Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Mengungkap Rasa Maestro Tari Barong Nyoman Raos yang Kini Sakit

03 Mei 2018, 13: 06: 28 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mengungkap Rasa Maestro Tari Barong Nyoman Raos yang Kini Sakit

SEMANGAT : Meski dalam kondisi sakit, Nyoman Raos tetap bersemangat mengajarkan cucunya menari Barong, saat ditemui di kediamannya di Desa Sengguan, Singapadu, Gianyar. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tari Barong kini menjadi ikon dalam berbagai pertunjukan tradisi, khususnya di sejumlah tempat wisata di Bali. Namun, tak banyak yang tau, siapa pencetus serta pelakon dari Tari Barong, dan  bagaimana perjalanan hidupnya membawa kesenian ini hingga ke Negara Tirai Bambu?

I Nyoman Raos, mungkin namanya belum begitu familiar di tengah masyarakat. Maestro asal Desa Sengguan, Singapadu ini, dikenal sebagai salah satu pelopor Tari Barong di Bali. Rekam jejak kehebatannya hingga kini masih terukir, dalam guratan wajah serta tubuh rentanya. Meski sang maestro Barong kini tengah terkulai sakit. Namun, semangat menarinya tak perlu diragukan lagi. Hal itu terlihat dari kesungguhannya untuk terus menari, meski tengah duduk di atas kursi roda.

“Kakek masih rutin berlatih menari setiap pagi dan sore hari. Meskipun kondisinya tengah sakit dan harus duduk di atas kursi roda, namun itu bukan halangan baginya. Dia selalu bersikeras berlatih menggerakan tapel – tapel barong itu, sembari menyenandungkan bunyi gamelannya,” ujar  cucu laki I Nyoman Raos, Made Teguh Pranata yang kini berusia 17 tahun, ketika ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) di kediamannya, pekan kemarin.


I Nyoman Raos terkenal akan gerakan tariannya yang khas,   tubuhnya yang meliuk-liuk, ditambah gerakan kaki yang dinamis membuat aksinya begitu dikagumi. I Nyoman Raos terbilang sukses memainkan ekspresi tapel Barongnya, yang berkedip kedip dan bergeliat manja. Seolah Barong tersebut benar – benar hidup dan tengah menggoda penonton untuk ikut menari. Maestro yang lahir pada tahun 1948 ini, sangat mencintai seni. Seni tari baginya adalah jiwa yang tak pernah bisa ia lepaskan.
Hal itu ia katakan ketika berlatih sembari bersantai di atas kursi rodanya.

"Saya  mulai tertarik dalam bidang seni tari ketika masih duduk di bangku sekolah. Zaman itu, saya masih belajar membaca. Kebetulan di kawasan tempat tinggal banyak yang membuat ukiran tapel Barong. Saya sangat tertarik dan mencoba menggerak gerakannya. Ternyata saya suka, dan justru menciptakan beberapa gerakan tarian baru untuk menari Barong,” ujarnya, sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi roda.


Sore itu, Nyoman Raos terlihat kurang sehat. Meski di dera batuk yang hebat, ia enggan untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Ia justru memilih berbagi kisah hidupnya bersama Bali Express (Jawa Pos Group). “Bagi saya seni adalah jiwa. Biarkan tubuh saya sakit, tapi jiwa tak pernah sakit. Ketika saya menari saya tidak merasakan sakit itu, rasanya lepas,” ujarnya sembari tersenyum.


Dengan sedikit menarik napas, Nyoman Raos melanjutkan cerita hidupnya. Meski ia berhasil menciptakan banyak gerakan baru, namun tak serta merta menjadikannya seorang seniman. “Memang ketika itu saya aktif ikut pentas di sana sini membawakan tari Barong. Namun, setelah tamat sekolah lantaran keadaan memaksa saya untuk masuk dalam kemiliteran. Tahun 1963 saya resmi menjadi anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Dan, sejak saat itulah saya mulai hidup berpindah pindah sesuai mandat yang saya terima,” ungkapnya.


Nyoman Raos mengaku seringkali mengalami pergolakan batin,  antara meneruskan karirnya di kemiliteran atau kembali menikmati damainya dunia seni. Tahun 1965 menjadi titik balik baginya. Ia menyaksikan pertumpahan darah yang terjadi di mana – mana. Pertikaian G-30 S/PKI yang bergolak di seluruh Nusantara membuatnya cemas. “Saya mungkin salah satu saksi hidup dari ribuan orang yang menyaksikan pertumpahan darah ketika itu. Ketika itu, saya masih tugas di Kalimantan. Banyak yang bergelayut di pikiran saya saat itu. Keinginan pulang semakin besar. Kecemasan akan keselamatan keluarga, dan ketakutan menjadi hantu bagi saya saat itu,” ujarnya dengan mata yang  menerawang.


Dua tahun kemudian, Nyoman Raos akhirnya diizinkan kembali. Ia melepaskan pangkat kemiliterannya dan kembali terjun di dunia seni. “Sebelum akhirnya saya benar – benar dibebastugaskan, saya menjalankan misi terakhir saya di Nusa Tenggara Timur. Dan, tahun 1967 akhirnya saya putuskan untuk kembali pulang. Banyak yang berubah di Bali ketika itu. Dan, saya kembali memulai semua dari awal. Saya berjuang keras untuk kembali menari,” tuturnya.


Nyoman Raos mulai sibuk dengan kegiatan menari dari panggung ke panggung. Bahkan, ia tergabung dalam beberapa grup tari berbeda. “Pertama kali saya bergabung di grup tari Tegal Tamu, Batubulan. Di sana saya belajar banyak. Kembali menciptakan gerakan – gerakan baru dan berkarya bersama kawan – kawan. Masih teringat jelas, penghasilan pertama saya ketika itu. Hanya 80 ribu rupiah selama satu bulan. Jadi, pentasnya setiap hari, tapi gajiannya sebulan sekali,” ujarnya sembari tertawa.


Dalam setiap pertunjukan, Nyoman Raos menari bersama 100 orang rekannya dalam grup. Tentunya dengan peran yang berbeda – beda. “Namanya saja tari kolosal. Kalau dulu yang diajak banyak. Bahkan kami memiliki sekaa gong sendiri. Dan, tentu saja peran yang dimainkan pun berbeda beda,” ujarnya. Peran yang dibawakan antara lain kunti sari, barong, tari legong, penasah, celuluk, patih, sahadewa, kelika, rangda, bhuta bhuti, bondres,celeng,garuda, rangda merah, tari keris (ngurek), mangku, dan sekaa gong. “Biasanya kami sering pentas di Waribang, Uluwatu, dan Ubud. Meskipun bergaji kecil, namun saya cukup senang bisa kembali menari. Rasanya sangat puas,” ungkapnya.


Nyoman Raos juga bercerita soal pengalaman lucu ketika tengah menari Barong di Ubud. “Ketika pertunjukan tengah berlangsung, tiba – tiba ada seorang bule berkebangsaan Prancis naik ke atas panggung. Posisi tapel Barong saya ketika itu menganga, dan ia memasukkan beberapa lembar uang dolar ke mulut tapel Barong. Ia tersenyum dan kembali turun. Sejak itu, ada tradisi 'ngemaang saluukan'. Katanya mereka percaya akan membawa rezeki, jika memasukkan uang ke dalam mulut Barong. Seperti halnya tradisi Barong Sai,” ungkapnya terkekeh.


Ketika ditanya apa yang membedakan tarian Barong yang ia bawakan dengan tari Barong lainnya? Laki – laki tujuh puluh tahun itu melempar senyum. “Yang membedakan ya rasa. Rasa dan penjiwaan akan membuat tarian itu terlihat berbeda. Karena dalam tarian Barong kita banyak berimprovisasi. Meliukkan tapelnya, membuat ia seolah merayu dan memanja. Jadi, bukan penari yang mengikuti ketukan gamelan. Tapi sebaliknya, gamelan yang harusnya mengikuti gerak tarian. Ketika penarinya bergerak energik, otomatis gamelannya juga harus dinamis,” ujarnya. 


Ketika digali lebih dalam lagi, ayah dari lima orang anak ini terlihat semakin bersemangat. Ia bercerita tentang penglaman mistisnya menarikan tarian Barong yang telah dipasupati. Raos mengaku pernah nyalukin  Barong yang telah dipasupati  dalam piodalan sebuah pura di kawasan Batubulan. " Tapel Barong itu beratnya berkisar antara 80 kg hingga 100 kg. Itu baru tapelnya, belum lagi aksesoris body Barongnya. Ketika pertama mencoba, saya merasa itu sangat berat. Saya takut nanti tidak bisa menari karena bebannya berat.  Akhirnya pemangkunya memberi saran, untuk nunas panugerahan kepada yang malinggih di pura tersebut. Dan, benar saja, beban tapel yang tadi sangat terasa berat tiba – tiba menjadi sangat ringan,” paparnya.


Menari membawa Nyoman Raos melanglang buana hingga ke penjuru dunia. Bahkan, hingga membawanya mengajar ke Negeri Tirai Bambu.  Tak hanya lokal Bali, ternyata banyak wisatawan asing yang tertarik belajar menari dengannya. “Waktu tahun 1987, saya diboyong oleh Kementerian Pariwisata untuk mengajar menari barong di Jepang. Selama dua minggu saya tinggal di Osaka untuk mengajar. Murid saya ketika itu hanya 12 orang, dan kami betul – betul menikmati sesi latihannya,” ujar Nyoman Raos. Hampir dua pekan ia melatih ke 12 muridnya dengan disiplin. Dan, ketika hari terakhir di sana, ke 12 muridnya menggelar pertunjukan Calonarang yang ditujukan khusus untuknya. “Pertunjukan hari terakhir mereka sangat indah. Saya benar – benar terkesan,” pungkasnya.

Paska serangan struk ringan yang menimpa dirinya setahun yang lalu, membuat I nyoman Raos kini sungguh tak berdaya. Kondisinya yang cukup memprihatinkan, tak membuatnya patah arang. Justru kini ia tengah mempersiapkan cucu laki – laki nya untuk meneruskan tonggak estafet miliknya. Made Teguh Pranata, mengaku cukup senang dapat meneruskan jiwa seni kakeknya. Sejak umur 12 tahun ia mulai ikut pentas dari satu panggung ke panggung lainnya. “Saya tidak pernah merasa terpaksa menggantikan kakek. Saya senang melakukan ini! Tentunya setelah pulang sekolah, jadi tidak mengganggu pelajaran,” ungkap siswa kelas 2 SMA ini.

Paska Nyoman Raos terkena struk, Teguh memang aktif menggantikan kakeknya menggelar pertunjukan tari barong di Ubud. Bahkan, laki – laki 17 tahun ini mengungkapkan keinginannya untuk dapat terus menari. “Terus terang, waktu pertama kakek sakit. Saya tak tahu apakah saya berani untuk tampil tanpa kakek. Namun semakin kesini saya justru sangat menikmatinya. Kakek adalah idola bagi saya. Beliau yang mengajarkan dan membawa saya hingga seperti sekarang,” ungkapnya.


Ketika ditanya adakah pengalaman berkesan selama membawakan tarian barong, siswa kelas dua SMA ini tersenyum malu – malu. “Waktu kemarin di undang untuk acara pembukaan acara internasional di Nusa Dua, saya lupa membawa bagian bawah kostum barongnya. Waktunya mepet, jadi kalau mau ngambil pulang sudah tidak mungkin. Jadi saya terpaksa berbagi celana sama pemeran celuluk atau rangdanya. Jadi pakenya giliran,” ujarnya sembari tertawa.


Teguh juga mengungkapkan kedepannya, ia ingin mampu mengumpulkan rejeki dari kegiatan menarinya untuk dapat mengobati sang kakek. “Saya berharap kakek cepat pulih dan bisa satu panggung lagi. Saya juga mulai menabung untuk biaya pengobatan kakek,” ujarnya. 

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia