu Bang Bungkem dalam Caru Panca Kelud

ASU : Asu atau Anjing Bang Bungkem tak bisa diganti dengan binatang lain untuk caru. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Umat Hindu di Bali memiliki keyakinan bahwa untuk menjaga keseimbangan alam, dapat dilakukan dengan menggelar upacara Bhuta yadnya yang disebut dengan caru. Berbagai jenis caru pun dipergunakan dengan kurban binatang sebagai sarana upakara, mulai dari caru eka sata, panca sata, panca sanak, panca kelud, dan balik sumpah.

Menurut dosen upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dra. Wayan Murniti, M.Ag, salah satu binatang yang mutlak ada sebagai sarana upakara dalam Caru Panca Sanak dan Panca Kelud, yakni Asu Bang Bungkem. 

Asu Bang Bungkem terdiri dari kata Asu, Bang, dan Bungkem. Asu berarti anjing, sedangkan Bang berarti merah, dan Bungkem berarti diam. Jadi , Asu Bang Bungkem berarti Anjing yang berwarna merah pada badannya, namun moncong mulut dan ekornya berwarna hitam.

“Caru Panca Sanak merupakan caru yang dasarnya adalah panca sato, lalu ditambah dengan satu hewan lagi, yakni Asu Bang Bungkem yang ditempatkan di sebelah neriti (barat daya). Mungkin karena mempergunakan tambahan seekor anjing yang termasuk kaki empat, sehingga disebut catur sanak,” ujar Murniti kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (5/7/2016) lalu.

Lebih lanjut diungkapkan Murniti, khusus untuk caru Anjing Bang Bungkem ini merupakan simbol dari Bhuta Kala yang di bawah kekuasaan Dewa Rudra. Bahkan, dalam Lontar Bhama Kertih penggunaan Asu Bang Bungkem sebagai sarana utama dalam caru Panca Sanak maupun Caru Rsi Gana yang dimaksudkan untuk manyomya (menyeimbangkan)  Bhuta Ulu Kuda yang tempatnya dalam pangider-ider di neriti atau barat daya agar kembali menjadi Sang Hyang Rudra.

“Iki pemahayun karang, awet denya manggih ayu, caru angkus nga, lwirnya:...asu bang bungkem 1, dagingya olah jangkep, wewalungannya wahan sengkwi...katur ring Bhatara Kala, kesaksanan de Bhatara Surya mwah para watek dewata nawasangha, tumut hyangnya make sami...mangkana kramanya, genahe mecaru ri natar wenang.”

Sedangkan merujuk dalam tattwa (filsafat), sambung Murniti, warna hitam pada mulut anjing Bang Bungkem sebagai simbol kekuatan Dewa Wisnu. Warna merah pada bagian badannya sebagai simbol Dewa Brahma. Selain dalam kisah Mahabarata, khususnya bagian Suarga Rohana Parwa, Dharma Wangsa diikuti oleh seekor anjing dikisahkan dapat menempuh perjalanan menuju alam Sunya (moksa).

“Sebisa mungkin, anjing Bang Bungkem yang dipergunakan untuk caru diusahakan usianya sudah dewasa, namun belum memiliki anak. Karena pada umumnya yang dewasa sudah memiliki kekuatan penuh yang dibutuhkan dalam caru,” paparnya.


Murniti menambahkan, jika penggunaan Asu Bang Bungkem sebagai sarana untuk menetralisasi, energi dari negatif menjadi positif, sehingga menjadi seimbang. Bahkan, kekuatan Asu Bang Bungkem untuk menetralisasi energi negatif menjadi positif tidak hanya dipergunakan untuk di pekarangan rumah saja. Melainkan di sebuah daerah, bila mengalami musibah, karang panes, karang tenget, pamali agung, terserang hama untuk lahan pertanian. 


Di sisi lain, Murniti menegaskan jika penggunaan Asu Bang Bungkem merupakan tetadahan (makanan) Bhuta Ulu Kuda. Disebut tetadahan karena dalam prakteknya manusia banyak memiliki keterbatasan untuk menciptakan alam yang harmonis, maka dipakailah penggantinya, yakni Asu Bang Bungkem. “Di sini manusia harus mengerti tentang alam, bahwa bukan hanya manusia saja yang menikmati alam ini, melainkan ada makhluk lain, termasuk hewan dan tumbuhan. Kalau alam tidak dikelola dengan baik, maka akan menimbulkan bencana. Sehingga penggunaan Asu Bang Bungkem sangatlah penting,” ujar Murniti.


Saat ditanya apakah boleh Asu Bang Bungkem diganti dengan hewan lain atau anjing jenis lain? Dengan tegas Murniti mengatakan  tidak boleh digantikan. Menurutnya, selama ini berdasarkan pengalaman belum ada masyarakat yang batal melaksanakan caru karena tak mendapatkan Asu Bang Bungkem.

“Makanya, betapa pun sayangnya terhadap Anjing Bang Bungkem, jika sudah layak menjadi caru, maka harus direlakan. Karena kalau dilarang, maka secara tattwa kita melakukan kesalahan besar akibat menghambat anjing tersebut untuk mendapatkan panyupatan atau penyucian dalam meningkatkan kualitas dan tingkatan hidupnya kelak,” tegasnya.

Untuk mencari Asu Bang Bungkem sebagai sarana upakara, sambung Murniti, memang tidak segampang mencari atau menemui anjing pada umumnya. “Namun, apabila dipergunakan untuk sarana upakara, sudah pasti dapat dimanapun tempatnya. Itulah kehebatan Sang Pencipta. Sekali lagi Asu Bang Bungkem ini memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap alam niskala. Oleh karena itulah kita harus melestarikannya, mengingat kebutuhan akan anjing ini begitu besar di Bali,” paparnya.


Dalam upacara pacaruan, yang dipentingkan dari caru Asu Bang Bungkem adalah kepala yang masih melekat dengan kulitnya (belulang). Sedangkan dagingnya diolah menjadi urab barak, urab putih, sate calon sebanyak 33, dirangkai menjadi tiga tanding, berdasarkan Lontar Bhuta Yadnya. Pun demikian, dalam Lontar Bhama Kertih, mantram yang diucapkan saat penggunaan Asu Bang Bungkem adalah “Pakulun sang bhuta ulu kuda saking kidul, pahing panca waran sira,  iki asu bang bungkem rinancana, makadi runtutannya, tuak sagoca, Bali salyus, enak sira amangan anginum, ring raga, ring sawah, ring pomahan, tukalen kang sasab, mrana kabeh, om sidhi rastu ya namah swaha.”

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia